Selasa, 09 Maret 2021

MEREFLEKSIKAN PENCOBAAN YESUS DALAM KONTEKS KINI


 

Setelah menyepi dan bermeditasi selama empat puluh hari empat pulah malam, maka Yesus dibawa oleh Roh untuk dicobai iblis. Oleh iblis Yesus diajak menuju remang-remang kota metropolitan. Yesus menyaksikan banyak VCD porno bebas dijual dan bertebaran di kios-kios PKL. Namun Yesus tidak bergeming. Iblis mengajak-Nya ke tempat hiburan. Mereka langsung disambut mesra oleh tiga cewek seksi dengan pakaian yang menggiurkan. Berkatalah iblis kepada-Nya, “Bukankah Engkau sudah lama menyepi di tempat yang sepi, jauh dari hiburan. Sekaranglah saatnya untuk menikmati hiburan ini. Itu ada cewek cantik. Ambil dan nikmatilah. Sebab ada tertulis: baiklah setiap laki-laki memiliki wanitanya sendiri dan setiap perempuan mempunyai prianya sendiri, dan keduanya telanjang, tapi tidak merasa malu”(bdk. 1Kor 7: 2 dan Kej 2: 25). Tetapi Yesus menjawab, “Manusia harus menjadi tuan atas nafsu, bukan menjadi budak nafsu. Allah yang kudus telah memanggilmu. Maka, hendaknya kamu menjadi kudus. Sebab ada tertulis: hendaknya kamu kudus, sebab Aku ini kudus” (bdk. 1Ptr 1: 15 – 16). Dan Yesus berkata lagi, “Tidak tahukah kamu kalau tubuh bukan untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu?” (bdk. 1Kor 6: 13b, 19).

Kemudian iblis membawa-Nya ke mall, pusat perbelanjaan paling lengkap dan termegah di muka bumi. Di sana ada banyak barang-barang super lux dan mewah yang sungguh menarik dan menggoda untuk dimiliki. Iblis berkata, “Bukankah Engkau Tuhan dan Raja. Ambillah dan milikilah barang-barang mewah dan menarik itu tanpa kesulitan. Sebab tentang Engkau ada tertulis: lihat, Rajamu datang kepadamu. Maka orang banyak akan menghamparkan pakaiannya di jalan dan memberi-Mu barang-barang yang Kau sukai sebagai upeti.” (bdk. Mat 21: 5, 8). Yesus berkata kepadanya, “Ada pula tertulis: penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ciptaan (Kej 1: 28c). Manusia dicipta bukan untuk dikuasai, melainkan untuk menguasai ciptaan.”

Dan iblis membawa-Nya pula ke Bank Dunia, dan memperlihatkan kepada-Nya semua jenis mata uang di muka bumi. Ia berkata kepada Yesus, “Saat ini uang adalah maha dewa. Siapa yang memegang uang, dialah yang punya kuasa, mengendalikan semua aspek kehidupan manusia. Nah, semua ini akan kuberikan kepada-Mu jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya, “Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (bdk. Mat 4: 10).

Lalu iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, para malaikat datang melayani Yesus.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Senin, 08 Maret 2021

SEBAB-SEBAB KETIDAKBAHAGIAAN PADA MASA BAYI


 

Bayi selalu diidentikkan dengan kebahagiaan. Ketika pertama kali muncul, keluarga menyambutnya dengan bahagia. Penampilannya yang terkadang menggemaskan, membuat orang yang berhadapan dengannya pun bahagia. Di rumah dia diperlakukan istimewa. Perlakuan istimewa ini juga yang membuat sang bayi merasa bahagia. Jadi, kebahagiaan itu terarah pada 2 sisi, eksternal dan internal.

Akan tetapi, kerap terjadi juga kalau ada bayi yang merasa tidak bahagia. Elizabeth B. Hurlock, dalam bukunya, PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, mengungkapkan beberapa faktor penyebab ketidakbahagiaan pada masa bayi.

Kesehatan yang Buruk

Bayi memiliki kesehatan buruk, baik sementara maupun kronis, tidak merasa normal sehingga cenderung rewel dan mudah marah. Dalam kondisi ini tidak mungkin bayi akan merasa bahagia.

Tumbuhnya Gigi

Tumbuhnya gigi menimbulkan rasa tidak enak secara berkala, adakalanya benar-benar menyebabkan rasa sakit. Bila dalam keadaan sakit atau tidak enak, bayi cenderung mudah marah, rewel dan negativistik. Ini menyebabkan ia tidak bahagia.

Keinginan Mandiri

Dengan meningkatnya pengendalian terhadap tubuh, kebanyakaan bayi menolak bantuan orang-orang lain dan campur tangan pada saat mereka mencoba untuk mandiri. Ketidaksenangan ini ditunjukkan dengan bersikap mogok atau marah-marah.

Meningkatnya Kebutuhan kasih Sayang

Minggu, 07 Maret 2021

PAUS FRANSISKUS: KITAB SUCI DITULIS UNTUK SETIAP KITA


 

“Kata-kata dalam kitab suci tidak ditulis untuk tetap terpenjara di atas papirus, perkamen atau kertas, tetapi untuk diterima oleh orang yang berdoa, dan membuatnya berkembang dalam hatinya.” Inilah pernyataan Paus Fransiskus saat melanjutkan katekese tentang doa pada audensi umum, 27 Januari lalu.

Merenungkan tentang doa yang menyertai bacaan kitab suci, Paus Fransiskus menggaris-bawahi bahwa kitab suci ditulis untuk kita masing-masing secara individu, untuk memberi kita sabda Allah. Pengalaman itu terjadi pada semua umat beriman. Bagian dari kitab suci, yang sudah terdengar berkali-kali secara tidak terduga akan berbicara kepada seseorang di suatu hari nanti, dan mencerahkan situasi yang mereka jalani, memberikan wawasan baru dan seringkali menantang cara biasa kita dalam berpikir dan melihat dunia..

“Melalui doa, terjadi inkarnasi baru dari Sabda,” jelas Paus Fransiskus. Dan “kitalah ‘tabernakel-tabernakel’ tempat Firman Allah ingin disambut dan dilestarikan agar bisa mengunjungi dunia.” Umat beriman tidak berpaling pada kitab suci untuk mendukung pandangan folosofis dan moralnya sendiri, tetapi karena dia mengharapkan perjumpaan; umat beriman tahu bahwa mereka tertulis dalam Roh Kudus.”

Adalah rahmat untuk bisa mengenali diri sendiri dalam perikop ini atau karakter itu, dalam situasi ini atau itu. Paus Fransiskus menyinggung ada orang yang kesal bila berhadapan dengan teks yang di luar harapannya atau mendengar umat kristen yang melafalkan ayat-ayat kitab suci seperti burung beo. Bagi Paus Fransiskus, penting untuk berjumpa Tuhan dengan hati dan tidak hanya melafalkan sebuah ayat dari ingatan.