Minggu, 07 Juni 2020

SEBUAH REFLEKSI ATAS PERJALANAN KAUL KEMISKINAN


Kaul kemiskinan merupakan satu dari tiga kaul yang diucapkan oleh mereka yang ditahbiskan menjadi imam serta mereka yang mengikatkan dirinya pada suatu Lembaga Hidup Bakti. Istilah kaul lebih sering digunakan untuk biarawan dan biarawati, yang masuk dalam Lembaga Hidup Bakti, sedangkan istilah janji dipakai untuk imam non Lembaga Hidup Bakti atau imam diosesan. Dalam tulisan permenungan ini istilah yang dipakai cuma “kaul” saja, namun bukan lantas berarti tulisan ini hanya ditujukan pada anggota Hidup Bakti. Dengan penyebutan atau penulisan kata “kaul” berarti termaksud juga istilah “janji”.
Di atas sudah dikatakan bahwa kaul kemiskinan ini merupakan salah satu dari tiga kaul. Ketiga kaul itu adalah kemiskinan, kemurnian (selibat) dan ketaatan. Ketiga kaul ini termasuk tiga nasehat Injil, dengan catatan dilakukan demi kerajaan Allah. Tiga nasehat Injil ini didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan dan dianjurkan oleh para Rasul, para Bapa-bapa Gereja. Maka nasehat-nasehat itu merupakan kurnia ilahi, yang oleh Gereja diterima dari Tuhan dan selalu dipelihara dengan bantuan rahmat-Nya demi tercapainya cinta kasih sempurna. (Lumen Gentium no 43, Perfectae Caritatis no 1).
Memang dewasa ini tiga nasehat Injil ini identik dengan kaum religius dan para imam (klerikus). Namun bukan berarti bahwa ketiga nasehat Injil ini hanya khusus untuk mereka. Umat beriman kristiani juga wajib menghayatinya (bdk. LG, no 44). Malah bisa dikatakan bahwa penghayatan nasehat-nasehat Injil sebagai wujud mengikuti Kristus muncul pertama kali dalam diri kaum awam (bdk. PC no 1). Namun, baik awam maupun bukan, Lumen Gentium menasehati agar “setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasehat-nasehat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya ia bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi makin suburnya kesucian Gereja, supaya makin dimuliakanlah Tritunggal yang satu tak terbagi, yang dalam Kristus dan dengan perantaraan Kristus menjadi sumber dan asal segala kesucian.” (no. 47).

Jumat, 05 Juni 2020

AL-QUR’AN, KEBENARAN YANG MEMBINGUNGKAN

Al-Qur’an adalah kitab suci yang berisi kata-kata Allah SWT. Umat islam biasa menyebut Kalam Allah. Kata-kata atau wahyu Allah ini diberikan kepada nabi Muhammad SAW secara langsung. Dalam surah Az-Zumar, Allah berfirman, “Kitab (Al-Qur’an) ini diturunkan oleh Allah Yang Mahamulia, Mahabijaksana.” (ayat 1). Selanjutnya dalam ayat 2 dikatakan, “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran.” Ayat 2 ini setidaknya menegaskan 3 hal, yaitu sumber, alamat tujuan (kepada siapa ditujukan) dan isi. Kitab itu (Al-Qur’an) bersumber dari Allah SWT, ditujukan kepada Muhammad, dan isinya adalah kebenaran.
Sumber dan isi dari kitab itu (Al-Qur’an) memang tak bisa dipisahkan. Kebenaran selalu berkaitan sangat erat dengan Allah, karena kebenaran itu bersumber dari Allah. Hanya Allah saja yang memegang kebenaran sejati. Karena itu, Allah mempunyai sifat mahabenar. Karena Allah itu mahabenar, maka Al-Qur’an yang berasal dari-Nya pun merupakan kebenaran yang meyakinkan (QS Al-Haqqah: 51).
Akan tetapi, berhadapan dengan beberapa fakta yang ada saat ini, kebenaran Al-Qur’an menjadi sangat membingungkan. Berikut ini kita ambil beberapa kebenaran Al-Qur’an yang berhadapan dengan fakta.

Kamis, 04 Juni 2020

SUKSES BERAWAL DARI KEGAGALAN


Kita tentu sudah kenal dengan Oprah Winfrey yang terkenal dengan acara televisinya Oprah Show. Oprah pernah berkata, "Berpikirlah seperti ratu. Ratu tidak takut gagal. Kegagalan adalah batu loncatan lain untuk keberhasilan." Apa yang disampaikan oleh Winfrey itu tak jauh beda dengan nasehat pepatah lama: “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”.
Sering dikatakan bahwa ungkapan-ungkapan seperti itu hanyalah pemanis hidup di saat derita melanda. Bukan tidak mungkin tujuannya adalah untuk menghibur dan memotivasi orang yang mengalami kegagalan supaya tidak larut dalam kegagalannya. Dengan kata lain, ungkapan tersebut hendak mengajak orang yang jatuh untuk bangkit kembali.
Salah satu kunci keberhasilan mengelola kegagalan adalah pikiran positif yang menuntun kita untuk merefleksikan kegagalan dan menemukan kelemahan dan kekurangan yang perlu diperbaiki. Akan tetapi, saat mengalami masa-masa sulit, memang susah menjaga pola pikir untuk tetap positif dan mencegah hati merasa sebagai seorang pecundang. Namun dengan mengingat lagi kisah-kisah orang besar, bisa dipastikan setiap orang yang berhasil pasti pernah gagal. Tetapi mereka tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang gagal.
Ada begitu banyak tokoh sukses yang berhasil mengatasi kegagalan menjadi kesuksesan. Wolfgang Mozart, misalnya, salah satu pencipta musik genius pernah dikritik oleh Kaisar Ferdinand yang menganggap operanya berjudul The Marriage of Vigaro "terlalu bising" dan mengandung "terlalu banyak not". Pelukis Vincent van Gogh yang lukisannya mencapai rekor tertinggi dalam nilai penjualan, hanya berhasil menjual satu lukisan selama seumur hidupnya.