Senin, 21 Januari 2019

GUNAKAN CARA PIKIR ORANG LAIN JUGA


Cara Pandang Multi Dimensi” merupakan sebuah tulisan refleksi. Media bantu refleksinya adalah gambar yang ditampilkan pada awal tulisan itu. Gambar itu menampilkan seorang manusia dan seekor kera yang dibuat saling berhadapan seolah-olah kedua makhluk itu saling bertatapan. Kemudian ada 2 gambar kecil yang muncul tepat di atas kepala manusia dan kera itu seakan-akan gambar tersebut merupakan pemikiran mereka. Kedua gambar itu sebenarnya sama, hanya tampilannya berbeda.
Dari gambar inilah kemudian penulis menampilkan sebuah cerita. Kisah tersebut seakan mau mewakili gambar tersebut. Intinya adalah bahwa cara pandang manusia berbeda dengan cara pandang kera. Tersirat ajakan untuk tidak memaksakan pikiran sendiri kepada orang lain. Karena itulah, pesan tulisan ini adalah mengajak kita untuk tidak hanya memakai cara pandang kita sendiri dan memaksakannya kepada orang lain, melainkan menggunakan cara pikir orang lain juga. Dari sini akan terwujud dialog.
Tulisan disajikan dengan cara sederhana dengan menggunakan bahasa yang juga sederhana sehingga mudah dicerna oleh siapapun. Lebih lanjut mengenai tulisan ini dapat dibaca di sini. Selamat membaca!!!

Sabtu, 19 Januari 2019

DOA MOHON KESATUAN


Orang-orang yang percaya pada Yesus Kristus biasa disebut orang nasrani atau umumnya disebut juga orang Kristen. Kata “Kristen” pertama kali muncul di Antiokhia (bdk. Kis 11: 26). Pusat kepercayaan itu ada pada Yesus yang diyakini sebagai Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan/menebus manusia lewat sengsara – wafat – dan bangkit. Tidak hanya sebatas percaya, orang Kristen adalah juga pengikut Kristus.
Memang awalnya hanya ada satu agama Kristen. Namun dalam perjalanan sejarah muncul aneka nama aliran seperti katolik, protestan, anglikan, ortodoks, dll. Munculnya aneka aliran ini tentulah menjadi suatu keprihatinan, karena Yesus sendiri menghendaki adanya kesatuan. Hal ini sudah pernah diungkapkan Yesus (lih. Yoh 17: 11).
Tulisan “Ekumene, dan Yesus pun Menangis” mencoba merefleksikan harapan Yesus seperti yang terungkap dalam doa-Nya untuk para murid-Nya. Dalam tulisan ini, penulis mencoba membuka mata hati para pembaca, khususnya orang-orang Kristen. Lebih lanjut mengenai tulisan ini dapat dibaca di sini.
Selamat membaca!!!

Rabu, 16 Januari 2019

PENGAKUAN SEORANG IMAM SOAL SAKRAMEN TOBAT

Saya pernah bertugas di sebuah paroki di salah satu keuskupan di Indonesia. Saat itu saya sebagai pastor pembantu.
Sudah menjadi kebiasaan di paroki ini, atau mungkin di keuskupan, bahwa menjelang perayaan Natal atau Pekan Suci, ada upacara penerimaan sakramen tobat. Sakramen tobat dilihat sebagai salah satu persiapan umat untuk menyambut Natal dan/atau Paskah. Pada saat ini, penerimaan sakramen tobat biasanya dilangsungkan di komunitas-komunitas.
Selama melayani pengakuan dosa, saya melihat bahwa animo umat terhadap sakramen tobat amat sangat rendah. Dibandingkan sakramen lainnya, kiranya sakramen tobat menduduki urutan pertama sakramen yang tidak laris (urutan kedua adalah sakramen pengurapan orang sakit). Ternyata hal ini dirasakan juga oleh rekan iman lainnya.
Karena itu, pernah kami membuat program katekese tentang sakramen tobat. Dalam katekese ini, kami tidak hanya menyampaikan ajaran Gereja tentang sakramen tobat atau teologi sakramen ini, melainkan juga manfaat sakramen ini baik bagi kesehatan jiwa maupun raga, rohani dan jasmani. Kami jelaskan juga soal ketakutan dan rasa malu umat terkait sakramen ini, serta tata cara pengakuan dosa. Akan tetapi, tetap saja tidak ada perubahan. Ruang pengakuan tetap dingin.