Kamis, 14 Mei 2020

IKAN BELANAK

Suatu pagi di Pasar Ikan Dabo. Seorang bapak tua etnis China masuk dan melihat-lihat ikan yang ada di meja jual. Masing-masing pedagang menyambutnya dengan menawarkan ikan dagangannya. Mereka menyebut nama ikan dan ada juga yang menambahkan harganya.
Pedagang : Ikan belanak, ikan belanak. Masih segar. Mari kong, dibeli ikan belanaknya.
Akong itu berhenti sambil melihat-lihat ikan yang ditawari.
Pedagang : Masih segar kong ikan belanaknya. Murah.
Akong     : Semua ini ikan belanak ya?
Pedagang : Betul kong. Ikan belanak.
Akong itu kembali mengamati ikan-ikan yang ada di meja jualan. Sesekali ia membalik-balikkan ikan itu.
Akong     : Haiya, lu bilang semua ini ikan belanak. Tapi oe tak lihat lah anaknya. Bunting aja tidak, gimana lu bilang ikan belanak.
Pedagang : Ini ikan belanak kong, bukan ikan beranak.
Ujung Beting, 6 Maret 2020
by: adrian

Rabu, 13 Mei 2020

INILAH CIRI TEMAN YANG “BOSSY”


Manusia adalah makhluk sosial. Kesosialannya membuat setiap orang hidup berdampingan dengan orang lain. Dari akar katanya, sosial berarti teman. Karena itulah, sebagai makhluk sosial, setiap manusia selalu menjalin pertemanan dengan orang lain.
Akan tetapi tidak semua pertemanan itu sehat. Penulis Kitab Amsal pernah berkata, “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” (Ams 18: 24). Dalam hubungan pertemanan yang sehat, satu pihak akan mencoba untuk menghormati dan membantu yang lain. Sementara dalam persahabatan yang tidak sehat, teman mungkin justru akan bersikap seolah-olah sebagai atasan atau menggertak di setiap kesempatan.
Teman yang tidak sehat ini suka mengendalikan dan menuntut demi kepentingan dirinya. Berikut ini beberapa ciri yang akan memberi kita petunjuk perihal teman kita.
1.  Mereka memutuskan apa yang terjadi

Selasa, 12 Mei 2020

PAUS FRANSISKUS: JANGAN PERNAH PUTUS ASA, TAPI PERCAYA KEPADA YESUS


Dalam sambutan doa Regina Ceali (Ratu Surga) secara live streaming dari Perpustakaan Apostolik Vatikan, Paus Fransiskus mengajak umat beriman untuk tidak pernah putus asa, tetapi percaya kepada Yesus karena tahu bahwa Dia selalu berada di pihak kita dan ada tempat yang menunggu kita di surga. Paus Fransiskus memusatkan katekese pada Injil hari Minggu, 10 Mei 2020 (Yoh 14: 1 – 12). Dalam Injil itu kita mendengar awal dan apa yang disebut sebagai ‘wacana perpisahan’ Yesus, ketika, pada akhir perjamuan terakhir dan sebelum dimulainya kisah sengsara, Yesus meyakinkan para murid dengan mengatakan, “Jangan biarkan hatimu gelisah.”
Paus Fransiskus menjelaskan bahwa Tuhan menunjukkan dua obat. Pertama, adalah “Percayalah kepada-Ku.” Tampaknya itu saran yang agak teoretis dan abstrak. Sebaliknya, Yesus ingin mengatakan kepada kita sesuatu yang tepat. “Dia tahu, dalam hidup, kecemasan dan kesedihan lahir dari sensasi ketidak-mampuan mengatasinya, dan merasa sendirian,” jelas Paus Fransiskus. Kita tidak bisa mengatasi penderitaan ini sendirian bila satu kesulitan ditambahkan ke kesulitan lainnya. Karena itu, Yesus meminta kita memiliki iman kepada-Nya, dan tahu bahwa Dia selalu berada di pihak kita serta percayakan diri kita kepada-Nya.
Obat kedua untuk hati yang bermasalah, kata Paus Fransiskus, diungkapkan dalam kata-kata Yesus, “Rumah Bapa-Ku memiliki banyak tempat tinggal ... Aku pergi ke situ untuk menyiapkan tempat bagimu.” Itulah yang dilakukan Yesus bagi kita. Dia menyediakan tempat di surga bagi kita. Dia mementingkan kemanusiaan kita di atas diri-Nya (...) ke surga, di situ ada tempat yang disediakan untuk semua orang. Kita hidup bukan tanpa maksud dan tujuan. Kita ditunggu, kita sangat berharga.