Jumat, 01 Oktober 2021

CATATAN HUJAN BULAN SEPTEMBER

 

Pada catatan hujan bulan Agustus diketahui bahwa curah hujan sangat tinggi. Sepanjang bulan tersebut hanya 6 hari saja yang tak ada hujan turun. Prediksi kita waktu itu adalah bahwa bulan September masih akan turun hujan.

Ternyata prediksi tersebut tidaklah jauh meleset. Sepanjang bulan September ini hari-hari senantiasa diwarnai dengan turunnya hujan dengan intensitas yang bervariasi, dari ringan hingga lebat. Durasi waktu (lamanya) pun tak jauh berbeda dengan bulan lalu. Namun tetap patut diakui kalau curah hujan, dengan intensitas dan durasinya, bulan Agustus lebih tinggi daripada bulan September. Selama bulan September ada 12 hari dimana hujan sama sekali tidak turun. Dan dalam bulan September ini juga cahaya matahari lebih sering dijumpai daripada bulan Agustus.

Jadi, bila dibandingkan dengan bulan Agustus dapatlah dikatakan kalau curah hujan mulai menurun. Akankah menjadi pertanda kita memasuki musim kemarau? Apakah ini sinyal bahwa bulan Oktober tidak ada hujan sama sekali? Ataukah ini pertanda situasi kembali seperti dahulu, dimana bulan dengan akhiran –ber menjadi tanda musim hujan (akhiran –ber dikonotasikan dengan ember, yang berarti warga menyiapkan ember untuk menampung air hujan). Kita akan pantau terus perkembangannya dari Dabo.

ORANG KUDUS DENGAN NAMA RAYMUNDUS / THERESIA / TERESA

Setiap orang tentulah mempunyai nama. Bagi orang kristen katolik, nama tidak hanya sekedar kumpulan huruf yang membentuk kata, tapi harus memiliki makna. Karena dari makna itulah akan terbentuk identitas dan kepribadian seseorang. Setidaknya makna yang terkandung pada sebuah nama mempunyai 2 jenis atau kategori, yaitu makna dari kata yang terkandung pada nama itu, dan makna yang terkandung dalam nama itu. Untuk jenis yang pertama dapat ditemui pada nama GRACE. Kata itu mempunyai makna rahmat atau berkat. Dengan memberi nama itu, maka orang yang menyandangnya diharapkan dapat menjadi berkat bagi orang lain. Hal inilah yang akan membentuk kepribadiannya di kemudian hari. Untuk jenis kedua dapat ditemui pada nama ADRIANUS. Kata ini merujuk pada nama orang kudus, sehingga orang yang menyandang nama ini diharapkan akan menghidupi teladan hidup orang kudus tersebut. Hal inilah yang akan membentuk kepribadiannya di kemudian hari.

Tradisi kristen katolik dalam memberi nama mengacu pada Kan. 855, yaitu agar nama yang diberikan kepada anak harus memiliki citarasa kristiani. Ada 3 kategori citarasa kristiani untuk nama anak. [1] Nama yang diambil dari Alkitab, baik itu nama tokoh maupun nama tempat. Untuk tokoh selalu diambil tokoh yang tidak menimbulkan skandal. Beberapa contoh nama kategori ini: Abraham, Yeremia, Elia, Betania, Galatia, Ruth, Esther, Tesalonika, dll. [2] Nama yang diambil dari nama orang kudus. Untuk memilih namanya, ada beberapa tawaran seperti berdasarkan tanggal kelahiran yang bersamaan dengan tanggal peringatan orang kudus atau berdasarkan intensi orangtua. Bisa juga didasari pada devosi orangtua atau tradisi keluarga. Beberapa contoh nama kategori ini: Maria, Yosef, Matius, Lukas, Paulus, dll [3] Nama yang diambil dari beberapa istilah atau kata yang tak asing dalam dunia kristen. Beberapa contoh nama kategori ini: Grace, Gloria, Sanctus, Angel, Immanuel, Natal, Paskah, Adven, dll.

Terkait dengan kategori kedua, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para orangtua. Harus diketahui ada banyak nama orang kudus yang memiliki kesamaan. Misalnya, untuk Santo Raymundus setidaknya ada 4 orang kudus yang memiliki nama demikian. Untuk itu, ketika memberi nama Raymundus untuk anaknya, orangtua wajib tahu Raymundus mana yang dimaksud, karena hal ini untuk menjadi “identitas keperibadian” anak kelak.

Untuk maksud ini, blog budak bangka menurunkan nama orang kudus yang memiliki kesamaan nama. Untuk bulan ini, kami menampilkan Santo Raymundus dan Santa Theresia/Teresa. Silahkan klik pada nama orang kudus tersebut untuk mengetahui riwayat hidupnya.

Rabu, 29 September 2021

MARI KITA BERCERMIN

 

Seorang teman bercerita kepada saya tentang sahabatnya, yang adalah juga sahabat saya. Dia berkata bahwa setelah pindah ke tempat yang baru, sahabat kami ini mengalami perubahan. Tentulah perubahan yang baik yang dimaksud. Karena sebelum pindah, sahabat kami ini selalu menampilkan perilaku buruk dan sedikit agak nyeleneh. Namun di tempatnya yang baru, perilaku-perilaku buruk itu sedikit demi sedikit mulai hilang.

Lantas teman saya ini memberikan penilaian bahwa tempat merupakan faktor penentu perubahan itu terjadi. Di tempat baru itu, sahabat kami ini benar-benar merasa enjoy sehingga dapat menemukan jati dirinya. Tempat baru yang pas membantu perubahan perilaku seseorang.

Saya dalam hati berkata, jika memang tempat yang telah mengubah perilaku buruk seseorang menjadi baik, masukkan saja orang-orang yang berperilaku buruk ke tempat itu. Tentulah agak susah menerima fakta ini. Karena itu, musti ada faktor lain yang menentukan perubahan tersebut. Dan faktor itu bisa saja ada di dalam diri sahabat kami ini yang berkaitan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan orang-orang yang ada di lingkungan tempatnya yang lama.

Dalam hati kecil saya sangat prihatin dengan pernyataan teman saya ini. Dia hanya melihat diri sahabat kami ini, tanpa pernah berusaha melihat dirinya sendiri. Siapa tahu dirinya menjadi faktor yang membuat sahabat ini berperilaku buruk. Ada kemungkinan bahwa perilaku buruk yang ditampilkan sahabat ini merupakan ungkapan protes dan perlawanan dalam diam terhadap ulah, kebijakan, sikap dan perilaku teman saya ini. Karenanya, pemindahan ke tempat baru ini dapat dilihat bahwa sahabat ini lepas dari sosok yang berperan pada pembentukan perilaku itu.

Seringkali terjadi kita hanya melihat keluar dari diri kita. Keanehan-keanehan orang lain sepertinya selalu terlepas dari diri kita. Padahal bisa saja diri kita punya andil dalam terwujudnya keanehan tersebut. Diri kitalah yang telah membuat seseorang selalu menampilkan tingkah laku, yang di mata kita aneh.

Oleh karena itu, perlu disadari bahwa keberadaan orang lain ditentukan juga oleh keberadaan kita. Hendaklah kita jangan hanya melihat keluar dari diri kita sendiri. Kita perlu melihat diri kita sendiri. Kita butuh kemampuan untuk refleksi. Refleksi selalu terarah kepada diri sendiri, meski obyeknya adalah orang lain atau sesuatu yang ada di luar diri sendiri.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu