Jumat, 20 Agustus 2021

ARTI DAN MAKNA GEREJA


 

A. Gereja sebagai Umat Allah

Umat Allah adalah paguyuban orang-orang yang beriman, yang telah dipilih oleh Allah. Sebagai anak-anak Allah semuanya mempunyai martabat yang sama dalam pembaptisan. Semuanya ikut ambil bagian dalam pembangunan jemaat, solider dan saling memerhatikan.

1. Memahami Arti dan Makna Gereja

Dalam Audiensi Umum pada tanggal 29 Mei 2013, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Gereja sebagai Keluarga Allah. Lewat perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32), Paus menegaskan pesan Injil yang menunjukkan rencana Allah bagi umat manusia. Apakah rencana Allah itu? Yakni membuat kita semua menjadi satu keluarga sebagai anak-anak-Nya, di mana setiap orang merasa bahwa Allah itu dekat dan merasa dicintai.

Gereja berakar dalam rencana besar ini. Gereja bukan organisasi yang didirikan atas perjanjian antara beberapa orang, tapi seperti Paus Benediktus XVI sering mengingatkan kita, Gereja adalah pekerjaan Allah, yang lahir justru dari rancangan penuh kasih ini yang secara bertahap masuk ke dalam sejarah. Gereja ini lahir dari keinginan Allah untuk memanggil semua orang dalam persekutuan dengan Dia, persahabatan dengan Dia; untuk berbagi dalam kehidupan ilahi-Nya sendiri sebagai putra putri-Nya.

Kata “Gereja”, berasal dari bahasa Yunani “ekklesia” berarti “pertemuan akbar orang-orang yang dipanggil”. Allah memanggil dan mengajak kita untuk keluar dari individualisme, dari kecenderungan menutup diri kita sendiri, dan Dia memanggil kita untuk menjadi keluarga-Nya. Allah menciptakan manusia supaya kita hidup dalam hubungan persahabatan yang mendalam dengan Dia, dan bahkan ketika dosa memutuskan hubungan manusia dengan Allah dan dengan ciptaan lainnya, Allah tidak meninggalkan kita.

Seluruh kisah keselamatan adalah kisah Allah yang berusaha meraih manusia, menawarkan mereka cinta-Nya dan menyambut mereka. Ia memanggil Abraham untuk menjadi bapa dari banyak bangsa, Ia memilih orang Israel untuk membuat sebuah perjanjian yang akan merangkul semua orang, dan dalam kepenuhan waktu, Ia mengutus Putra-Nya sehingga rencana cinta dan keselamatan-Nya dapat digenapi dalam Perjanjian baru dan kekal dengan seluruh umat manusia. Ketika kita membaca Injil, kita mengetahui bahwa Yesus mengumpulkan komunitas kecil di sekitar-Nya yang menerima firman-Nya, mengikuti-Nya, turut serta dalam perjalanan-Nya, menjadi keluarga-Nya, dan dengan komunitas inilah Dia mempersiapkan dan membangun Gereja-Nya.

Jadi, Gereja lahir dari tindakan kasih yang paling agung dari Salib, dari sisi lambung Yesus yang ditusuk dan mengalirkan darah dan air, simbol dari Sakramen Ekaristi dan Pembaptisan. Darah kehidupan keluarga Allah, Gereja, adalah kasih Allah yang diaktualisasikan dalam mencintai diri-Nya dan orang lain, semua orang, tanpa membeda-bedakan. Gereja adalah keluarga yang kita cintai dan mencintai kita.

Kamis, 19 Agustus 2021

PAHAM KERAJAAN ALLAH PADA JAMAN YESUS


 

A. Beberapa Paham Kerajaan Allah

Pada masa Yesus, bahkan sebelum kehadiran-Nya, sudah berkembang beberapa paham Kerajaan Allah. Paham ini begitu hidup di tengah umat. Dan keberadaan paham ini sering membuat manusia terbagi dalam kelompok-kelompok, berdasarkan paham tersebut. Berikut ini adalah paham Kerajaan Allah yang ada pada masa Yesus.

