Senin, 22 Februari 2021

MEMBACA SURAT PETRUS DALAM KONTEKS KINI

Tanggal 22 Februari Gereja Universal merayakan Pesta Takhta Santo Petrus. Pesta ini bukan semata-mata merayakan kursi jabatan Paus di Vatikan, melainkan lebih pada ungkapan kesatuan sebagai Gereja Universal. Dan dalam merayakan pesta ini, Umat Allah, khususnya pimpinan Gereja diajak untuk merefleksikan makna jabatan dalam ajaran Sang Guru, Tuhan kita Yesus Kristus.

Cukup menarik kalau melihat dan membaca bacaan pertama dalam perayaan ekaristi pesta hari ini yang diambil dari Surat Rasul Petrus yang pertama. Di sini Petrus, sebagai pemimpin, memberikan nasehat kepada para pemimpin umat. Kalau kita membacanya, memang konteks ceritanya terjadi pada masa lalu, namun masih relevan untuk masa sekarang. Bagaimana Surat Rasul Petrus ini dibacakan untuk konteks kini?

1Ptr 5:1          Aku menasihatkan kalian, para uskup dan para imam, aku sebagai rekan seimamat dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.

1Ptr 5:2          Gembalakanlah Umat Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah. Hendaknya pelayananmu merupakan pengabdian diri, bukannya mencari pujian, kuasa dan kekayaan.

1Ptr 5:3          Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi mereka. Ingat, kalian sudah mengikrarkan janji selibat, ketaatan dan kemiskinan. Tunjukkanlah itu dalam hidupmu sebagai teladan hidup.

1Ptr 5:4          Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Jumat, 19 Februari 2021

MEMAHAMI FRASE “KEMENANGAN YANG AGUNG” DALAM AL-QUR’AN

 


Al-Qur’an merupakan pedoman, petunjuk, keterangan, tuntunan dan pelajaran bagi manusia. Semuanya sudah dibuat jelas sehingga mudah dipahami. Semua makna tersebut bertujuan untuk mendatangkan rahmat bagi yang percaya. Semua ini sudah dinyatakan Allah dalam kitab tersebut, sehingga umat islam percaya saja. Umat islam sungguh percaya bahwa Al-Qur’an berasal langsung dari Allah SWT. Apa yang tertulis dalam kitab itu diyakini sebagai kata-kata atau wahyu Allah SWT. Dasar keyakinan ini ada dalam Al-Qur’an sendiri. Beberapa ayat Al-Qur’an telah menyatakan bahwa Allah-lah yang menurunkan Al-Qur’an ini (sekedar menyebut beberapa, QS al-Baqarah: 4; QS Ali Imran: 3; QS; an-Nisa: 105; QS al-Maidah: 48; QS ar-Rad: 1; QS an-Nahl: 89; QS al-Kahf: 1). Umat islam juga sungguh yakin dan percaya bahwa Allah SWT itu maha benar dan maha tahu. Karena itulah, umat islam percaya apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an merupakan kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51).

Tak bisa dipungkiri kalau Al-Qur’an merupakan kitab yang banyak mengurusi agama lain. Kitab ini telah menegaskan bahwa selain islam adalah kafir. Al-Qur’an menyebut bahwa kafir itu adalah musuh bagi islam, meski kafir tak pernah menganggap islam demikian. Karena menganggap musuh, maka umat islam diperintahkan untuk memerangi, membunuh dan membinasakan kaum kafir sampai memperoleh kemenangan. Karena itu, tak heran kalau dalam Al-Qur’an kata “kafir” dan kata “perang” paling banyak disebut. Setidaknya ada lebih dari 100 kata “perang” dan juga kata yang memiliki makna yang serupa.

Harapan dalam peperangan adalah kemenangan. Karena itu, kata ini juga banyak disebut dalam Al-Qur’an. Yang menarik ada satu frase yang berulang-ulang muncul, yaitu “kemenangan yang agung”. Berikut ini akan disajikan kutipan-kutipan frase tersebut yang didasarkan pada “Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Edisi Terkini Revisi Tahun 2006”. Namun sebelum membaca teks-teks Al-Qur’an di bawah ini, kami hendak memberikan beberapa petunjuk penting.

Kamis, 18 Februari 2021

MELIHAT ISI BUKU "KUDETA MEKKAH"


Rasanya tak percaya kertika pertama kali membaca judul buku “KUDETA MEKKAH: Sejarah yang Tak Terkuak” karya Yaroslav Trofimov. Apakah buku ini merupakan karya fiktif (semacam novel) atau karya historis. Setelah membaca kometar-komentar atas buku ini, satu kesimpulan didapat, yaitu bahwa buku ini adalah kisah nyata. Dengan demikian ini merupakan karya historis. Tapi bagaimana mungkin ada kudeta di salah satu kota suci islam, dan yang merupakan jantung keislaman. Kudeta seperti apa? Siapa pelakunya? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi daya tarik untuk membeli dan membaca buku tersebut.

Buku Kudeta Mekkah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari edisi Bahasa Inggris dengan judul “The Siege of Mecca”. Edisi Indonesia ini diterbitkan oleh penerbit Pustaka Alvabet. Buku ini, yang tebalnya 384 halaman, merupakan cetakan kelima. Cetakan pertamanya adalah tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa buku ini lumayan laris. Mungkin kisahnya yang membuatnya laris.

Buku Kudeta Mekkah mengungkap kisah kaum “pemberontak” yang muak dengan perilaku para penguasa Arab Saudi yang tidak mencerminkan nilai-nilai islami. Kehidupan para anggota istana dilihat oleh kaum “pemberontak”, yang umumnya berasal dari kalangan kaum Wahabi ini telah jauh dari ajaran agama islam. Lebih parahnya lagi, penguasa Saudi ini justru memasukkan beberapa unsur yang bertentangan dengan ajaran agama. Misalnya seperti, memberi kesempatan kepada kaum perempuan untuk beraktivitas di publik, pendidikan bagi kaum wanita, membolehkan televisi, gambar-gambar, tepuk tangan, dan yang parahnya lagi memberi kesempatan kepada orang asing yang non muslim masuk ke tanah Saudi (hlm. 31, 34, 41, 63, 95 – 96, 133 – 134).

Sebenarnya istilah “pemberontak” tidak layak disematkan pada kelompok Juhaiman. Memang di mata pemerintah dan ulama istana, mereka adalah pemberontak. Namun di mata kelompok lain yang muncul karena terinspirasi oleh aksi Juhaiman ini, yaitu Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden, mereka adalah pahlawan. Bahkan pada pertengahan tahun 1980-an, Osama bin Laden mengatakan secara eksplisit bahwa orang-orang yang menduduki Mekkah waktu itu (kelompoknya Juhaiman) adalah orang-orang muslim sejati (hlm. 322).

Kaum “pemberontak” yang dipimpin oleh Juhaiman bin Saif al-Utaibi, tidak berani mengadakan kontak langsung dengan istana. Keterbatasan personal dan peralatan senjata menjadi satu alasannya. Pernah akan dibuat, namun keburu diberantas oleh tentara. Beberapa di antara mereka dijatuhi hukuman, namun dapat bebas berkat lobi ulama kharismatik yang berpengaruh, Syeikh Abdul Aziz bin Baz (hlm. 60). Sejak saat itu, Juhaiman mulai berpikir cara lain untuk melakukan pemberontakan.