Senin, 28 September 2020

INI MANFAAT TIDUR BERSAMA BAYI

Bayi adalah kerinduan setiap pasangan suami istri. Pada umumnya setiap orang gemes melihat bayi. Namun ada juga orang yang tak suka dengan bayi, terlebih saat buang air besar atau menangis. Terkait dengan tangis ini, tak sedikit orangtua suka menghindar untuk tidur bersama anak bayinya. Alasan yang sering dilontarkan adalah takut mengganggu, baik orangtua yang mengganggu atau juga orangtua yang terganggu tidurnya. Oleh karena itu, orangtua mengambil solusi dengan membelikan ranjang khusus untuk anak bayi atau menidurinya di ayunan.

Padahal tidur bersama dengan bayi di satu ranjang menyimpan berbagai manfaat. Salah satunya adalah membangun attachment parenting (AP) antara orangtua dengan bayinya. Soal keamanaan tidur seranjang, tidak perlu diragukan

"Ibu memiliki insting untuk tidak menindih bayinya. Ini berbeda dengan suami atau anak-anak (kakak, misal), sehingga mereka tidak disarankan tidur bersama dengan bayi," tutur dr Hadining, SpA. "Dibandingkan sekamar, tidur seranjang lebih banyak memberikan manfaat karena orangtua dapat lebih dekat dengan anaknya. Tak ada kerugian atau sisi negatif tidur seranjang dengan bayi," tambah dr Hadining ini.

Berikut ini beberapa manfaat tidur seranjang dengan bayi:

* Saling mempererat hubungan

Hubungan yang istimewa antara ibu dan anak dapat terjalin karena ada kedekatan fisik. Jarak yang sangat dekat saat ibu dan bayi tidur berdampingan, menciptakan keselarasan. Karena, posisi ibu dan bayi harus saling bertemu muka, posisi hidung keduanya pun saling berhadapan. Pada saat ibu mengembuskan nafas lembutnya, maka akan dirasakan oleh bayi. Embusan nafas ibu ini mampu merangsang bayi menjadi lebih teratur dan baik.

Posisi tidur bayi yang dekat dengan ibu juga membuat sang buah hati dapat membaui aroma tubuh ibu dan memperoleh sentuhan hangat dengan lebih intens. Selain membuat lebih tenang, hal itu juga mengurangi stres pada bayi.

* Bayi tidur lebih tenang dan lelap

Minggu, 27 September 2020

SUNDA EMPIRE DAN ISLAM


Awal tahun 2020, publik Indonesia dihebohkan dengan kehadiran Sunda Empire, yang dikenal juga sebagai Kekaisaran Matahari. Kaisarnya adalah Ratu Agung Ratnaningrum, dan Sekretaris Jenderalnya (semacam mahapati) adalah Rangga Sasana. Lokasi kekaisaran ini ada di Bandung. Yang membuatnya menjadi heboh sebenarnya bukan kemunculannya, tetapi data dan fakta-fakta yang dibawa oleh Sunda Empire ini.

Kehebohan tersebut dapat dirasakan atau disaksikan saat menyaksikan acara Indonesia Lawyers Club di TV One (silakan tonton di sini; kami ambil dari Youtube.com). Hampir semua penonton terpingkal-pingkal mendengarkan keterangan Rangga Sasana, seorang petinggi Sunda Empire. Dia mengatakan Sunda Empire sudah ada sejak Alexander Agung, bahwa PBB dan Pentagon lahir di Bandung, tidak ada satu negara pun bisa berdiri tanpa sepengetahuan Sunda Empire, hingga membawa-bawa Vatikan dalam pusarannya. Ketika ada protes terkait soal data sejarah, dengan santai Rangga mengatakan bahwa kalau sejarahwan dan budayawan tidak tahu Sunda Empire, mereka harus belajar lagi. Yang protes soal data sejarah yang dipaparkan Rangga, maka mereka itu dikatakan kurang paham sejarah atau pengetahuan sejarahnya masih kurang. Ini juga yang membuat heboh.

Pada prinsipnya, data-data historis atau juga keterangan yang disampaikan oleh pihak Sunda Empire, selain tidak sesuai dengan data sejarah, juga tidak masuk akal. Misalnya, dikatakan bahwa Pakualam itu ada di Solo, padahal sebenarnya ada di Yogyakarta; atau pernyataan “Yang bisa hentikan atas nuklir tidak diledakkan adalah Sunda Empire dan saya akan umumkan itu. Segera dalam waktu dekat ini akan diumumkan sebuah sistem, yaitu empire sistem dan Jack Ma dan Bill Gates ada disana.” sungguh dirasakan sulit diterima akal sehat.

