Sekalipun umat islam selalu membanggakan kitab sucinya sebagai wahyu yang langsung dari Allah, namun tetap harus diakui kalau Al-Qur’an itu mempunyai cita rasa Yahudi-Kristen. Nyaris separuh isi Al-Qur’an adalah pengulangan kisah-kisah yang ada dalam tradisi Yahudi-Kristen. Dan sayangnya, meski pengulangan tetap saja terjadi penyimpangan. Artinya, pengulangan yang terdapat dalam Al-Qur’an tidak sesuai dengan isi kitab suci Yahudi dan Kristen. Salah satu ketidak-sesuaian itu adalah gelar Daud dan Salomo. Video berikut ini mencoba mengulas topik ini dengan pendekatan akal sehat (Jika tak bisa dibuka, silahkan klik di sini).
Senin, 18 April 2022
Minggu, 17 April 2022
SEJARAH DAN MAKNA TELOR PASKAH
Merayakan paskah tak bisa dilepaskan dari keberadaan telur paskah. Di
beberapa paroki ada tradisi mencari telur paskah setelah perayaan misa Paskah.
Tradisi ini umumnya dikhususkan untuk anak-anak, meski para orangtua tak mau
ketinggalan membantu anaknya dalam pencarian itu. Biasanya telur-telur yang
dicari itu terlebih dahulu dihiasi. Ada juga paroki yang menyelenggarakan lomba
menghiasi telur paskah.
Tentu kita akan bertanya apa kaitan antara telur dengan hari raya paskah?
Sejak kapan tradisi telur paskah ini ada di Gereja?
Sejarah Telur Paskah
Tentang awal mula tradisi telur paskah ini tidak diketahui pasti. Kitab
Suci sendiri tidak pernah menyinggung soal telur berkaitan dengan peristiwa
kebangkitan Yesus Kristus. Namun tradisi telur ini bisa dilihat dari tradisi
kesuburan kaum Indo-Eropa dan Persia. Waktu
itu orang biasa saling memberi telur sebagai hadiah. Telur dilihat sebagai
simbol musim semi.
Bangsa Romawi mempunyai pepatah yang berbunyi, “Semua kehidupan berasal dari telur.” Mirip dengan pepatah ini, di kebanyakan budaya, telur dilihat sebagai lambang kelahiran dan kebangkitan. Melihat nilai-nilai yang terkandung dalam telur ini, pada abad kedua, Gereja mulai merayakan kebangkitan Kristus dengan menggunakan simbolisasi telur. Orang Kristen Mesopotamialah yang mempopulerkan pembagian telur kepada sesama pada perayaan paskah sebagai kenangan akan kebangkitan Kristus.
Jumat, 15 April 2022
KAJIAN ISLAM ATAS SURAH ALI IMRAN AYAT 65
Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil diturunkan setelah dia (Ibrahim)? Apakah kamu tidak mengerti? (QS 3: 65)
Tak bisa dipungkiri bahwa umat islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad, yang kemudian ditulis di atas kertas. Sekalipun ada di kertas, tapi umat islam yakin bahwa itu adalah kata-kata Allah sendiri. Karena Allah itu suci, maka kertas yang ditulisi perkataan Allah adalah suci juga. Maka dari itu, tak heran ketika ditemukan lembaran-lembaran Al-Qur’an di tempat sampah, yang sebagiannya sudah terbakar, umat islam merasa marah. Hal itu dilihat sebagai bentuk penghinaan terhadap Allah. Allah sendiri sudah meminta umat islam untuk membunuh mereka yang menghina-Nya (QS al-Maidah: 33).
Dasar keyakinan umat islam bahwa Al-Qur’an merupakan
wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad adalah perkataan Allah
sendiri. Allah sudah mengatakan bahwa Al-Qur’an itu berasal dari diri-Nya.
Berhubung Allah itu mahabenar, maka apa yang dikatakannya juga adalah benar.
Mana mungkin Allah yang mahabenar itu berbohong? Tak mungkin Al-Qur’an itu ciptaan manusia, karena manusia bisa
berbohong. Logika pikir orang islam kira-kira begini: bahwa Al-Qur’an itu wahyu
Allah karena Allah sendiri yang mengatakannya adalah benar, sebab Allah itu
mahabenar yang tak bisa salah.
Dari premis di atas haruslah
dikatakan bahwa kutipan ayat di atas merupakan perkataan Allah. Namun harus disadari,
kutipan ayat 65 ini tidak bisa dipisahkan dari ayat sebelumnya. Jika tanpa ayat
64, maka pembaca akan melihat bahwa wahyu Allah ini tidak langsung disampaikan
kepada Muhammad tetapi kepada Ahli Kitab. Dalam ilmu islam yang dimaksud dengan
Ahli Kitab ini adalah kelompk orang yang telah diberikan kitab oleh Allah.
Mereka adalah orang Yahudi dan Nasrani. Apa yang tertulis dalam ayat 65 ini
merupakan kata-kata Allah yang disampaikan kepada Muhammad untuk diteruskan
kepada Ahli Kitab. Di sini Allah mempertanyakan sikap orang Yahudi dan Nasrani
yang saling bertengkar soal Ibrahim (atau Abraham). Apa yang dipertengkarkan
oleh orang Nasrani dan Yahudi ini? Untuk memahami hal ini, pembaca diharuskan
membaca ayat-ayat sesudahnya. Jadi, tidak bisa berhenti hanya di ayat 65 saja.
Jawaban atas pertanyaan soal apa yang dipertengkarkan ada dalam ayat 67. Dalam
ayat ini tampak jelas sepertinya orang Yahudi dan Nasrani saling memperebutkan
status Ibrahim dalam agamanya. Orang Yahudi bilang bahwa Ibrahim adalah orang
Yahudi, sedangkan orang Nasrani mengatakan Ibrahim itu orang Nasrani.
Akan tetapi, Allah menegaskan kepada orang Yahudi dan Nasrani, melalui mulut Muhammad, bahwa Ibrahim itu bukan orang Yahudi dan bukan pula orang Nasrani, tetapi orang Muslim. Jika direnungkan dengan akal sehat yang jernih, maka jawaban Allah ini (ayat 67) sebenarnya bukanlah jawaban, melainkan pernyataan baru yang menegaskan keterlibatan-Nya dalam pertengkaran awal. ini mirip pertengkaran 2 anak kecil tentang ayah siapa yang paling hebat. masing-masing anak tentu menjagokan ayahnya. Lantas muncul anak ketiga, melerai keduanya dengan mengatakan bahwa ayah yang paling hebat itu adalah ayahnya. Tentu ini bukan jawaban, karena dia memasukkan diri dalam pertengkaran baru lagi. Itulah yang terjadi dalam persoalan kutipan wahyu di atas.