Kamis, 22 Oktober 2020

KISAH SEORANG ANAK MEMBELI KEAJAIBAN


Tess baru berumur delapan tahun ketika dia mendengar ibu dan ayahnya sedang berbicara mengenai adik lelakinya, Andrew. Ia sedang menderita sakit yang parah dan mereka telah melakukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya. Hanya operasi yang sangat mahal yang sekarang bisa menyelamatkan jiwa Andrew, tapi mereka tidak punya biaya untuk itu. Tess mendengar ayahnya berbisik, "Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya sekarang."

Tess pergi ke tempat tidur dan mengambil celengan dari tempat persembunyiannya. Lalu dikeluarkannya semua isi celengan tersebut ke lantai dan menghitung secara cermat. Dengan membawa uang tersebut, Tess menyelinap keluar dan pergi ke toko obat di dekat rumah. Ia menunggu dengan sabar sampai sang apoteker memberi perhatian, tapi dia terlalu sibuk dengan orang lain untuk diganggu oleh seorang anak berusia delapan tahun. Tess berusaha menarik perhatian dengan menggoyang-goyangkan kakinya, tapi gagal. Akhirnya dia mengambil uang koin dan melemparkannya ke kaca etalase. Berhasil!

"Apa yang kamu perlukan?" Tanya apoteker tersebut dengan suara marah.

"Adikku sakit, aku ingin membeli keajaiban."

"Apa kamu bilang?" Tanya si apoteker lagi.

"Ayahku bilang hanya sebuah keajaiban yang dapat menyelamatkan adikku sekarang dari penyakitnya. Jadi berapa harga sebuah keajaiban?"

"Kita tidak menjual keajaiban di sini, nak. Aku tidak bisa menolongmu."

"Dengar, aku mempunyai uang untuk membelinya. Katakan saja berapa harganya." Ia memaksa.

Rabu, 21 Oktober 2020

INSPIRASI DARI KISAH SEGELAS SUSU


Hari nampak begitu terik. Terlihat seorang bocah kecil sedang berjalan menyisir jalan di sebuah perumahan. Terdengar lirih teriakannya menjajakkan kue buatan ibunya. Rupanya si bocah kecil ini kelaparan, karena semenjak pagi belum sarapan. Ingin rasanya dia mencicip satu kue dagangan milik ibunya, namun dia tidak berani. Maka diputuskannyalah untuk meminta makan di  salah satu penduduk perumahan tersebut.

Ia mengayunkan langkah kakinya menuju rumah yang ada. Dia mengetuk pintunya. Tiba saat sang pemiliki rumah keluar, bocah kecil ini kaget dan ketakutan untuk menyampaikan niatnya meminta makan.

“Iya, ada apa bocah kecil?”

Dengan muka pucat si bocah menjawab, “Tuan, bolehkah saya meminta segelas air putih? Saya haus.”

“Oh, bisa… Siapa namamu nak?”

“Kelly tuan, Howard Kelly.”

Melihat raut muka bocah kecil tersebut si pemilik rumah tidak sekedar memberi segelas air putih. “Ah, sepertinya bocah itu tidak sekedar haus,” gumam pemilik rumah. Maka dibuatkanlah segelas air susu. Menerima pemberiaan tersebut Howard Kelly kecil nampak bingung. Namun dia tidak terlalu menghiraukannya. Diminumnya dengan segera air susu tersebut, setelah selesai dia berterimakasih kemudian berpamitan.

***

Dua puluh tahun berlalu, si pemilik rumah pensiun dari pekerjaannya. Tetapi di masa tuanya tersebut dia harus memikul beban hutang yang besar. Karena tidak kuat membayar, akhirnya rumahnya disita. Hal ini semakin diperburuk dengan kondisi keluarganya yang carut marut. Hingga akhirnya si pemilik rumah ini tidak sadarkan diri dan harus masuk rumah sakit.

Ternyata si pemilik rumah ini tadi harus menjalani operasi besar. Dan ketika sadar, begitu takutnya dia saat ada seorang suster masuk ke dalam kamarnya membawa map besar. Dengan tangan gemetaran dia membuka map besar tersebut, namun dia hanya menemukan secarik kertas bertuliskan,

“Terbayar lunas oleh segelas air susu,

ttd

Howard Kelly”

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Selasa, 20 Oktober 2020

SETIAP ORANG KRISTEN ADALAH MISIONARIS


Setiap peringatan Hari Misi Sedunia, Gereja Katolik selalu mengajak umatnya untuk mengenang jasa para misionaris, baik terdahulu maupun sekarang. Para misionaris ini telah meninggalkan kampung halamannya untuk pergi ke tempat yang jauh demi mewartakan Kristus. Mewartakan Kristus berarti juga mewartakan keselamatan yang dibawa Kristus ke dunia. Selain mengenang jasa para misionaris, pada peringatan Hari Misi Sedunia juga umat kembali disadarkan akan tugas perutusannya sebagai “misionaris” di tengah-tengah kehidupannya.

Setiap umat katolik, yang karena sakramen baptis yang diterimanya, terpanggil untuk bermisi, menghadirkan Kristus di tengah kehidupan (Ad Gentes, 37; Redemptoris Missio, 2). Paus Benediktus XVI pernah mengatakan bahwa hingga kini masih ada orang yang belum mendengarkan kabar gembira keselamatan Kristus. Hal ini kembali diulang oleh Paus Fransiskus dalam pesannya di Hari Minggu Misi Sedunia yang ke-87. Oleh karena itulah, tugas umat kristiani untuk mewartakannya.

Akan tetapi, ada satu hal yang perlu dicermati berkaitan peringatan hari misi ini. Dulu, sumber misi adalah Eropa. Dari sana iman akan Kristus menyebar. Asia, Amerika, Afrika dan Australia adalah lahan misi. Indonesia, yang berada di kawasan Asia, termasuk daerah misi. Kita hanya menerima pewartaan misionaris Eropa tentang Kristus. Dan akhirnya kita hanya menerima wajah Kristus yang Eropa.

Sekarang Eropa mulai sepi. Banyak umat mulai meninggalkan Gereja; dan tak sedikit orang sudah mulai melupakan wajah Kristus yang dulu sangat populer. Gereja Eropa, dalam istilah Paus Fransiskus, sudah menjadi Gereja Tua. Sementara di kawasan Asia, seperti Indonesia, umat masih semangat dengan iman yang mereka terima dari misionaris Eropa. Masih banyak orang yang gandrung akan wajah Kristus Eropa.

Karena itulah, tak heran bila sekarang banyak misionaris Asia, khususnya Indonesia, yang berkarya di Eropa. Dan tak sedikit juga orang Amerika menjadi misionaris di Eropa. Sekarang Eropa menjadi lahan misi. Hal ini sangat diharapkan. Bagi Paus Fransiskus, dalam pesannya di Hari Minggu Misi sedunia yang ke-87, hal ini bisa menjadi semacam jalan untuk “mengembalikan” iman dengan membawa kesegaran Gereja-gereja muda, supaya Gereja-gereja Tua menemukan kembali antusiasme dan kegembiraan dalam berbagi iman.