Seorang
pemuda datang menghadap pastor di sakristi usai perayaan ekaristi. Dia meminta
waktu untuk bincang-bincang. Sang gembala segera mempersilahkannya duduk di
kursi yang ada. Kemudian dimulailah pembicaraan.
Ketika
merantau di Jakarta, dia bertemu dengan seorang gadis Sunda. Dia tertarik dan
lalu melamarnya. Tuntutan dari si gadis dan juga pihak keluarga gadis adalah
agar dia masuk islam dulu. Hal ini wajar, karena islam tidak mengenal
perkawinan campur. Karena didorong keinginan untuk mendapatkan gadis itu, dia
pun akhirnya mengucapkan kalimat syahadatin. Dan dia menjadi mualaf.
Setelah
sekian lama hidup di Jakarta, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung
halamannya. Hingga lahir anak keempat, hatinya selalu diliputi kegelisahan. Dia
tidak pernah shalat. Puasa di bulan ramadhan juga tidak (tak jauh beda dengan
istrinya). Setiap kali melihat umat katolik berdoa atau misa di samping
rumahnya, hatinya seakan bergejolak; seolah-olah ada yang menarik-narik
dirinya. Peristiwa ini terus menerus terjadi, membuat dia berpikir “Mungkin
saya harus kembali.”


