Dalam Pilgub DKI Jakarta
2017 lalu, Anies Baswedan secara mengejutkan mengalahkan Basuki Tjahaya Purnama
(biasa disama Ahok), sekalipun publik sudah mengetahui kinerja bagus Ahok. Tak
bisa dipungkiri, kemenangan Anies adalah kemenangan umat islam, karena senjata
untuk mengalahkan Ahok adalah ajaran agama islam. Dua tahun kekuasaan Anies,
seperti inilah gambarannya.
Senin, 20 Agustus 2018
Sabtu, 18 Agustus 2018
Renungan Hari Minggu Biasa XX - B
Renungan Minggu Biasa
XX, Thn B
Bac
I Ams 9: 1 – 6; Bac II Ef 5: 15 – 20;
Injil Yoh 6: 51 – 58;
Dalam
Injil hari ini Tuhan Yesus memperkenalkan dirinya sebagai roti hidup yang turun
dari sorga (ay. 51). Yesus menegaskan bahwa dirinya, tubuh dan darah-Nya adalah sungguh makanan. “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku
adalah benar-benar minuman.” (ay. 55). Pernyataan Tuhan Yesus ini memang
sungguh tidak masuk dalam akal budi kebanyakan orang Yahudi. Karena itulah,
mereka saling bertengkar dan mempersoalkan pernyataan Yesus tadi (ay. 52).
Menghadapi
orang Yahudi, yang memperkarakan pernyataan Yesus tersebut, kiranya nasehat
Paulus dalam bacaan kedua, dan penulis Kitab Amsal, dalam bacaan pertama, sangat relevan. Di mata
Paulus dan penulis Kitab Amsal, sikap orang Yahudi itu seperti sikap orang
bodoh. Karena itu, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus berkata, “janganlah
kamu bodoh.” (ay. 17); dan penulis Kitab Amsal mengajak umat untuk membuang
kebodohan (ay. 6).
Dari
bacaan pertama dan kedua hari ini, kita bisa mengetahui bahwa sikap orang
Yahudi yang bertengkar soal pernyataan Tuhan Yesus sebagai makanan terjadi
karena mereka hanya mengandalkan kemampuan manusiawinya saja. Orang Yahudi
mencoba memahami pernyataan Yesus tersebut hanya dari sisi akal budi saja. Dan ketika
akal budi menemui keterbatasannya, mulailah mereka saling bertengkar. Karena itu,
Paulus dan penulis Kitab Amsal mengajak kita untuk “mengerti kehendak Tuhan”
(Ef 5: 17; bdk. Ams 9: 6).
Sabda
Yesus hari ini secara khusus ditujukan kepada para murid-Nya. Kepada kita Yesus
berkata bahwa yang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya akan mempunyai hidup
kekal dan akan dibangkitkan pada akhir zaman (ay. 54). Menjadi pertanyaannya
adalah apakah kita memahami sabda Yesus ini dan percaya? Untuk bisa
memahaminya, kita harus mengikuti nasehat Paulus dan penulis Kitab Amsal, yaitu
membuang kebodohan kita. Kebodohan itu terjadi ketika kita memaksakan pemikiran
kita. Kata kunci untuk dapat memahami pernyataan Tuhan Yesus adalah “Yang
memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Jadi, setiap murid Kristus yang makan
tubuh-Nya (lewat ekaristi), akan hidup oleh Kristus, bukan dirinya sendiri.
by:
adrian
Jumat, 17 Agustus 2018
BUTIR-BUTIR REFLEKSI HUT KEMERDEKAAN
Setiap
tanggal 17 Agustus, semua warga Indonesia akan bergembira merayakan hari ulang
tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Aneka kegiatan diselenggarakan, dimulai
dari tingkat RT/RW hingga skala nasional. Warga Indonesia di luar negeri pun
tak mau ketinggalan. Semua bergembira dan bersyukur atas rahmat kemerdekaan
yang Tuhan anugerahkan.
Ada begitu
banyak bentuk acara untuk bersyukur atas anugerah kemerdekaan tersebut. Umat Kristen
Katolik selalu menghaturkan syukur itu lewat perayaan ekaristi. Dan kebetulan
pula, Gereja Katolik Indonesia menetapkan tanggal 17 Agustus itu sebagai Hari
Raya, yang disamakan dengan Hari Minggu. Sangat menarik jika warga Indonesia,
apa pun agama dan kepercayaannya merenungkan butir-butir refleksi HUT
Kemerdekaan ini dalam liturgi Gereja Katolik.
Tulisan
“HUT Proklamasi dalam Liturgi Katolik” coba mengangkat butir-butir refleksi
tersebut. Ada tiga bacaan Kitab Suci dijadikan dasar pijakan refleksi. Bacaan Pertama, yang diambil dari Kitab
Putra Sirakh, lebih ditujukan kepada para pimpinan negeri ini. Di sini mereka
diminta untuk bertanggung jawab atas kesejahteraan warganya. Inilah wujud dan
makna kemerdekaan. Dengan kata lain, kemerdekaan bukan berarti bebas menindas
rakyat kecil.
Bacaan Kedua,
yang diambil dari Surat Petrus yang pertama, ditujukan untuk rakyat. Di sini
rakyat diajak untuk taat kepada Allah dan bersikap hormat kepada penguasa
negeri. Ajakan ini seakan relevan untuk situasi bangsa saat ini, dimana caci
maki dan hinaan kepada presiden begitu mudahnya diumbar di sembarang tempat. Orang
seakan tidak punya rasa hormat kepada presiden yang terpilih secara demokrasi,
hanya lantaran tidak sesuai dengan selera.
Selain
itu, Rasul Petrus juga mengajak warga untuk memaknai kemerdekaan ini dengan
cara hidup sebagai orang merdeka, bukan dengan menyalah-gunakan kemerdekaan. Penyalah-gunaan
kemerdekaan itu identik dengan menyelubungi kejahatan. Nasehat Petrus ini juga
relevan untuk bangsa ini. Ada begitu banyak rakyat Indonesia menyalah-gunakan
kemerdekaannya, seperti narkoba, korupsi, begal, pergaulan bebas, dan masih
banyak lagi. Penyalah-gunaan kemerdekaan membuat orang kembali tertindas.
Bacaan Injil
menjadi prinsip Gereja Katolik dalam hubungannya dengan negara dimana ia
berada. Gereja Katolik selalu membuat pembedaan antara urusan negara dan urusan
Gereja. Masalah agama akan menjadi urusan Gereja, dan tidak akan dicampur-adukkan
dengan masalah negara.
Demikianlah butir-butir refleksi kemerdekaan Republik Indonesia yang ada dalam Liturgi Gereja Katolik. Menyimak butir-butir tersebut sangat jelas nilai universalitasnya. Butir-butir tersebut tidak hanya ditujukan kepada umat Kristen Katolik saja, melainkan kepada semua warga Indonesia, bahkan semua umat manusia. Lebih lanjut mengenai butir-butir tersebut silahkan baca di sini.
by: adrian
Langganan:
Postingan (Atom)



