Rabu, 07 November 2018

JANGAN ALERGI DENGAN KEBOHONGAN


Dewasa ini kebohongan begitu menjamur di negeri ini, baik dalam kehidupan social kemasyarakatan maupun dalam dunia politik. Tentu masih segar dalam ingatan kita kasus Ratna Sarumpaet, yang termasuk tim pemenangan pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno dalam perhelatan Pilpres 2019. Ratna mengaku dirinya dianiaya oleh orang-orang tak dikenal di sebuah wilayah di Bandung.
Kebohongan Ratna menyeret beberapa tokoh politik, termasuk calon Presiden Prabowo, juga turut menyebarkan kebohongan. Banyaknya kebohongan yang bertebaran, membuat Presiden Jokowi menyerukan untuk menghentikan politik kebohongan. Akan tetapi, seruan beliau justru ditanggapi sinis oleh tokoh-tokoh politik dari kubu Prabowo.
Kebohongan sebenarnya bukan baru ada saat ini. Kebohongan sudah ada sejak adanya manusia, dan akan tetap ada selagi masih ada manusia di muka bumi ini. Kebohongan bersumber dari iblis. Karena itu, tidaklah mungkin untuk menghilangkan kebohongan saat ini.
Tulisan “Berita Bohong Dipersoalkan, Tapi…” mengajak kita untuk melihat dan menyikapi kebohongan dengan lebih bijak. Penulis tidak mengajak pembaca untuk menghindari kebohongan ataupun berita bohong, tetapi justru mengajak pembaca bagaimana menghadapi kebohongan. Terbersit dalam tulisan ini bahwa kebohongan tak perlu dikutuk, tapi disyukuri. Lebih lanjut mengenai tulisan tersebut, silahkan baca di sini. Selamat membaca

Senin, 05 November 2018

MEMBACA BUKU “PUTERA HAMAS”

Putera Hamas merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, Son of Hamas. Kata “Hamas” di sini dapat mengacu kelompok garis keras di Palestina yang lahir dari pertemuan rahasia di Hebron pada tahun 1986. Kelompok ini hadir untuk menyatukan masyarakat Palestina dan menuntut kemerdekaan bagi Palestina, di bawah bendera Allah dan islam. Karena itu, buku ini sangat membantu pembaca untuk mengenal tentang kelompok Hamas, situasi Palestina waktu itu dan juga soal konflik Palestina – Israel.
Buku “Putera Hamas” memaparkan kisah hidup Mosab Hassan Yousef. Karena itu, buku ini lebih merupakan autobiografi, namun Yousef banyak juga membagikan pengetahuan sejarah. Yousef merupakan putra sulung dari keluarga muslim yang cukup terpandang di Palestina. Ayahnya bernama Syeikh Hassan Yousef, salah satu dari tujuh pendiri organisasi Hamas. Kisah hidup yang disajikan dalam buku ini sangat dramatis dan menyentuh hati.
Kisah perjalanan dan perjuangan hidup Yousef ini diramu dalam 27 bab. Dengan menggunakan terjemahan bahasa Indonesia yang cukup memadai, penulis kisah ini menyajikan alur cerita yang sangat menarik, mengharukan dan sedikit menegangkan, karena bercerita juga tentang perang. Konflik demi konflik dalam cerita benar-benar diramu dengan sangat bagus sehingga pembaca dibuat hanyut dalam kisah ini.
Buku ini sangat bagus bagi siapa saja yang ingin mengetahui permasalahan di Timur Tengah, khususnya konflik Israel dan Palestina. Untuk dapat membaca (atau juga men-download) buku ini, silahkan klik di sini. Selamat membaca!
by: adrian

Senin, 29 Oktober 2018

APA ITU PENYELIDIKAN KANONIK


Setelah mengikuti kursus persiapan perkawinan, pasangan calon suami istri memasuki tahap penyelidikan kanonik (PK). Sebelum PK, pastikan terlebih dahulu berkas administrasi yang dibutuhkan seperti sertifikat KPP, surat baptis terbaru, surat krisma, fotocopy KTP calon mempelai dan saksi, pas foto 4x6 2 lembar. Setelah lengkap, menghadaplah ke pastor paroki untuk menentukan tanggal PK. Pelaksana PK biasanya dilakukan pastor paroki, tapi bisa juga pastor pembantu atas mandat dari pastor paroki.
Ada dua makna dari PK ini. Pertama, sebagai bentuk persiapan akhir bagi calon suami istri untuk menghadapi perkawinan. Karena itu, di sini pastor paroki akan menanyakan sejauh mana pemahaman mereka akan hakekat perkawinan katolik sebagaimana telah mereka terima saat KPP. Dengan kata lain, pada PK ini pastor akan membantu calon suami istri untuk lebih memahami nilai-nilai perkawinan katolik dan bagaimana menghayatinya kelak sehingga dapat mencapai apa yang dicita-citakan.
Kedua, sebagai bentuk pemastian bahwa kedua calon mempelai benar-benar sudah siap, mau dan mampu untuk menikah serta bebas dari halangan. Pada makna kedua inilah “penyelidikan” benar-benar diterapkan. Pastor akan berhadapan dengan calon one by one dan menanyakan beberapa pertanyaan sesuai dengan forma penyelidikan kanonik. Misalnya, sungguhkah calon mau menikah dengan pasangannya tanpa ada paksaan, pernahkah calon menikah dengan orang lain dan dengan cara lain atau hidup sebagai imam, biarawan/wati.
Karena PK ini merupakan juga bentuk pemastian, maka sangat dianjurkan agar calon tidak menentukan terlebih dahulu tanggal pesta perkawinan, apalagi membuat dan menyebarkan kartu undangan. Biasanya, pada tahap PK ini, calon baru akan menentukan tanggal perkawinan bersama pastor yang melakukan penyelidikan.
by: adrian