Rabu, 16 Desember 2020

TAWARAN MANAJEMEN PAROKI


Pelaku pencurian ikan di wilayah Indonesia bisa kita kejar, tangkap dan larang karena nyata-nyata bisa dibuktikan. Namun bagaimana dengan pencurian ide atau menjaga hal-hal yang bersifat tidak teraga seperti seni dan budaya, misalnya klaim tarian “mirip Tor-Tor”? Dalam bisnis hiburan, kita kerap melihat lagu dan film ditiru habis-habisan, dibajak dan diperbanyak. Dengan semakin canggih dan murahnya perkembangan teknologi, kita memang makin sulit mengontrol dan menghukum pencurian ide serta pembajakan karya cipta. Perusahaan-perusahaan besar memang bisa bekerja sama dengan aparat untuk menangkap pencuri perangkat lunak. Namun bagaimana dengan musisi yang tidak punya modal untuk mempersenjatai diri mengejar pencuri idenya? Kita bisa prihatin bahwa buah pikiran dan hasil karya seolah tidak dihargai. Namun, apa yang bisa kita lakukan? Orisinalitas sudah tidak lagi menjadi satu-satunya kunci inovasi.

Seorang artis terkemuka yang sudah memproduksi sejumlah album mengatakan bahwa kini ia membiarkan musiknya dibajak. Ia bahkan menggratiskan orang untuk men-download karya musiknya melalui situs yang dibangunnya dengan sengaja. Tidakkah ia sadar bahwa dirinya dirugikan? Musisi ini hanya menjawab singkat, “Inilah cara pemasaran yang baru, bukan dengan menjual CD-nya lagi.” Kita lihat bahwa cara pemasaran dan cara menjual hak cipta pun sekarang sudah berganti gaya.

Perkembangan teknologi dan ekonomi diikuti dengan krisis sungguh memacu kita untuk berpikir keras mencari jalan keluar. Produk perangkat keras semakin sulit bersaing dengan perangkat lunak. Sebaliknya, bila kita pandai mengemas nilai tambah, misalnya dengan membuat kemasan yang apik dari produk atau jasa yang kita hasilkan, keuntungan berlipat ganda bisa diraih tanpa menambah modal besar. Kita memang musti berani berbeda kerena differences sangat penting untuk membuat produk dan jasa kita berharga tinggi, bahkan berlipat-lipat. Tanpa inovasi terus menerus, mustahil kita bisa unggul dalam bersaing.

Sikap Rendah Hati dan Mendengar

Selasa, 15 Desember 2020

MENGENAL BIDA'AH PADA MASA PAUS DAMASUS


Ketika menghadapi serangan atau kritikan terhadap ajaran Gereja, seharusnya umat katolik tidak perlu merasa resah, kaget atau gelisah. Sejak awal berdirinya Gereja sudah dihantam kritikan dari berbagai macam penjuru. Istilahnya, setiap zaman selalu ada tantangannya tersendiri. Dan sebenarnya hal ini sudah diramalkan oleh Yesus, sebelum Dia wafat.

Demikian halnya pada masa Paus Damasus. Sejak terpilihnya menjadi Paus (1 Oktober 366) hingga wafatnya di tahun 384, ada begitu banyak aliran sesat yang berusaha menggoncang iman umat. Tujuannya agar umat meninggalkan Gereja Katolik.

Berikut ini akan disajikan aliran-aliran sesat pada masa Paus Damasus.

APOLINARISME merupakan aliran yang digagas oleh Uskup Apoliniarius dari Laodikhea (310 – 390). Apolinarius sebenarnya mau membela keilahian Yesus melawan gagasan Arius (Arianisme), namun usahanya justru berlebihan. Ia meniadakan kemanusiaan Yesus demi membela keilahian-Nya. Apolinarius akhirnya dituduh sebagai bida’ah dalam Konsili Konstantinopel tahun 381.

Apolinarisme mengajarkan bahwa Yesus tidak memiliki roh atau jiwa rasional, kecuali Logos ilahi. Apolinarius tidak bisa menerima kalau Yesus itu manusia, karena kemanusiaan itu memiliki sifat rapuh, sementara, dapat binasa dan lain sebagainya. Dan tak mungkin yang manusiawi ini berada dalam tubuh yang ilahi. Karena itulah, Apolinarius berpendapat bahwa Yesus itu ilahi.

