Selasa, 23 Februari 2021

MELIHAT KONSEP KEMISKINAN KRISTIANI


Sabda Bahagia Yesus di bukit pertama-tama ditujukan kepada orang miskin. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5: 3). Pada masa Yesus dan sebelumnya, orang miskin masuk ke dalam kelompok orang yang terpinggirkan, baik secara sosial maupun secara religius. Secara keagamaan, orang miskin dilihat sebagai orang yang tidak mendapatkan berkat dari Allah, yang biasanya disebabkan karena dosa. Jadi, ada kaitan antara dosa dan kemiskinan. Dan dosa selalu dikaitkan dengan neraka (syeol).

Akan tetapi, dalam ucapan bahagia-Nya, Yesus justru mengatakan bahwa mereka yang miskin itu bahagia sebab memiliki Kerajaan Sorga. Suatu pernyataan yang kontradiktif. Lewat pernyataan-Nya itu, Yesus mau mematahkan pendapat lama sekaligus menanamkan hal baru bahwa orang miskin juga berhak atas Kerajaan Sorga.

Untuk membuktikan hal ini, selama hidup-Nya, Yesus hidup miskin dan hidup bersama orang miskin. Yesus menerapkan hidup miskin kepada para rasul-Nya ketika Ia mengutus mereka (Mat 10: 5 – 15). “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat 10: 8). Di sini Yesus menghendaki agar para rasul melaksanakan tugas perutusan tersebut dengan tanpa pamrih, bukan mencari uang atau imbalan. Lebih lanjut Yesus mengajak mereka untuk “menyingkirkan” harta benda (ay. 9 – 10).

Sekalipun beberapa kali Yesus bergaul dengan orang kaya, misalnya seperti Matius pemungut cukai (Mat 9: 9 – 13), pemuda yang kaya (Mat 19: 16 – 26), Zakheus (Luk 19: 1 – 10) dan Nikodemus (Yoh 3: 1 –21), Yesus tidak serta merta menjadi kaya dan melupakan orang miskin. Malahan dalam perjumpaan-Nya dengan orang-orang kaya itu Yesus mengajak mereka untuk “melepaskan” kelebihan harta kekayaan mereka dan tidak menganggap sesuatu sebagai milik mereka sendiri. “Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga…” (Mat 19: 21). Yesus tidak memanfaatkan orang kaya itu untuk kepentingan Diri-Nya sendiri, tetapi tetap pada jalan hidup-Nya, yaitu miskin.

Senin, 22 Februari 2021

BAHAYA EMOSI YANG UMUM PADA MASA BAYI


Kurangnya Kasih Sayang

Bayi yang tidak diberi kesempatan untuk mengalami emosi bayi yang normal – terutama kasih sayang, keinginan tahu dan kegembiraan – secara fisik tidak berkembang. Kalau kekurangan kasih sayang berlangsung lama dan hebat, akan mencegah penghambatan dalam mengeluarkan hormon pituitary, termasuk pertumbuhan hormon, dan ini akan mengakibatkan apa yang disebut “kekurangan kekerdilan.” Lagi pula kekurangan kasih sayang dalam masa bayi sering menyebabkan bayi mundur dalam perkembangan motorik dan berbicara, dan tidak belajar bagaimana mengungkapkan kasih sayang. Bayi biasanya menjadi lesu, murung dan acuh tak acuh, dan sering mengembangkan gerakan-gerakan gelisah seperti mengenyut ibu jari

Tekanan

Tekanan, yaitu keadaan emosi kurang baik yang berlangsung lama seperti takut dan marah, dapat menyebabkan perubahan endokrin yang mengganggu keseimbangan tubuh. Ini kemudian akan tercermin dalam kesulitan makan dan tidur, dalam gerakan gelisah seperti sering mengenyut ibu jari dan terlampau banyak menangis. Tekanan disebabkan oleh banyak hal seperti kesehatan yang buruk, diabaikan oleh orang tua dan kondisi lingkungan yang buruk yang menggangu rutin makan dan tidur. Tetapi faktor yang penting adalah hubungan erat dengan ibu yang gelisah dan tegang.

Terlampau Banyak Kasih Sayang

MEMBACA SURAT PETRUS DALAM KONTEKS KINI

Tanggal 22 Februari Gereja Universal merayakan Pesta Takhta Santo Petrus. Pesta ini bukan semata-mata merayakan kursi jabatan Paus di Vatikan, melainkan lebih pada ungkapan kesatuan sebagai Gereja Universal. Dan dalam merayakan pesta ini, Umat Allah, khususnya pimpinan Gereja diajak untuk merefleksikan makna jabatan dalam ajaran Sang Guru, Tuhan kita Yesus Kristus.

Cukup menarik kalau melihat dan membaca bacaan pertama dalam perayaan ekaristi pesta hari ini yang diambil dari Surat Rasul Petrus yang pertama. Di sini Petrus, sebagai pemimpin, memberikan nasehat kepada para pemimpin umat. Kalau kita membacanya, memang konteks ceritanya terjadi pada masa lalu, namun masih relevan untuk masa sekarang. Bagaimana Surat Rasul Petrus ini dibacakan untuk konteks kini?

1Ptr 5:1          Aku menasihatkan kalian, para uskup dan para imam, aku sebagai rekan seimamat dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.

1Ptr 5:2          Gembalakanlah Umat Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah. Hendaknya pelayananmu merupakan pengabdian diri, bukannya mencari pujian, kuasa dan kekayaan.

1Ptr 5:3          Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi mereka. Ingat, kalian sudah mengikrarkan janji selibat, ketaatan dan kemiskinan. Tunjukkanlah itu dalam hidupmu sebagai teladan hidup.

1Ptr 5:4          Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu