Sabtu, 01 Agustus 2020

INILAH KEBIASAAN BURUK YANG BERMANFAAT


Setiap manusia tentulah mempunyai kebiasaan buruk. Tak jarang orang selalu berusaha untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu agar orang bisa tampil baik. Padahal menurut Bramirus Mikail tidak semua kebiasaan yang dianggap buruk selalu berimplikasi negatif bagi kehidupan seseorang. Ternyata ada juga kebiasaan buruk yang justru memberikan manfaat. Berikut ini 9 kebiasaan buruk yang mempunyai manfaat.
1. Minum kopi
Orang tahu bahwa minum kopi terlalu banyak dapat berakibat buruk bagi kesehatan, misalnya lambung. Akan tapi, ada bukti yang menunjukkan bahwa kopi dapat membantu mengatur mood kita. Kafein, yang terdapat dalam kopi, akan mengaktifkan zat kimia otak seperti dopamin dan serotonin yang dapat meningkatkan mood, sehingga memberikan dorongan besar ketika orang membutuhkannya. Studi terbaru bahkan menemukan bahwa perempuan yang minum dua sampai tiga cangkir kopi per hari memiliki risiko 15 persen lebih rendah terkena depresi. Namun, para peneliti tidak menyarankan minum lebih dari satu cangkir sehari, sementara mereka yang belum pernah minum kopi disarankan untuk tidak memulai mencobanya.
2. Minum bir
Bir sering dikaitkan dengan miras (minuman keras), sehingga orang yang meminumnya selalu mendapat cap “pemabuk”. Padahal tidak semua peminum itu adalah pemabuk. Apa manfaat minum bir? Mungkin banyak orang akan senang ketika mendengar bahwa minum bir baik untuk jantung. Bir mengandung antioksidan menyehatkan dan menguatkan tulang karena kaya kandungan mineral silikon. Bir hitam mengandung banyak zat besi dan juga dapat membantu meningkatkan kadar kolesterol baik. Untuk mendapatkan manfaatnya peneliti menyarankan untuk minum satu bir per hari (atau kurang).
3. Permen karet
Para pecinta sepakbola era 90-an hingga dekade pertama tahun 2000 tentu ingat kebiasaan Alex Ferguson, Manager Manchester United ketika mendampingi anak-anak asuhannya berlaga. Ia selalu berdiri di pinggir lapangan sementara mulutnya tak pernah berhenti seperti komat-kamit. Itu bukan sedang membaca mantra agar anak asuhnya menang, tetapi sedang mengunyah permen karet. Kebiasaan mengunyah permen karet bisa membantu meningkatkan memori jangka pendek dan panjang (walaupun peneliti tidak yakin mengapa hal ini bisa terjadi). Namun satu hal yang pasti, permen karet dapat membantu orang menurunkan sedikit berat badan dengan membantu merasa lebih kenyang. Akan tetapi perlu diperhatikan juga agar memilih permen karet yang bebas gula untuk melindungi gigi dari kerusakan.

