Ada
fenomena unik, menarik sekaligus lucu yang biasa terjadi di saat musim kemarau.
Musim kemarau selalu diidentikkan dengan panas dan kekeringan. Panasnya sinar
matahari membuat tumbuh-tumbuhan pada kering kerontang. Hal inilah yang
kemudian memicu timbulnya kebakaran. Kebakaran-kebakaran yang terjadi bisa
karena faktor kesengajaan, seperti membuka lahan pertanian/perkebunan, bisa
juga karena ketidak-sengajaan, seperti membuang puntung rokok.
Peristiwa
kebakaran yang terjadi di musin kemarau selalu membawa dampak pada kabut asap.
Terkadang kepekatan kabut asap membuat kota seperti diselimuti sehingga
menggangu jarak pandang. Tentu saja hal ini berdampak pada kelancaran lalu
lintas, baik darat, laut maupun udara. Sering terjadi adanya penundaan atau
bahkan pembatalan penerbangan lantaran kabut asap. Kabut asap tidak hanya
membahayakan lalu lintas, tetapi juga kesehatan.
Kabut
asap yang ditimbulkan dari kebakaran, ternyata tidak hanya menyelimuti daerah
dimana lokasi kebakaran terjadi. Kabut asap tersebut ternyata berdampak juga
hingga ke daerah lain, yang mungkin tidak ada titik api. Bahkan kabut asap
menjangkau juga negara lain.
Dua
peristiwa tersebut (kemarau dan kebakaran dengan kabut asap sebagai turunannya)
sepertinya telah menjadi agenda tetap tahunan. Sebenarnya masih ada satu lagi,
yang dapat dilihat sebagai hasil dari akumulasi dua peristiwa tersebut, yaitu
doa. Jadi, di setiap musim kemarau panjang, dimana ada kebakaran lahan yang
berdampak pada kabut asap, selalu saja melahirkan doa dari sekelompok orang.
Hal inilah yang kemudian melahirkan enam refleksi berikut ini.

