Rabu, 29 Desember 2021
Selasa, 28 Desember 2021
REMISI HUKUM, ANTARA HAK DAN RASA KEADILAN
Sebagaimana biasanya, menyambut hari raya keagamaan, pemerintah, melalui
Kementerian Hukum dan HAM, memberikan remisi kepada para narapidana yang
merayakan hari raya itu. Remisi adalah pengurangan masa hukuman yang
berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Bisa dikatakan bahwa
remisi itu diberikan kepada narapidana yang telah memenuhi persyaratan yang
berlaku.
Remisi adalah HAK para narapidana yang sudah memenuhi ketentuan
perundang-undangan. Hak itu didapat karena ia sudah memenuhi atau menjalani
kewajibannya. Jadi, jika seorang terpidana telah menjalani kewajibannya, maka
pihak yang bertanggung jawab atas remisi mutlak harus memberinya. Menahan
remisi seseorang terpidana merupakan sebuah kejahatan dan pelanggaran.
Akan tetapi, di satu sisi pemberian remisi dinilai oleh sebagian orang
sebagai tindakan yang melukai rasa keadilan publik. Hal inilah yang sedang
hangat-hangatnya diberitakan. Menyambut hari raya Natal, Menteri Hukum dan HAM
memberikan remisi kepada para narapidana. Di antaranya ada beberapa terpidana
kasus korupsi. Sontak publik merasa gerah.
Sebenarnya tindakan memberi remisi ini, termasuk kepada terpidana korupsi,
bukan baru kali ini saja. Awal Agustus lalu Kemenkum dan HAM juga memberi
remisi kepada ratusan napi korupsi sebagai hadiah Idul Fitri.
Banyak orang melihat bahwa pemberian remisi tidak akan menimbulkan efek
jera dalam melakukan tindak kejahatan, termasuk korupsi. Di samping itu,
pengurangan masa hukuman telah melukai rasa keadilan masyarakat. Para terpidana
telah melakukan kejahatannya dengan niat dan kesadaran, dan kejahatan mereka
tentulah berdampak buruk bagi masyarakat. Semestinya mereka mendapat hukuman
yang berat sehingga mereka bertobat.
Namun di sisi lain pemberian remisi adalah sebuah kewajiban karena remisi itu merupakan hak setiap narapidana yang dilindungi undang-undang. Tentu kemenkum dan HAM sadar akan hal ini. Sebagai orang hukum, ia musti taat pada ketentuan undang-undang. Adalah ironis jika ia menindak orang yang melanggar undang-undang sementara ia sendiri melanggar undang-undang.
Senin, 27 Desember 2021
PENGANTAR INJIL YOHANES
Sekilas ketiga Injil pertama membuat kita meremehkan karya dan keterampilan para penulisnya. Visi apa saja yang ingin mereka sampaikan tentang Penebus, disampaikannya secara sederhana dengan menggunakan kesaksian saksi-saksi mata sehingga kita sering merasa seolah-olah kita sendiri melihat dan mendengar Yesus secara langsung. Kalau kita membandingkan Injil Yohanes dengan Injil-injil sinoptik, maka Injil Yohanes sangat berbeda. Kitab ini telah menjalani proses pematangan dengan bertambahnya umur Yohanes. Pengalamannya sebagai rasul menggerakkan dia untuk terus-menerus menginterpretasikan kehadiran Yesus yang telah bangkit dalam Gereja.
Yohanes tidak membiarkan kita mengabaikan tujuannya. "Ini telah
ditulis supaya kamu percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah" (Yoh 20:31).
Iman Gereja mewartakan Yesus sebagai Putra Allah. Tetapi bagaimana kita
mengartikan istilah ini? Sekalipun kebangkitan Yesus telah menampakkan bahwa
Dia adalah pribadi ilahi, kita masih bisa bertanya bagaimana dan sejak kapan
Yesus menjadi Putra Allah dan sejauh mana Ia diidentifikasikan dengan Allah.
Injil Yohanes menegaskan dengan jelas bahwa Yesus selalu ada bersama Allah
sejak keabadian. Penegasan tentang asal usul Yesus membantu kita untuk memahami
keseluruhan karya Yohanes. Putra Allah yang abadi dan yang telah menjadi
manusia tidak datang hanya untuk mengajar kita bagaimana kita dapat memperbaiki
diri kita, tetapi juga untuk mentransformasikan seluruh ciptaan menjadi ciptaan
baru.
Yohanes tidak menyusun Injilnya dari nol. Di sini kita menemukan lebih
banyak saksi dan juga keterangan-keterangan yang telah dikonfirmasikan
dibanding dengan Injil-Injil lain. Tetapi, Yohanes tidak membatasi diri pada
ingatannya sendiri. Dengan berlalunya waktu, ia mengungkapkan dan mengembangkan
sabda-sabda Yesus dengan mengarang wejangan-wejangan di mana Yesus "dengan
bantuan Yohanes" berbicara kepada kita secara aktual.
Injil Yohanes itu kontroversial karena semakin murni suatu kebenaran,
semakin sedikit pula orang yang bisa menerimanya. Oleh karena itu, Injil ini
menimbulkan kontroversi-kontroversi di dalam Gereja sendiri tetapi kemudian
Injil ini diakui sebagai sabda Allah dan sebagai kesaksian apostolik.
Maka InjiI Yohanes ditulis, lalu ditulis ulang dan sangat mungkin baru
diterbitkan sesudah kematian penulisnya, sekitar tahun 95 sesudah Masehi,
sebagaimana diisyaratkan oleh satu alinea kecil yang ditambahkan pada akhir
Injil. Dalam karangan terakhir ini, tampaknya Yohanes mengorganisir Injilnya
seputar tiga kali perayaan Paskah yang terjadi semasa hidup Yesus di depan
umum.
Di sini kita menemukan suatu unsur penting untuk memahami pikiran Yohanes.
Ia menyelesaikan Injilnya dua puluh tahun sesudah jatuhnya Yerusalem dan Bait
Allah ke dalam tangan tentara-tentara Roma. Seperti Paulus, Yohanes mengetahui
bahwa kebangkitan Yesus membuka suatu zaman baru. Wahyu kepada bangsa Yahudi
dan Liturgi besar di dalam Bait Allah adalah bagian dari masa lampau, tetapi
dalam perjanjian pertama, yang sekarang disebut Perjanjian Lama, ditemukan
kunci-kunci untuk memahami prestasi Yesus. Oleh sebab itu, Yohanes mengingatkan
kita akan pesta-pesta Yahudi dan simbol-simbol keagamaan seperti air, daun
palma, anak domba ..., tetapi ia akan menunjukkan bagaimana simbol-simbol ini
diberi arti baru dalam kehidupan dan liturgi Kristen.
Oleh karena itu, sesudah suatu pembukaan yang kita sebut pekan penemuan
(sampai 2:16) kita bisa melihat tiga bagian:
- Dalam 2:17 Yesus pergi ke Bait Allah, untuk perayaan Paskah: bab 2-5
mengembangkan simbol Bait Allah.
- Dalam 6:4 perayaan Paskah disebut lagi dan Yohanes mengembangkan simbol
roti.
- Dalam 13:1 kita menemukan lagi perayaan Paskah untuk ketiga kalinya, ketika Yesus disalibkan pada saat semua anak domba dikurbankan di Bait Allah. Anak domba adalah simbol ketiga.