Jumat, 31 Juli 2020

KENAPA ISLAM PALING NGOTOT GANYANG PKI. INI PENJELASANNYA


Ketika ada isu PKI (Partai Komunis Indonesia), ormas islam paling getol tampil menentang. Seperti saat demo menentang pembahasan Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Persaudaraan Aliansi (PA) 212, sebuah kelompok islam yang dulu menjatuhkan Basuki Tjahaya Purnama (BTP), tampil garang. Sekalipun di tengah bahaya pandemic covid-19, mereka turun ke jalanan tanpa memperhatikan protocol kesehatan. Bahkan anak-anak pun diikut-sertakan. Kelompok ini tekesan mempunyai tujuan luhur, yakni membela Pancasila. Ketua PA 212, Slamet Maarif, mengaku tak khawatir terjangkit virus covid-19 setelah berkerumun dalam demonstrasi menolak RUU HIP. Menurut Slamet, demonstran yang mengatas-namakan Aliansi Nasional Antikomunis itu rela mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan Pancasila dan NKRI.
Jika diperhatikan dan dicermati aksi-aksi menentang komunisme dan antek-anteknya seperti PKI, kelihatan ormas-ormas islam ini terkesan mengidap fobia. Wikipedia mengartikan fobia sebagai rasa takut yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Ketakutan itu terkadang irrasional. Misalnya, orang fobia pada hantu, melihat bayangan saja sudah ketakutan, atau melihat di kejauhan daun melambai-lambai mengira hantu, atau mendengar suara kresek-kresek di kamar sebelah di malam gelap sudah ketakutan karena menyangka itu hantu, padahal hantunya sama sekali tidak ada. Secara sederhana, orang yang fobia mengalami ketakutan pada hal-hal yang sebenarnya tidak ada, atau takut pada hal-hal yang mirip, identik, mendekati dengan apa yang ditakuti.
Demikianlah dengan ormas-ormas islam. Ketika melihat ada gambar palu arit, mereka langsung bergejolak dan ketakutan akan bahaya kebangkitan komunisme atau PKI. Bahkan ketika ada seminar yang membahas komunisme pun langsung dituding dengan kebangkitan PKI. Hal seperti inilah yang terjadi saat demo menentang RUU HIP. Juru bicara PA 212, Novel Bamukmin, dalam acara diskusi di Kompas TV mengungkapkan kecurigaan kelompoknya akan tumbuhnya benih-benih komunisme yang tertuang dalam RUU HIP. Padahal bila membaca teks-teks RUU tersebut, sama sekali tidak ada indikasi ke sana. Pakar Komunikasi Univesitas Indonesia, Ade Armando, dalam acara yang sama menegaskan hal tersebut. Bagi Ade, pasal-pasal yang ada di RUU lebih pada pro rakyat, tidak ada unsur kebangkitan komunisme sebagaimana dicurigai kelompok PA 212.

Kamis, 30 Juli 2020

MUNGKINKAH ADA AGAMA DI BALIK AMBIL PAKSA JENASAH COVID-19

Sejak bulan Mei hingga kini, setidaknya sudah ada lebih dari 10 kasus pengambilan paksa jenasah yang diidentifikasi mengidap covid-19. Provinsi paling banyak kasus ini adalah Provinsi Jawa Timur (Pasuruan, Pamekasan, Gresik, Surabaya) diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah lain yang ada kasus ambil paksa adalah Aceh, Mataram dan Ambon. Tak jarang dalam proses pengambilan jenasah itu cara-cara kekerasan dilakukan. Dan kalau diperhatikan baik-baik, sebagian besar peristiwa itu terjadi di daerah dengan mayoritas pemeluk agama islam.
Peristiwa ambil paksa jenasah covid-19 ini sepertinya bertolak belakang dengan peristiwa penolakan jenasah covid-19. Setidaknya ada lebih dari 5 kasus penolakan jenasah covid-19 ini. Mereka yang menolak dilandasi pada ketakutan akan penyebaran virus covid-19. Dengan kata lain, warga sadar akan bahaya penyakit tersebut. Ketakutan itu dirasakan berlebihan sehingga menolak pemakaman jenasah covid di wilayahnya, sekalipun pemakaman itu dilakukan dengan standar tinggi. Artinya, bahaya penyebaran virus tidak akan terjadi, alias aman.
Berbeda dengan kasus ambil paksa jenasah. Bukan tidak mungkin mereka yang melakukan hal tersebut sebenarnya sudah tahu dan sadar akan bahaya yang ditanggung akibat dari perbuatannya. Setidaknya ada 2 dasar yang melandasi aksi pengambilan paksa jenasah covid-19 itu. Dasar pertama dan yang paling kuat adalah tidak percaya proses pemulasaran jenasah covid-19 dengan protokol covid-19. Pihak keluarga dan juga warga meragukan proses pemulasaran jenasah sesuai dengan tradisi yang berlaku. Ada sebagian warga percaya bahwa jenasah yang dimakamkan sesuai protokol covid-19, tidak dimandikan dan diproses sesuai ajaran yang ada.
Dasar kedua adalah pihak keluarga dan warga tidak percaya kalau jenasah meninggal karena covid-19. Hal ini disebabkan karena saat dibawa ke rumah sakit, keluhannya bukanlah covid, melainkan sesak nafas, tensi tinggi, jantung atau penyakit lainnya. Akan tetapi, ketika meninggal dan setelah dilakukan tes swab, pihak rumah sakit memvonisnya covid-19. Hal inilah yang meragukan pihak keluarga dan juga warga. Padahal, covid-19 hanya bisa dilakukan dengan proses medis, bukan hanya sebatas ucapan belaka, karena virus ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.