Umat non muslim sering disodorkan slogan indah nan menarik tentang islam: rahmatan lil alamin. Seperti bunyi iklan suatu produk, kerap antara kata dan kenyataan jauh panggang dari api. Dengan kata lain, isi produk tidak sesuai dengan bunyi iklannya. Begitulah dengan islam. Video berikut ini memaparkan perbandingan ayat-ayat cinta dan ayat-ayat perang dalam Al-Qur'an. Dari perbandingan tersebut kita bisa menilai seperti apa islam itu. Langsung saja tonton videonya. Jika tak bisa diputar, coba klik di sini.
Minggu, 13 Februari 2022
Sabtu, 12 Februari 2022
Renungan Hari Minggu Biasa VI – C
Renungan Hari Minggu Biasa VI, Thn C
Bac
I Yer 17: 5 – 8; Bac II 1Kor 15: 12, 16 – 20;
Injil Lukas 6: 17, 20 – 26;
Dalam
bacaan Injil hari ini Yesus menyampaikan sabda bahagia dan sabda celaka. Mulai ayat
20 – 23, Yesus menyampaikan sabda bahagia, sedangkan dalam 3 ayat berikutnya
merupakan sabda celaka. Jika direfleksikan kedua sabda ini, pesan yang mau
disampaikan adalah orang yang berbahagia adalah orang yang mengandalkan Tuhan,
sedangkan yang celaka adalah orang yang mengandalkan diri sendiri. Secara eksplisit
Yesus memberi contoh untuk orang yang berbahagia, yaitu para nabi (ay. 23). Para
nabi adalah mereka yang selalu mengandalkan hidupnya pada penyelenggaraan
ilahi. Mereka percaya pada belas kasih Allah. Untuk contoh orang yang celaka
adalah nabi-nabi palsu (ay. 26). Sekalipun berstatus “nabi” tapi palsu, mereka
berkarya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, mencari kepuasan dan
mengandalkan kekuatan sendiri.
Apa yang
diwartakan Yesus dalam Injil sejalan dengan warta nabi Yeremia. Dalam bacaan
pertama Yeremia menyampaikan warta kutukan dan warta berkat. Jadi, sangat mirip
dengan warta Yesus. Hanya beda istilah saja. Siapa yang dikutuk dan siapa yang
diberkati menurut Yeremia? Sama seperti warta Yesus, Yeremia mengatakan bahwa
mereka yang mengabaikan Tuhan dan mengandalkan kekuatan sendiri adalah terkutuk
(ay. 5), sedangkan yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan pada-Nya adalah
terberkati (ay. 7).
Paulus
dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus juga mempunyai pesan yang
kurang lebih sama. Dalam bacaan kedua, Paulus menekankan tentang kebenaran
iman, yaitu “bahwa Kristus telah bangkit dari antara orang mati, sebagai yang
sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” (ay. 20). Paulus meminta jemaat
untuk berpegang teguh pada kebenaran iman ini, jangan pada kebenaran palsu. Dapat
dipastikan jika berpegang pada kebenaran iman, maka keselamatan menghampiri
kita, tapi jika sebaliknya, maka kebinasaanlah yang datang.
Bahagia
dan celaka, berkat dan kutuk atau selamat dan binasa merupakan bagian dari
hidup. Jika dihadapkan pada manusia, tentulah pilihannya adalah bahagia, berkat
dan selamat. Tak ada manusia suka akan celaka, kutuk dan binasa. Setiap manusia
akan berusaha untuk menghindarinya. Namun, sejauh mana manusia setia berupaya
mewujudkan bahagia, berkat dan selamat? Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita
bahwa kebahagiaan, berkat dan keselamatan akan ada bila kita benar-benar
mengandalkan penyelenggaraan ilahi dalam hidup. Dengan kata lain, kita tidak
pernah melupakan Tuhan.
Jumat, 11 Februari 2022
TELAAH ISLAM ATAS SURAH MUHAMMAD AYAT 7
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS 47: 7)
Umat islam yakin bahwa Al-Qur’an merupakan firman yang berasal dari Allah
sendiri. Firman itu disampaikan secara langsung kepada nabi Muhammad SAW (570 –
632 M). Berhubung Muhammad adalah seorang yang tidak bisa membaca dan menulis,
maka setelah mendapatkan firman Allah itu dia langsung mendiktekan kepada
pengikutnya untuk ditulis. Semua tulisan-tulisan itu kemudian dikumpulkan, dan
jadilah kita yang sekarang dikenal dengan nama Al-Qur’an. Karena itu, apa yang tertulis dalam
Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah sendiri. Tak heran bila umat islam
menganggap kitab tersebut sebagai sesuatu yang suci, karena Allah sendiri
adalah mahasuci. Penghinaan terhadap Al-Qur’an adalah juga penghinaan terhadap Allah, dan orang yang melakukan hal
tersebut wajib dibunuh. Ini merupakan kehendak Allah sendiri, yang tertuang
dalam surah al-Maidah:
33.
Keyakinan umat islam bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah didasarkan
pada firman Allah sendiri. Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an, yang merupakan
perkataan Allah, yang mengatakan hal tersebut. Al-Qur’an diturunkan agar
menjadi petunjuk bagi umat islam. Setiap umat islam wajib mengikuti apa yang
dikatakan dalam Al-Qur’an. Untuk kemudahan ini maka sengaja Allah mudahkan
Al-Qur’an untuk peringatan (QS al-Qamar: 17). Dengan kata lain, Al-Qur’an adalah
kitab yang sudah jelas dan mudah dipahami.
Berangkat dari keyakinan umat islam ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan merupakan perkataan Allah. Apa yang tertulis di atas, kecuali yang ada dalam tanda kurung, merupakan kata-kata Allah sendiri yang disampaikan kepada Muhammad. Jadi, wahyu Allah aslinya tanpa tambahan kata “agama”. Aslinya wahyu Allah berbunyi, “....Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu ....” Dapat dipastikan kata “agama” merupakan tambahan kemudian oleh tangan-tangan manusia. Kenapa harus ada tambahan itu? Apa maksud dan tujuannya?