Senin, 05 April 2021

MENGENAL POLA PERILAKU ANAK


 

Memiliki anak adalah dambaan setiap pasangan suami istri. Anak bisa menjadi jawaban atas setiap doa yang selalu dipanjatkan segera setelah menikah. Akan tetapi, perlu juga diketahui bahwa menjadi orangtua tidak hanya sebatas mendapatkan anak, tetapi juga harus ditindak-lanjutnya dengan merawat, menjaga, membesarkan dan terutama mendidik anak. Untuk menunjang tugas ini, orangtua perlu tahu perilaku anak.

Dilansir dari Elizabeth B. Hurlock, PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5). Jakarta: Erlangga, 1980, hlm. 118-119, orangtua harus memperhatikan pola perilaku sosial dan pola perilaku tidak sosial pada anak. Berikut ini beberapa deskripsi pola perilaku sosial dan pola perilaku tidak sosial pada anak.

POLA SOSIAL

Meniru

Agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan prilaku orang yang sangat ia kagumi.

Persaingan

Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang-orang lain sudah tampak pada usia empat tahun. Ini dimulai di rumah dan kemudian berkembang dalam bermain dengan anak di luar rumah.

Minggu, 04 April 2021

INILAH AYAT-AYAT CINTA DALAM AL-QUR’AN


 

Sudah jadi rahasia umum kalau islam dikenal sebagai agama teror, radikal dan penuh kekerasan. Semua itu selalu dikaitkan dengan islam karena demikianlah ajarannya. Akan tetapi, tak sedikit tokoh islam menyanggah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa agama islam telah dibajak oleh kaum teroris, radikalis dan intoleran. Dengan berani mereka menyuarakan bahwa islam adalah agama kasih.

Benarkah islam itu agama kasih? Harus diketahui bahwa setiap ajaran agama selalu mengacu pada kitab suci. Di sana ada pedoman dan tuntunan hidup bagi umatnya. Bagaimana dengan islam?

Kitab suci umat islam adalah Al-Qur’an. Umat islam yakin bahwa kitab sucinya langsung diturunkan Allah kepada nabi Muhammad. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah sendiri. Jika agama islam adalah agama kasih, maka ajaran kasih itu tertulis juga di dalam Al-Qur’an. Dengan kata lain, Allah mengajarkan tentang kasih kepada umat-Nya, dan pedoman itu tertuang dalam Al-Qur’an.

Berikut ini akan ditampilkan “ayat-ayat cinta” yang ada dalam Al-Qur’an. Pertama-tama perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan “ayat-ayat cinta” adalah ayat dalam Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata dengan kata dasar “cinta” (kecintaan, pecinta, mencintai dan dicintai) dan “kasih” (mengasihi, dikasihi, kasihan, pengasih dan kekasih). Kami mendasarkan pada Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Edisi Terkini Revisi Tahun 2006. Namun sebelum membaca teks-teks Al-Qur’an di bawah ini, kami hendak memberikan beberapa petunjuk penting.

1.    Dengan akal sehat, berusahalah memahami kalimat atau ayat yang dibaca tanpa peduli dengan latar belakang teks.

2.    Sadarilah bahwa yang dibaca itu adalah kata-kata Allah. Bertanyalah dalam hati, “Benarkah ini dari Allah?”

3.    Kaitkan atau bandingkanlah satu ayat dengan ayat lainnya, dan bertanyalah sekali lagi dalam hati, “Benarkah ini dari Allah?”

4.    Setiap kali membaca 1 ayat, bertanyalah dalam hati, “Jelaskah ayat tadi?” dan “Apakah ayat tadi benar?”

Jumat, 02 April 2021

TEROR BOM, SAATNYA UMAT ISLAM BERANI JUJUR


 

Minggu, 28 Maret 2021, sekitar jam 10.30 WITA, sebuah bom meledak tepat di depan pintu gerbang Gereja Katedral Makasar. Umat katolik baru saja selesai mengikuti perayaan misa Minggu Palma. Sontak ledakan itu menghebohkan, bukan saja umat katolik di gereja itu atau pun masyarakat Makasar, tetapi juga publik Indonesia. Konon kemudian diketahui bom itu adalah bom bunuh diri, dan itu terkait dengan aksi terorisme. Dan belum seminggu, persisnya di penghujung bulan, aksi terorisme terjadi lagi. Kali ini langsung menyentuh jantung Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri).

Dan seperti biasa, ketika muncul peristiwa-peristiwa teror, tokoh-tokoh agama islam langsung memberi tanggapan, yang umumnya bersifat rasionalisasi. Ada yang berkata, “Tindakan itu tidak mewakili agama manapun.” Ada juga yang bilang, “Terorisme bertentangan dengan ajaran agama.” Yang lain berkata, “Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan, apalagi sampai membunuh.” Yang lain, dengan tegas bilang, “Islam tidak mengajarkan kekerasan; islam itu agama kasih.” Yang lain lagi meminta masyarakat untuk tidak mengaitkan aksi teror dengan agama tertentu.

Masih banyak lagi argumentasi yang dibangun para tokoh islam untuk menanggapi setiap kali muncul kejadian terorisme. Semua argumentasi itu hanyalah retorika yang bersifat rasionalisasi. Di balik argumentasi itu, mereka hendak mengatakan 2 hal ini, yaitu [1] bahwa terorisme itu bukan islam; dan [2] bahwa para pelaku teror itu bukan islam. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa para tokoh islam ini hendak mengatakan bahwa teroris itu salah, sedangkan merekalah yang benar. Artinya, kebenaran hanya milik mereka.

Apa dampak dari semua ini bagi umat non muslim? Perlu disadari dan diketahui, khususnya oleh umat islam, bahwa umat non muslim, yang selalu dilabeli sebagai “kafir” oleh umat islam, menghadapi 3 perasaan berhadapan dengan setiap terorisme. Tiga perasaan itu adalah takut, muak dan bingung.