Yang menariknya adalah ternyata ada juga yang percaya kepada keterangan-keterangan Rangga (Sunda Empire) tersebut. Hal ini terbukti dari banyaknya orang yang menjadi pengikut Sunda Empire. Tercatat lebih dari seribu orang, yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Mereka percaya data historis yang disampaikan pihak Sunda Empire sebagai suatu kebenaran, sekalipun bertentangan dengan data historis yang sudah ada sebelumnya.

Akan tetapi, sebagaimana telah diketahui umum, Sunda Empire akhirnya bubar. Para petingginya ditangkap polisi dengan dakwaan penyebaran berita bohong. Ribuan pengikutnya mengundurkan diri karena merasa dibohongi. Semua ini bisa terjadi, pertama-tama bukan karena kesigapan aparat polisi, tetapi karena negara mempunyai aturan hukum. Siapa saja yang melakukan kebohongan publik dan menimbulkan keresahan akan berhadapan dengan hukum, dan polisi bertindak atas amanat hukum. Tanpa ada hukum yang dibantu oleh aparat polisi, tentulah Sunda Empire tetap eksis. Terkait kebenaran data historis, mungkin akan muncul gesekan di tengah masyarakat yang bisa mengarah ke anarkis.

Sabtu, 26 September 2020

MEMBACA BUKU “UNDERSTANDING MUHAMMAD: A PSYCHOBIOGRAPHY”


Buku Understanding Muhammad: A Psychobigraphy merupakan buku yang mengupas sosok nabi Muhammad SAW dari aspek psikologi. Buku ini ditulis oleh Ali Sina, seorang warga negara Kanada keturunan Iran. Buku ini ditulis dengan tujuan untuk menunjukkan bahaya islam dan sekaligus menyelamatkan umat islam dari belenggu kebohongan. Bagi penulis, umat islam adalah korban utama dari islam (hlm. 4). Apa yang dikatakan Ali Sina ini mirip dengan pendapat Ernest Renan, filsuf Perancis, “Umat islam adalah korban pertama dari islam. Membebaskan seorang muslim dari agamanya adalah hal yang paling baik yang perlu dilakukan.”
Kata pengantar buku ini ditulis oleh Ibn Warraq, seorang muslim yang kemudian menjadi seorang agnotis. Di sini Ibn Warraq mengungkapkan kenapa Ali Sina, yang adalah seorang doktor, akhirnya bisa meragukan islam dan sekaligus meninggalkan islam. Pengalaman Ali Sina, termasuk keputusannya meninggalkan islam, tak jauh beda dengan pengalaman Ibn Warraq sendiri. Mungkin karena itulah, maka Ibn Warraq diberi kehormatan memberikan kata pengantar pada buku ini.
Yang menarik, buku ini benar-benar mengupas tuntas aspek kejiwaan nabi Muhammad. Sumber-sumber pendukung untuk tinjauan psikologis dapat dipertanggung-jawabkan, meski kesimpulannya tidak mutlak demikian. Akan tetapi, semuanya tergantung pada penilaian pembaca. Namun untuk itu, seperti juga yang dialami oleh Ali Sina, dibutuhkan pemikiran yang terbuka. Ali Sina mengatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah buku Tuhan, tetapi buku penuh ayat-ayat setan, kepalsuan dan hasil dari pikiran yang sakit jiwa. Yang dimaksud dengan “yang sakit jiwa” di sini tak lain dan tak bukan adalah nabi Muhammad. Kiranya inilah yang menjadi dasar dari penulisan buku ini.
Buku ini terdiri dari 6 bab, ditambah dengan diskursus tentang “Pertukaran Pikiran (Dialog) antar Budaya”. Terjemahan bahasa Indonesia, yang dikerjakan oleh Faith Freedom International (FFI), lumayan bagus, dan uraiannya pun sangat sederhana sehingga tidak membosankan untuk membaca. Sangat disayangkan bila buku ini dilewatkan begitu saja, karena selain mengungkap tentang kejiwaan nabi Muhammad, pembaca juga dapat mengetahui sejarah islam. Karena itu, dengan membaca buku ini pembaca dapat mengenal tidak hanya kepribadian Muhammad tetapi juga tentang islam.
Untuk dapat membaca (atau juga mend-download) buku ini, silahkan klik di sini. Selamat membaca!!!