MACEDONIANISME merupakan aliran sesat yang muncul pada abad IV. Aliran ini menyangkal kepribadian penuh dan keilahian Roh Kudus. Menurut Macedonianisme Roh Kudus diciptakan oleh Putera; karena itu berada di bawah Bapa dan Anak. Dengan kata lain, posisi Roh Kudus lebih rendah dari Putera. Ini tentu bertentangan dengan ajaran teologi kristen Ortodoks, dimana Allah adalah satu dalam esensi tetapi tiga pribadi -Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang berbeda dan sama.

Aliran Macedonianisme secara resmi dikutuk pada tahun 381. Melawan ajaran sesat ini Gereja terus memperluas Kredo Nicea yang menegaskan keyakinan Ortodoks Trinitas, "yang dengan Bapa dan Anak bersama-sama disembah dan dimuliakan." Akhirnya,  Macedonianisme ditindas oleh kaisar Theodosius I.

Minggu, 13 Desember 2020

JEJAK NESTORIANISME DALAM ISLAM


Pada umumnya orang memahami bahwa pendiri agama islam adalah nabi Muhammad SAW. Sekalipun umat islam mengakui juga nabi-nabi yang ada dalam agama Yahudi dan kristen (meski ada beberapa yang tidak sesuai) seperti Nuh, Abraham, Musa, Daud, Salomo hingga Isa Almasih (Yesus Kristus), namun nabi Muhammad SAW menempati posisi yang paling istimewa. Penghinaan terhadapnya bisa berakibat maut, sementara terhadap lainnya biasa saja. Nabi-nabi lain bisa saja dilupakan, tapi tidak dengan Muhammad SAW. Memisahkan islam dari nabi Muhammad dapat melahirkan “agama zombie”, agama tanpa roh.

Muhammad SAW lahir di Mekkah dari suku Quraisy, suku terbesar di Mekkah, pada tahun 570. Sejak kecil dia sudah menyandang status yatim piatu. Ibunya meninggal tak lama setelah melahirkannya, sedangkan ayahnya beberapa tahun kemudian. Sejak kecil nabi Muhammad SAW diasuh (dirawat dan dibesarkan) oleh seorang wanita badui dalam kelompok badui.

Pada masa hidup nabi Muhammad SAW, di daerah sekitar Mekkah, atau tanah Arab pada umumnya, telah berkembang beberapa agama. Interaksi antar pemeluk agama di sana sudah lumrah terjadi. Tidak ada gesekan atau konflik, karena mereka lebih mengurus urusan bisnis. Masalah agama merupakan urusan pribadi. Sekalipun agama adalah urusan pribadi, bukan tidak mungkin terjadinya saling pengaruh, entah itu soal ajaran atau pun tata cara peribadatan.

Ketika muncul obsesi menjadi pemimpin lewat jalur agama, Muhammad sudah terlebih dahulu berkontak dengan umat-umat agama lain. Bukan tidak mungkin nabi Muhammad SAW “belajar” tentang agama-agama tersebut dan membuat pilihan seperti apa nantinya agama yang hendak didirikannya. Ada kesan sepertinya Muhammad SAW awalnya menjatuhkan pilihan pada agama Yahudi dan Kristen sebagai modelnya. Nabi Muhammad melihat dan menilai bahwa agama kristen merupakan kelanjutan dari agama Yahudi, sehingga Muhammad menyiapkan agamanya sebagai kelanjutan dari agama kristen. Banyak umat islam percaya hal ini sehingga mereka selalu mengaitkan warta dalam Alkitab dengan ramalan kedatangan Muhammad SAW, sebagaimana kehadiran Yesus yang diramalkan dalam kitab suci Yahudi.

Sekalipun agama kristen pernah diwartakan di tanah Arab pada awal abad pertama, berdasarkan pengakuan Paulus (Galatia 1: 17), namun agama kristen yang berkembang di sana kemudian adalah agama kristen dari aliran Nestorianisme. Dengan aliran inilah Muhammad SAW belajar, menimba dan akhirnya memahami agama kristen. Wikipedia mencatat “Ada bukti dari hadis bahwa Nabi Muhammad pernah melakukan kontak dengan kaum Nestorian Asiria, teristimewa, Bahira. Ada kemiripan antara raka’at atau sembahyang ritual kaum muslim, dengan gerakan membungkuk-takzim yang dilaksanakan kaum nestorian pada pasa pra-paskah.” Dari kutipan ini dapat dikatakan bahwa nabi Muhammad mendapat pengaruh dari aliran Nestorianisme.