Rabu, 09 Desember 2020

INSPIRASI PENGALAMAN ESTHER UEBERALL


Hari ini hari Jumat, hari pertama kami membuka usaha kami. Dengan berseri-seri, saya (17 tahun, pengantin baru) berdiri di sebelah suami saya Solomon, di dalam toko kami yang bernama UEBERALL 3 - 9 - 19 Sen. Toko kami terletak di Brooklyn, Amerika Serikat. Toko ini menjual barang-barang dengan harga pas, senilai 3, 9 atau 19 sen.

Tamu pertama kami melangkah masuk. Beliau seorang imam katolik usia muda, dari sebuah Gereja kecil. Namanya Pastor Caruana. Beliau berbelanja sedikit, dan mukanya gelap, semuram warna jubahnya. "Mengapa sedih Bapa?" suami saya bertanya. Solomon tergolong orang yang sangat mudah ‘jatuh hati’.

Pastor tersebut berbicara pelan, "Gereja kami harus ditutup.”

"Mengapa?" tanya suami saya. Bagi suami saya, agama adalah penyembahan dari menit ke menit. Kami menjalankan semua ritual agama kami. Keluarga Ueberall, sebagaimana sebagian besar orang-orang Yahudi, beragama Yahudi.

Mereka menyembah Allah Yehovah yaitu Allah Abraham, Ishak & Yakub, dan mematuhi hukum Taurat Musa. Mereka bukan beragama Kristen Katolik. Bukan demi ritus itu semata mata, namun kepatuhan kami kepada Allah.

Pastor tersebut menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan $500, untuk Senin mendatang. Jemaatnya miskin, dan tidak mungkin memenuhi tuntutan $500 itu. Gereja pusatnya tidak dapat membantu, dan rasanya tidak ada jalan keluar.

Suami saya mendengarkan dengan cermat, dan tangannya meremas-remas jemari saya. Saya merasakan perasaan hatinya yang terdalam. Kami berdua adalah orang-orang Yahudi, pindah dari Austria (suami saya) dan saya dari Rusia. Kami mencari kehidupan yang lebih aman dan baik di Amerika. Di Eropa, keadaannya kurang begitu baik untuk bangsa kami.

"Tidak! Tidak boleh terjadi." Solomon menggerutu. Ia berpikir keras dan kemudian berkata, "Jangan khawatir Bapa, kita usahakan uang itu." Saya melotot ke arah Solomon. Nggak salah? Lima dollar saja tidak kami miliki saat ini. Pastor Caruana juga melotot memandangi suami saya. Kemudian dengan wajah tidak percaya, beliau meninggalkan kami.

Selasa, 08 Desember 2020

MENGENAL SELAYANG PANDANG ARIANISME


Istilah ‘Arianisme’ diambil dari nama seorang imam (presbiter) yang hidup dan mengajar di Aleksandria, Mesir, pada awal abad IV, yang bernama Arius. Ia berasal dari keturunan Libya. Dari sumber yang terbatas diketahui bahwa Arius pernah berguru dengan Lucianus di sekolah eksegese di Antiokia. Peran dan pengaruh Lucianus sangat besar dalam pembentukan pemikiran Arius di kemudian hari, meski ia tidak pernah dituduhkan sebagai bida’ah.

Arius hidup pada saat Gereja Timur (ortodoks) sedang menghadapi masalah kristologis. Pusatnya ada pada sosok Yesus. Ada yang mengatakan bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia. namun Arius menyangkalnya. Yesus itu diciptakan (dilahirkan), jadi Dia tidak ilahi. Jadi, hanya Bapa saja yang Allah.

Sangat sulit sekarang ini untuk mendapatkan sumber tulisan Arius, karena ada banyak karya dan tulisan Arius dimusnahkan oleh otoritas Gereja, yang menjadi lawannya. Karya utama Arius pun tak luput dari pembakaran. Gambaran tentang Arius saat ini diperoleh dari pandangan para lawan Arius.

Arianisme selama beberapa dasawarsa mendominasi di kalangan keluarga Kaisar, kaum bangsawan kekaisaran dan para rohaniwan yang lebih tinggi kedudukannya. Namun pada akhirnya ajaran resmi Gereja yang menang secara teologis dan politik pada akhir abad ke-4. Sejak saat itu Trinitarianisme telah menjadi doktrin yang praktis tidak tertandingi di semua cabang utama Gereja Timur dan Barat.

Arianisme melihat bahwa Bapa dianggap sebagai "Allah sejati satu-satunya", sedangkan Yesus bukan. Arius berpandangan bahwa Yesus diciptakan oleh Allah sebagai ciptaan pertama. Dengan kata lain, dalam pandangan Arianisme Yesus merupakan puncak kemuliaan dari semua ciptaan. Yesus adalah makhluk ciptaan yang memiliki atribut illahi, namun bukanlah Allah itu sendiri.

Bagi Arius, Logos, yang adalah Yesus, dan Bapa tidak berasal dari hakikat yang sama. Logos itu makhluk ciptaan, diasalkan dari ketiadaan oleh Bapa. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa ada waktu di mana Logos (Putera = Yesus) tidak ada.

Salah satu alasan Arius mengembangkan ajarannya ini adalah untuk mempertahankan ide monoteisme, Allah hanya ada satu. Melihat Yesus sebagai Allah membawa manusia jatuh kepada dualisme, yang mana hal ini bertentangan dengan pandangan Kitab Suci bahwa Allah itu esa.

diolah dari tulisan 8 tahun lalu

Senin, 07 Desember 2020

SELAMATKAN BUMI, SELAMATKAN MANUSIA


Ancaman pemanasan global sudah di depan mata, namun kebanyakan manusia masih abai. Malah ada yang menyatakan bahwa isu tersebut hanya isapan jempol semata.

Mark Lynas, dalam bukunya “Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet”, mengungkapkan secara ilmiah dampak dari pemanasan bumi. Pernyataan dan pertanyaan dasar yang mau dijawab dalam buku ini adalah: Apabila pemanasan global terus berlanjut pada suhu tertentu maka kita akan menghadapi kepunahan. Jadi apa yang sebenarnya akan terjadi apabila bumi terus memanas?

Mark Lynas adalah seorang jurnalis dan penyiar acara lingkungan hidup asal Inggris. Ia telah melakukan perjalanan mengelilingi 5 benua selama 3 tahun untuk menyaksikan berbagai perubahan karena dampak pemanasan global. Mulai dari mencairnya tundra di Alaska, tenggelamnya pulau di Pasifik dari negara bagian dari Tuvalu dan bertambahnya dataran tandus di pedalaman Mongolia sampai pada lenyapnya lapisan es di Peru dan banjir, serta badai yang menyebabkan erosi di China. Mark Lynas secara pribadi mengumpulkan semua bukti yang dikumpulkan dalam bukunya mengenai perubahan iklim, High Tide: The Truth About Our Climate Crisis (Gelombang Besar: Kenyataan Mengenai Krisis Perubahan Iklim Kita).

Setelah itu, dalam waktu singkat Mark Lynas mempelajari lebih mendalam tentang berbagai bukti ilmiah serta rasional mengenai efek pemakaian bahan bakar fosil terhadap iklim, lingkungan, dan kehidupan di planet ini. Beliau menghabiskan waktunya beberapa bulan di perpustakaan ilmiah Radcliffe di Universitas Oxford untuk membaca ribuan buku literatur ilmiah yang telah dianalisa secara mendalam sebelum mempublikasikan buku kejutannya yang kedua, Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet (Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas); sebagai media lain untuk membangkitkan kesadaran.