Umat islam selalu membanggakan agamanya sebagai agama monoteisme sejati. Berdasarkan rasa bangga ini pula, tak sedikit umat islam mengklaim agamanya pancasilais, yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila pertama. Konsep monoteisme dalam islam dikenal dengan tauhid. Islam adalah agama tauhid. Sementara agama lain diragukan ketauhidannya. Dasar ketauhidan islam ada pada ajaran islam yang terdapat dalam Al-Qur’an. Berhubung Al-Qur’an diyakini sebagai wahyu yang langsung dari Allah, maka konsep tauhid adalah benar. Akan tetapi, telaah atas ayat-ayat tauhid yang ada dalam Al-Qur’an membuat penilaian kita terhadap konsep tauhid islam jadi terang benderang. Video berikut ini mencoba menampilkan dan membahas ayat-ayat tauhid yang ada dalam Al-Qur’an. (Jika tak bisa dibuka, silahkan klik di sini). Ulasan ini menggunakan metode akal sehat.
Jumat, 06 Mei 2022
Kamis, 05 Mei 2022
INILAH KONSEP PERAN SEKS BAGI ORANG DEWASA
Manusia adalah makhluk seksual. Akan tetapi peran
seksual akan selalu berbeda dari satu manusia ke manusia yang lain berdasarkan
jenis kelamin dan juga tingkatan usia. Dalam PSIKOLOGI PERKEMBANGAN:
Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), Elizabeth
B. Hurlock memberikan pemaparannya
(hlm. 267) sebagai berikut:
Konsep Trandisional
Konsep peran seks tradisional menekankan suatu pola perilaku tertentu yang
tidak memperhitungkan minat dan kemampuan individual. Peran-peran ini
menekankan superioritas maskulin dan tidak dapat mentolerir setiap sifat yang
memberi kesan kewanitaan atau pekerjaan yang dianggap “pekerjaan wanita”.
Pria
Di luar rumah pria menduduki posisi yang berwenang dan berprestise dalam
masyarakat dan dunia bisnis, di rumah ia pencari nafkah, pembuat keputusan,
penasehat dan tokoh yang mendisiplinkan anak-anak, dan model maskulinitas bagi
putera-puteranya.
Wanita
Baik di rumah maupun di luar, peran wanita berorientasi pada orang lain.
Maksudnya, wanita mendapatkan kepuasan lewat pengabdian pada orang lain. Ia
tidak diharapkan bekerja di luar rumah, kecuali bilamana keadaan finansial
memaksanya, dan apabila ini terjadi ia melakukan pekerjaan di bidang pelayanan
seperti sebagai perawat, guru atau sekretaris.
Konsep Egalitarian
Konsep-konsep egalitarian (persamaan derajat) menekankan
individualitas dan persamaan derajat antara pria dan wanita. Suatu peran harus
mendatangkan rasa kepuasan pribadi dan seharusnya tidak dinyatakan cocok hanya
bagi satu jenis kelamin tertentu saja.
Pria
Di rumah maupun di luarnya, pria bekerja sama dengan wanita sebagai rekan.
Ia tidak merasa “dijajah isteri” apabila ia memperlakukan isterinya sebagai
rekan yang sederajat. Begitu pula ia tidak merasa malu jika isterinya mempunyai
pekerjaan yang lebih berprestise atau berpenghasilan lebih besar dari dia.
Wanita
Di rumah maupun di luarnya, wanita mendapat kesempatan mengaktualisasikan potensinya. Ia tidak merasa bersalah apabila ia memanfaatkan kemampuannya dan pendidikannya untuk kepuasan dirinya meskipun ini berarti ia harus mengupah orang lain untuk mengatur rumah tangga dan mengasuh anak.
diambil dari tulisan 7 tahun lalu
JANGAN BAWA-BAWA TRAUMA MASA LALU KE MASA KINI
Selama ini Ruben melatih sendiri mengendarai mobil. Ia berlatih di halaman
rumah yang memang luas. Karena sudah merasa bisa, Ruben coba memberanikan diri
membawa mobil di jalanan. Awalnya ia merasa nyaman. Kebetulan hari itu hari
Minggu. Jalanan sepi. Ia dapat dengan tenang mengendarai mobilnya.
Pengalaman hari Minggu itu membangkitkan rasa percaya diri Ruben. Karena
itu, ia memutuskan hari Senin ia akan mencoba sekali lagi. Itulah hari naas
baginya. Ia mengalami kecelakaan. Ia menambrak pengendara sepeda motor dan
turut andil menyebabkan terjadinya kecelakaan lain. Akibat kecelakaan itu, dua
orang tewas, 4 orang luka-luka, mobilnya rusak parah dan dia sendiri sibuk
berurusan dengan polisi.
Peristiwa itu menimbulkan ketakutan dalam hati Ruben terhadap mobil atau
mengendarai mobil. Melihat mobil saja ia sudah keringat dingin, apalagi
menaikinya. Sejak saat itu, Ruben tidak pernah naik mobil ataupun mengendarai
mobil. Tidak ada niat dalam dirinya untuk belajar lagi.
Pengalaman Ruben adalah contoh rasa trauma. Hampir setiap orang pasti
memiliki rasa trauma. Pengalaman traumatis dapat menyebabkan timbulnya fobia.
Ada orang fobia pada ular, karena pada waktu masih kecil ia mengalami ketakutan
berhadapan dengan ular. Ada juga orang fobia pada air tergenang, karena dulu ia
nyaris mati tenggelam di kolam renang. Dan masih banyak fobia-fobia lainnya.
Pengalaman traumatis atau juga fobia selalu dikaitkan dengan peristiwa masa
lalu. Orang belum bisa berdamai dengan masa lalu tersebut sehingga pengalaman
itu terbawa hingga masa sekarang. Rasa traumatis selalu muncul ketika
pengalaman buruk masa lalu kita bawa ke masa kini. Sekalipun masa kini sudah
jauh berbeda, namun orang masih tetap hidup dalam masa lalu berkaitan dengan
peristiwa khusus yang menjadi faktor timbulnya rasa trauma.
Memang manusia memiliki tiga masa waktu, yaitu masa lampau, masa sekarang
dan masa depan. Masa lampau merupakan sejarah, sedangkan masa depan adalah
impian. Manusia yang hidup dalam dua masa – masa kini dan masa lalu – akan
mengalami kesulitan dalam bersosialisasi. Rasa trauma dan juga fobia dapat
menghambat perkembangan pribadi seseorang. Berbeda bila manusia hidup dalam
masa kini dan masa depan. Masa depan akan menjadi motivator perkembangan
dirinya.
Rasa trauma memang merupakan bagian dari hidup kita. Ia tidak bisa begitu saja dihilangkan dari sejarah hidup kita. Akan tetapi, rasa trauma itu adalah bagian dari masa lalu kita. Ingatlah, sekalipun masa lalu kita itu buruk, kita hidup di masa kini. Tataplah hidup kita di masa depan. Ke sanalah kita akan melangkah. Letakkanlah pengalaman traumatis itu pada tempatnya, yaitu di masa lalu.
diambil dari tulisan 7 tahun lalu