Senin, 10 Januari 2022

SEBAB-SEBAB UMUM PERTENTANGAN KELUARGA SELAMA MASA REMAJA

Tentu kebanyakan orangtua bingung menghadapi perubahan sikap anaknya. Ketika masih usia kanak-kanak, mereka terbilang penurut, namun memasuki usia remaja mereka suka melawan. Tak jarang konflik pun kerap terjadi, mewarnai kehidupan rumah tangga. Kenapa hal itu bisa terjadi? Sebagaimana dilansir dari buku PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), Elizabeth B. Hurlock menyebutkan beberapa faktor penyebab umum (hlm. 233).

Standar Perilaku

Remaja sering mengangap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda dan standar perilaku orang tua yang kuno harus menyesuaikan diri dengan yang modern.

Metode Disiplin

kalau metode disiplin yang digunakan orang tua dianggap “tidak adil” atau “kekanak-kanakan”, maka remaja akan memberontak. Pemberontakan yang terbesar terjadi dalam keluarga di mana salah satu orang tua lebih berkuasa daripada yang lainnya, terutama bila ibu yang mempunyai kekuasaan terbesar. Sebaliknya, dalam hubungan perkawinan yang sederajat jumlah pemberontakan tidak terlampau banyak.

Hubungan dengan Saudara Kandung

Remaja mungkin menghina adik-adiknya dan membenci kakak-kakaknya sehingga menimbulkan pertentangan dengan mereka dan juga dengan orang tua yang dianggap bersikap “pilih kasih”.

Merasa Menjadi Korban

Minggu, 09 Januari 2022

STUDI AL-QUR'AN: PROSES JADINYA MANUSIA MENURUT AL-QUR'AN

Al-Qur'an adalah wahyu Allah. Apa yang tertulis di dalamnya adalah perkataan Allah sendiri. Karena Allah itu maha benar, maka benar juga apa yang dikatakan-Nya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur'an adalah benar. Bagi umat islam, Al-Qur'an dikatakan Allah sebagai pelajaran. Ada banyak pelajaran di dalamnya. Salah satunya adalah pelajaran biologi tentang proses jadinya manusia. Bagaimana proses jadinya manusia menurut Al-Qur'an? Langsung saja simak video ini. Jika tak bisa dibuka, silahkan coba di sini.



Jumat, 07 Januari 2022

PROBLEMATIK AL-QUR’AN

 


Akar permasalahan Al-Qur’an adalah paham Al-Qur’an sebagai wahyu yang langsung dari Allah, bebas dari tangan-tangan manusia. Apa yang tertulis di dalamnya diyakini sebagai kata-kata Allah sendiri. Keyakinan ini didasarkan pada perkataan Allah sendiri. Allah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu-Nya. Memang harus diakui juga Al-Qur’an yang ada saat ini tidak sepenuhnya merupakan kata-kata Allah. Setidaknya ada 2 indikasi itu. Penomoran ayat harus diterima sebagai tambahan kemudian yang berasal dari manusia. Tak mungkin saat menyampaikan firman-Nya, Allah menyebut juga nomor ayat. Selain itu, adanya tambahan kata atau frase, yang ditulis dalam tanda kurung, juga harus dipahami sebagai tambahan dari tangan-tangan manusia. Dua hal ini sudah menjadi problem bagi Al-Qur’an. Jika umat islam biasa menilai kitab suci orang Kristen sudah tak asli karena ada campur tangan manusia, maka dengan cara yang sama haruslah dikatakan juga bahwa Al-Qur’an sudah tak asli lagi.

Karena Al-Qur’an diyakini sebagai wahyu Allah, umat islam percaya bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang benar, jelas dan sempurna. Dasarnya adalah Allah yang mewahyukannya adalah mahabenar, mahatahu, mahateliti dan maha sempurna. Akan tetapi, justru di sini menjadi titik problem Al-Qur’an. Kejelasan dan kebenaran Al-Qur’an patut diragukan bila dihadapkan pada kajian ilmu-ilmu pengetahuan.

Kata ganti Allah dalam ilmu linguistik. Dalam Al-Qur’an terdapat 4 kata ganti Allah, selain ALLAH sendiri, yaitu AKU, KAMI, DIA, ENGKAU. Memang, selain keempat kata ganti itu, masih bisa juga ditemui kata ganti kepunyaan, seperti –KU dan –NYA. Pertama-tama harus dipahami bahwa Allah yang berbicara memakai kata AKU, KAMI, DIA dan ENGKAU, sebagai ganti Allah. Kata “Aku” tentulah dapat dipahami sebagai Allah yang berbicara, tapi tidak dengan kata “Dia” dan “Engkau”. Dua kata ini hendak menunjukkan Allah yang lain, yang bukan sedang berbicara. Sementara itu telaah atas kata “Kami” ditemukan bahwa kata itu merupakan bentuk jamak, yang merujuk pada AKU dan DIA. Jadi, dari kajian linguistik atas kata ganti Allah ini dapat dijumpai 2 kesimpulan berikut: Allah islam lebih dari SATU, yaitu Allah yang berbicara dan Allah lain yang disebut oleh Allah yang berbicara. Jika umat islam bersikukuh mengatakan Allahnya SATU, maka haruslah dikatakan Allah itu tidak konsisten dan tak jelas.