A. Gereja sebagai Umat Allah
Umat Allah adalah paguyuban orang-orang
yang beriman, yang telah dipilih oleh Allah. Sebagai anak-anak Allah semuanya
mempunyai martabat yang sama dalam pembaptisan. Semuanya ikut ambil bagian dalam
pembangunan jemaat, solider dan saling memerhatikan.
1. Memahami Arti dan Makna
Gereja
Dalam
Audiensi Umum pada tanggal 29 Mei 2013, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Gereja
sebagai Keluarga Allah. Lewat perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32), Paus
menegaskan pesan Injil yang menunjukkan rencana Allah bagi umat manusia. Apakah
rencana Allah itu? Yakni membuat kita semua menjadi satu keluarga sebagai
anak-anak-Nya, di mana setiap orang merasa bahwa Allah itu dekat dan merasa
dicintai.
Gereja
berakar dalam rencana besar ini. Gereja bukan organisasi yang didirikan atas
perjanjian antara beberapa orang, tapi seperti Paus Benediktus XVI sering
mengingatkan kita, Gereja adalah pekerjaan Allah, yang lahir justru dari
rancangan penuh kasih ini yang secara bertahap masuk ke dalam sejarah. Gereja
ini lahir dari keinginan Allah untuk memanggil semua orang dalam persekutuan
dengan Dia, persahabatan dengan Dia; untuk berbagi dalam kehidupan ilahi-Nya
sendiri sebagai putra putri-Nya.
Kata
“Gereja”, berasal dari bahasa Yunani “ekklesia” berarti “pertemuan akbar
orang-orang yang dipanggil”. Allah memanggil dan mengajak kita untuk keluar
dari individualisme, dari kecenderungan menutup diri kita sendiri, dan
Dia memanggil kita untuk menjadi keluarga-Nya. Allah menciptakan manusia
supaya kita hidup dalam hubungan persahabatan yang mendalam dengan Dia,
dan bahkan ketika dosa memutuskan hubungan manusia dengan Allah dan dengan
ciptaan lainnya, Allah tidak meninggalkan kita.
Seluruh
kisah keselamatan adalah kisah Allah yang berusaha meraih manusia,
menawarkan mereka cinta-Nya dan menyambut mereka. Ia memanggil Abraham
untuk menjadi bapa dari banyak bangsa, Ia memilih orang Israel untuk
membuat sebuah perjanjian yang akan merangkul semua orang, dan dalam
kepenuhan waktu, Ia mengutus Putra-Nya sehingga rencana cinta dan
keselamatan-Nya dapat digenapi dalam Perjanjian baru dan kekal dengan
seluruh umat manusia. Ketika kita membaca Injil, kita mengetahui bahwa
Yesus mengumpulkan komunitas kecil di sekitar-Nya yang menerima
firman-Nya, mengikuti-Nya, turut serta dalam perjalanan-Nya, menjadi
keluarga-Nya, dan dengan komunitas inilah Dia mempersiapkan dan
membangun Gereja-Nya.
Jadi, Gereja lahir dari tindakan kasih yang paling agung dari Salib, dari sisi lambung Yesus yang ditusuk dan mengalirkan darah dan air, simbol dari Sakramen Ekaristi dan Pembaptisan. Darah kehidupan keluarga Allah, Gereja, adalah kasih Allah yang diaktualisasikan dalam mencintai diri-Nya dan orang lain, semua orang, tanpa membeda-bedakan. Gereja adalah keluarga yang kita cintai dan mencintai kita.


