Jumat, 10 September 2021

MENGENAL TATA PERAYAAN EKARISTI 2021

Mengingat pentingnya ekaristi dalam kehidupan kita, berhubung pula Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) telah mengeluarkan TPE baru, maka pada materi keempat ini kami akan menjelaskan soal Tata Perayaan Ekaristi (TPE). Materi ini untuk pelajar SMP dan SMA. Ada 2 video penjelasan TPE 2021 ini. Naskah materi ini bisa dilihat atau dibaca pada blog ini hari Minggu, 12 September. Kalian wajib nonton dan baca materi ini, karena akan jadi bahan penilaian terkait praktek keagamaan nantinya. Untuk menonton video pelajaran ini langsung saja klik pada layarnya. Selamat menikmati.

Video 1

 

Video 2

 

Jika video ini tak bisa diputar di android kalian, coba klik link di bawah ini.

Link video 1

https://www.youtube.com/watch?v=HbwDjxZw66Q&t=297s 

Link video 2

https://www.youtube.com/watch?v=RLA5KYBXOEQ 



Selasa, 07 September 2021

INI PENYEBAB MEROSOTNYA HUBUNGAN KELUARGA

 

Adalah kerinduan setiap keluarga bila kehidupan keluarganya harmonis, damai dan bahagia. Akan tetapi, tak semua harapan itu bisa terwujud dengan sendirinya. Idealisme terkadang bertolak belakang dengan realitas. Ini biasanya sering diawali dengan relasi yang tidak baik lagi. Dan bila semua ini yang dihadapi tak jarang juga bisa berakhir dengan kehancuran rumahtangga.

Sebenarnya hal ini masih bisa ditangani. Semua itu tergantu dari sikap kita dalam menyikapi setiap masalah yang menghadang. Pertama-tama kita harus tahu faktor penyebab merosotnya hubungan dalam keluarga. Sebagaimana dikutip dari PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), Elizabeth B. Hurlock mengungkapkan beberapa penyebab merosotnya hubungan yang terjadi dalam keluarga.

Sikap terhadap Peran Orang Tua

Orang tua yang kurang menyukai peran orang tua merasa bahwa waktu, usaha dan uang dihabiskan oleh anak, cenderung mempunyai hubungan yang buruk dengan anak-anaknya.

Harapan Orang Tua

Pada saat anak masuk sekolah, banyak orang tua yang berpengharapan tinggi mengenai mutu tugas-tugas sekolah dan besarnya tanggung jawab anak di rumah. Kalau anak gagal memenuhi harapan ini, orang tua sering menghina, memarahi dan menghukum.

Senin, 06 September 2021

KENAPA SEPTEMBER DIKENAL SEBAGAI BULAN KITAB SUCI? INI PENJELASANNYA

 

Bulan September biasanya, Gereja Katolik Indonesia memasuki Bulan Kitab Suci Nasional. Pimpinan Gereja menganjurkan umat Katolik menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci dengan berbagai cara, sehingga dengan demikian umat semakin tangguh dan mendalam imannya dalam menghadapi kerumitan dan kesulitan hidup dewasa ini.

Selintas Sejarah

Pada bulan September telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesa sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan untuk mengisi bulan ini, mulai di lingkungan, wilayah, paroki, biara, maupun di kelompok-kelompok kategorial. Misalnya, lomba baca KS, pendalaman KS di lingkungan, pameran buku, dan sebagainya. Terutama pada hari Minggu pertama bulan itu, kita merayakan hari Minggu Kitab Suci Nasional. Perayaan Ekaristi berlangsung secara meriah, diadakan perarakan khusus untuk KS, dan KS ditempatkan di tempat yang istimewa. Sejak kapan tradisi Bulan Kitab Suci Nasional ini berawal? Untuk apa?

Untuk mengetahui latar belakang diadakannya BKSN ini kita perlu menengok kembali Konsili Vatikan II. Salah satu dokumen yang dihasilkan oleh KV II yang berbicara mengenai KS adalah Dei Verbum. Dalam Dei Verbum para bapa Konsili menganjurkan agar jalan masuk menuju Kitab Suci dibuka lebar-lebar bagi kaum beriman (DV 22). Konsili juga mengajak seluruh umat beriman untuk tekun membaca KS. Bagaimana jalan masuk itu dibuka? Pertama-tama, dengan menerjemahkan KS ke dalam bahasa setempat, dalam hal ini Bahasa Indonesia. Usaha ini sebenarnya telah dimulai sebelum KV II dan Gereja Katolik telah selesai menerjemahkan seluruh KS, baik PL maupun PB. Namun, KV II menganjurkan agar diusahakan terjemahan KS ekumenis, yakni terjemahan bersama oleh Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Mengikuti anjuran KV II ini, Gereja Katolik Indonesia mulai “meninggalkan” terjemahan PL dan PB yang merupakan hasil kerja keras para ahli Katolik, dan memulai kerja sama dengan Lembaga Alkitab Indonesia. Dengan demikian, mulailah pemakaian KS terjemahan bersama, yang merupakan terjemahan resmi yang diakui baik oleh Gereja Katolik maupun Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Yang membedakan hanyalah Kitab-Kitab Deuterokanonika yang diakui termasuk dalam KS oleh Gereja Katolik namun tidak diakui oleh Gereja-gereja Protestan.

Kitab Suci telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, namun umat Katolik Indonesia belum mengenalnya, dan belum mulai membacanya. Mengingat hal itu, Lembaga Biblika Indonesia, yang merupakan Lembaga dari KWI untuk kerasulan Kitab Suci, mengadakan sejumlah usaha untuk memperkenalkan KS kepada umat dan sekaligus mengajak umat untuk mulai membaca KS. Hal ini dilakukan antara lain dengan mengemukakan gagasan sekaligus mengambil prakarsa untuk mengadakan Hari Minggu Kitab Suci secara nasional. LBI mengusulkan dan mendorong agar keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki seluruh Indonesia mengadakan ibadat khusus dan kegiatan-kegiatan sekitar KS pada Hari Minggu tertentu.