Rabu, 05 Agustus 2020

LOGIKA SESAT HUKUMAN MATI

Indonesia termasuk salah satu negara yang masih menerapkan hukuman mati. Hukuman mati dalam undang-undang hanya dikenakan kepada terpidana kasus narkoba dan kasus kejahatan kemanusiaan, seperti teroris. Pro kontra pada penerapan hukuman mati pun merebak. Mereka yang menentang hukuman mati mendasarkan alasannya pada aspek hak asasi manusia (HAM), sementara mereka yang mendukung diterapkannya hukuman mati didasarkan pada alasan efek jera. Mereka yang mendukung melihat bahwa dengan efek jera yang ditimbulkan oleh hukuman mati dapat mengurangi tingkat kejahatan, atau malah menghilangkannya.
Akan tetapi, haruskah pelakunya dihukum mati? Apakah efek jera hanya dengan cara hukuman mati?
Logika Sesat
Seorang mantan hakim yang pernah menjatuhkan hukuman mati mengungkapkan alasan sederhananya mendukuing hukuman mati, yaitu bahwa rakyat mendukung. Ia mengambil contoh, ketika terhadap kejahatan berat dijatuhi hukuman bebas, maka rakyat akan marah; namun ketika dijatuhi hukuman mati maka rakyat diam saja. Diamnya rakyat dinilai sebagai bentuk persetujuan pada putusan tersebut.
Sungguh, ini merupakan suatu kesesatan berpikir. Pertama, contoh yang diambil terlalu hitam putih sehingga tidak memberi peluang pada warna lain. Mantan hakim itu hanya memberi putusan antara bebas dan hukuman mati, tanpa memberi kesempatan pada pilihan lain. Sehingga kalau tidak A, maka Z. Padahal antara A dan Z masih ada banyak pilihan. Antara putusan bebas dan hukuman mati, masih ada banyak hukuman lain, mulai dari ringan, agak ringan, agak berat, berat, sangat berat sampai pada hukuman seumur hidup.
Kedua, sekalipun hukum itu harus menyentuh rasa keadilan rakyat, namun suara hati tetap harus dijunjung tinggi. Diamnya rakyat terhadap putusan hukuman mati belum tentu berarti bahwa putusan itu sudah menjawab rasa keadilan rakyat. Harus bisa dibedakan antara rasa adil dan rasa puas. Kebanyakan orang baru merasa puas jika keinginannya terpenuhi. Orang masih hidup dalam jaman jahiliyah: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Jadi, bila ada keluarga saya mati, maka pelakunya juga harus mati. Di situlah saya baru puas; dan kepuasan inilah yang dikatakan keadilan.

Selasa, 04 Agustus 2020

TIPS MENENTUKAN HADIAH YANG DISUKAI PACAR


Mungkin sebagian kita pernah mengalami kebingungan di saat sang pacar akan merayakan ulangtahunnya. Kita bingung kado apa yang akan kita berikan kepadanya. Kebingungan tersebut beralasan selain karena takut memberi hadiah yang sama, juga takut pemberian kita tak sesuai sama keinginannya. Akar ketakutan kita itu adalah karena kita mau menjaga image diri kita dan juga relasi kita.
Sebenarnya kita tak perlu sampai cemas begitu. Berikut ini ada tips yang dapat membantu kamu untuk menentukan hadiah yang pas buat sang pacar. Tips ini terbilang cukup sederhana. Kamu tinggal menjawab beberapa pertanyaan simpel di bawah ini, sesuai kebiasaan pacarmu. Terus, hitung nilainya dan kamu bakal ngerti tipe hadiah kesukaannnya. Oke, selamat mengisi.

MEMAHAMI PERSELINGKUHAN DARI SUDUT PANDANG PRIA


Selingkuh adalah kata yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Kata ini sering melanda relasi manusia. Karena itulah, kata ini sangat ditakuti saat orang hendak membangun sebuah relasi. Perselingkuhan bukan hanya terjadi pada relasi suami-istri atau relasi pacaran saja, melainkan relasi politik. Perselingkuhan yang terjadi menunjukkan adanya ketidak-setiaan pada komitmen. Hal ini bisa saja disebabkan adanya kepentingan. Orang atau partai politik yang selingkuh pasti karena adanya kepentingan.
Pendapat umum berkata bahwa kaum pria memang suka selingkuh. Karena itu selingkuh lebih diidentikkan dengan kaum laki-laki. Tapi apakah selingkuh itu monopoli kaum Adam?
Minggu lalu kita sudah melihat ulasan selingkuh dari aspek kaum laki-laki: alasan laki-laki selalu diidentikkan sebagai tukang selingkuh; konsep selingkuh bagi laki-laki; sikap pria jika pasangannya yang selingkuh. Hari ini kami akan menurunkan tulisan soal selingkuh dilihat dari perspektif kaum perempuan.
1.    Wanita Lebih Sering Selingkuh daripada Pria
Bahagia atau tidak bahagia dengan pasangannya, pria cenderung berselingkuh. Begitu menurut tinjauan psikologis para peneliti. Namun, bila membicarakan soal selingkuh, wanita ternyata bukan cuma sama bengalnya dengan pria, tetapi juga lebih parah.
Sebuah studi yang dilakukan belum lama ini menunjukkan bahwa wanita lebih sering berselingkuh daripada pria. Demikian dilaporkan harian Daily Telegraph di London. Dari 3.000 wanita, 40 persen mengaku pernah memiliki affair dengan pria lain. Bandingkan dengan pria yang hanya 30 persen pria. 
Meski studi ini memang tidak 100 persen ilmiah namun hasil ini sedikit membuka mata banyak orang perihal kebiasaan seksual wanita. Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah ini, antara lain, meningkatnya kesamaan penghasilan dan lebih banyaknya peluang yang terbuka karena para perempuan yang bekerja lembur.