1. Kerajaan Allah yang bersifat Politis

Paham Kerajaan Allah bersifat politis ini beranggapan bahwa: Kerajaan Allah yang damai dan sejahtera hanya akan terwujud bila Allah tampil sebagai seorang tokoh politik yang dengan gagah berani mampu memimpin bangsa Israel melawan penjajah Romawi dan para penindas rakyat. Paham Kerajaan Allah seperti ini hidup di kalangan kaum zelot dan sicarii

2. Kerajaan Allah yang Bersifat Apokaliptis

Paham Kerajaan Allah yang bersifat Apokaliptis ini memandang: Kerajaan Allah akan tercapai bila Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan menggoncangkan kekuatan-kekuatan langit dan bumi. Pada saat itulah Allah akan membangkitkan suatu dunia baru. Dan mereka menganggap penderitaan yang dialami bukan akhir segala-galanya, kelak pada akhir zaman Allah akan menegakkan Kerajaan-Nya dan membebaskan manusia dari segala penderitaan. Paham Kerajaan Allah seperti ini hidup di kalangan kaum esseni.

3. Paham Kerajaan Allah yang Bersifat Yuridis-Religius

Allah sekarang sudah meraja secara hukum, sedangkan pada akhir zaman Allah menyatakan kekuasaan-Nya sebagai Raja semesta alam dengan menghakimi sekalian bangsa. Mereka memandang Hukum Taurat sebagai wujud Kekuasaan Allah yang mengatur manusia.

Maka mereka yang sekarang taat kepada hukum Taurat sudah menjadi warga Kerajaan Allah. Tetapi, jika tidak melakukan apa yang dituntut dalam hukum Taurat mereka tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

INILAH PELANGGARAN YANG BIASA DILAKUKAN ANAK

 


Kata “disiplin” biasa diidentikkan dengan dunia orang dewasa dan dunia kerja. Biasa juga dipahami dengan tata aturan. Karena itu, tak jarang orang berpikir bahwa disiplin hanya dikhususkan untuk orang dewasa, sementara anak-anak dirasakan belum. Dunia anak adalah dunia bermain, dan permainan anak lebih sering mengikuti selera. Permainan anak-anak sulit dikenakan aturan.

Akan tetapi, bukan lantas berarti anak-anak tidak membutuhkan disiplin. Kedisiplinan diri itu sangat penting; dan itu hendaknya sudah dimulai dari usia dini. Orangtua perlu mengetahui soal disiplin ini buat anak-anak mereka. Sebagaimana dilansir dari buku edisi kelima “PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan”, Elizabeth B. Hurlock memaparkan beberapa hal soal disiplin untuk usia anak. Di samping itu, Hurlock menguraikan juga soal pelanggaran yang biasa dilakukan anak. Dengan mengetahui hal ini, para orangtua dapat mengantisipasinya.

Bantuan dalam Mendasarkan Kode Moral

Dalam kasus anak yang lebih besar, pengajaran mengenai benar dan salah seyogianya menekankan alasan mengapa pola perilaku tertentu diterima dan mengapa pola lain tidak diterima, dan seyogianya diarahkan untuk menolong anak memperluas konsep tertentu menjadi konsep yang lebih luas, lebih abstrak.

Ganjaran

Ganjaran, seperti pujian atau perlakuan secara khusus karena berhasil mengatasi situasi sulit dengan baik, mempunyai nilai pendidikan yang kuat jika pujian dan perlakuan khusus menunjukkan pada anak bahwa ia bertindak benar dan juga jika mendorong anak untuk mengulang perilaku yang baik. Bagaimana pun juga, jikalau pujian dan perlakuan khusus harus menjadi efektif, ganjaran harus sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan anak.