Sabtu, 10 Agustus 2019

INI KIAT BERANTAS KORUPSI DI INDONESIA

Salah satu tantangan bangsa Indonesia saat ini adalah korupsi yang kian tak kunjung reda. Semakin diberantas, semakin bertambah banyak pelaku korupsinya. Belum lagi tuntas korupsi-korupsi skala kakap, seperti Century dan Hambalang, kasus-kasus OTT (Operasi Tangkap Tangan) kerap menghiasi pemberitaan. Korupsi ini, seperti kata orang Betawi, kagak ade matinye. Menghadapi situasi seperti inilah banyak elemen masyarakat bertanya-tanya: kenapa korupsi tidak berkurang sekalipun para koruptornya sudah ditangkapi dan dipenjara? Bagaimana caranya supaya korupsi makin berkurang dari muka Ibu Pertiwi ini?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, 6 tahun lalu, persisnya 10 Agustus 2013, blog budak-bangka menurunkan sebuah tulisan dengan judul: “Hukuman Bagi Koruptor”. Menilik judul tulisan tersebut, terlihat jelas bahwa solusi untuk memberantas koruptor ada pada hukuman-nya. Tulisan tersebut sendiri lahir menanggapi judul tulisan berita di Harian KOMPAS: “Korupsi Telah Menjadi Budaya”. Penulis blog ini merasa prihatin dengan pernyataan bahwa korupsi telah menjadi budaya; seolah-olah korupsi setara dengan budaya-budaya bangsa ini yang harus dilestarikan. Apakah korupsi memang harus dikembangkan dan dilestarikan?
Menyikapi hal itu, penulis blog budak-bangka menawarkan gagasan tentang hukuman bagi koruptor yang diyakini dapat mengurangi minat orang untuk melakukan tindak korupsi. Salah satu premis awalnya adalah hukuman apa yang membuat orang menjadi jera. Tampak jelas solusi yang diberikan lewat tulisan 6 tahun lalu itu tidak hanya bertujuan menghukum para koruptor tetapi juga mencegah orang lain untuk tidak korupsi.
Dikemas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana dan ringan sehingga mudah dan enak untuk dibaca siapa pun. Tulisan tersebut sangat berguna bagi siapa saja, terutama bagi mereka yang bersentuhan dengan tindak pemberantasan korupsi, terutama presiden dan DPR, karena mereka pemegang kuasa legislatif. Semua itu, seperti dikatakan pada bagian akhir tulisan tersebut, tergantung pada political will.
Apa solusi yang ditawarkan tulisan tersebut untuk membasmi korupsi dari negeri ini? Temukan ulasannya dengan klik dan membaca di sini. Selamat membaca!!!

Jumat, 09 Agustus 2019

RENUNGAN MINGGU BIASA XIX-C

Renungan Hari Minggu Biasa XIX, Thn C
Bac I  Keb 18: 6 – 9; Bac II       Ibr 11: 1- 2, 8 – 19;
Injil    Luk 12: 32 – 48;
Bacaan-bacaan liturgi hari Minggu ini hendak berbicara tentang iman. Bacaan kedua, yang diambil dari Surat kepada Orang Ibrani, memberikan pendasaran tentang iman. Dikatakan bahwa iman merupakan  “dasar dari segala sesuatu yang kita harapan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (ay. 1). Untuk menguatkan pendasaran tersebut, penulis memberikan contoh dari sejarah bangsa Israel, yaitu Abraham, yang dikenal sebagai Bapa Orang Beriman.
Ungkapan iman terlihat juga dalam bacaan pertama. Dalam Kitab Kebijaksanaan diungkapkan bagaimana orang-orang beriman menyatakan dirinya. Secara implisit, penulis Kitab Kebijaksanaan mau mengidentifikasi iman dengan sikap berserah diri (seperti Abraham) kepada “kewajiban ilahi” sehingga mereka “akan mengambil bagian baik dalam hal-hal baik maupun dalam bahaya.” (ay. 9).
Salah satu tantangan iman adalah godaan duniawi yang membuat orang jadi gelisah, takut dan diliputi kekhawatiran. Godaan-godaan duniawi itu dapat berupa kekayaan, jabatan (kekuasaan) dan prestise (bandingkan dengan 3 godaan Yesus di padang gurun). Karena itulah, dalam Injil Tuhan Yesus mengajak para murid untuk tidak takut (ay. 32). Di balik ajakan itu, Tuhan Yesus menghendaki supaya para murid berserah diri kepada penyelenggaraan ilahi (dengan kata lain: beriman). Dengan beriman, para murid tidak melulu memusatkan hati, budi dan hidupnya hanya kepada hal-hal duniawi, melainkan juga mengarahkannya kepada “suatu harta di sorga.” (ay. 33).
Manusia memang hidup di dunia, namun hidupnya tidak melulu terarah pada hal-hal duniawi. Sekalipun hidup di dunia, hidup manusia terarah ke sorga. Sebagai makhluk dunia adalah wajar bila manusia tak dapat lepas dari barang-barang duniawi. Selagi tinggal di dunia, manusia boleh bersentuhan dengannya. Akan tetapi, janganlah benda-benda duniawi itu mengingat manusia untuk tetap di dunia dan melupakan arah tujuannya ke sorga. Hal inilah yang hendak disampaikan Tuhan melalui bacaan-bacaan liturginya. Melalui sabda-Nya, Tuhan menghendaki supaya manusia terus menyadari akan arah hidupnya yang tertuju ke sorga sehingga tidak perlu merasa takut akan hal-hal duniawi.
by: adrian

Kamis, 08 Agustus 2019

MEMILIH NAMA ANAK BUAT ORANG KATOLIK

Setiap orang pasti punya nama, yang umumnya menjadi identitasnya. Nama itu diberikan sejak orang masih bayi. Bagi umat katolik, sebelum memberi nama, orangtua hendaknya memperhatikan apa yang dikatakan Hukum Gereja: “Hendaknya orangtua, wali baptis dan Pastor Paroki menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari citarasa kristiani.” (Kan. 855). Dengan kata lain, nama anak harus memiliki citarasa kristiani. Itulah nama baptis.
Apa maksud nama yang bercitarasa kristiani? Setidaknya ada tiga kategori, yaitu nama dari dalam Kitab Suci, entah itu nama orang, tempat atau apapun (Musa, Abraham, Elia, Yeremia, Yosua, Yesaya, Betania, Korintus, Galatia, dll) dan  dari nama orang kudus (Matius, Agatha, Monika, Agustinus, dll). Kategori ketiga adalah istilah yang sudah familiar dalam Gereja Katolik (Gloria, Sanctus, Maranatha, Grace, Natalius, Paskalia, Adven, dll).
Apa makna nama baptis? Untuk kategori pertama dan kedua, pertama-tama orangtua menyerahkan anaknya kepada perlindungan dan penjagaan tokoh suci yang dipilih. Misalnya, jika nama baptisnya Elia, maka anak itu diserahkan kepada Nabi Elia untuk menjaga dan menyertai perjalanan anak. Memang, peran Tuhan tidak ditinggalkan karena Tuhan adalah pelindung utama umat manusia. Selain itu juga, nama baptis memiliki tujuan supaya anak mengikuti teladan luhur tokoh suci yang dipilihnya. Karena itu, orangtua harus tahu riwayat tokoh suci itu. Sedangkan makna nama berdasarkan kategori ketiga dikaitkan dengan makna istilah tersebut. Misalnya, nama Grace (= rahmat, berkat) berarti agar anak senantiasa membawa rahmat dan berkat Tuhan dalam hidupnya.