Minggu, 01 Januari 2017

Memahami Maria sebagai Bunda Allah

Dalam Gereja Katolik, 1 Januari dirayakan bukan hanya sebagai tahun baru, melainkan juga, dan yang terutama, hari raya Santa Maria Bunda Allah. Bunda Allah merupakan salah satu gelar dari Maria. Saudara-saudara muslim sangat sinis dengan gelar ini. Sekalipun mereka mengakui dan menghormati Bunda Maria (ada satu surah dalam al quran, yaitu QS Al Mariyam), namun mereka tidak akan mau mengakui Maria sebagai Bunda Allah. Karena bagi mereka Bunda Maria hanyalah manusia biasa, sama seperti kita. Dia bukan Allah.

Memang sekilas penyebutan Maria sebagai Bunda Allah membuat Maria seolah-olah sebagai Allah. Padahal orang kristen sendiri tidak mengakui hal itu. Umat kristiani, khususnya Katolik, tetap mengakui bahwa Bunda Maria adalah manusia biasa. Dia bukan Allah. Lantas, kenapa gelar ini disematkan pada dirinya? Lebih lanjut tentang hal ini silahkan baca di: Budak Bangka: Memahami Maria sebagai Bunda Allah

Sabtu, 31 Desember 2016

Ketika Agama Menghalalkan Menghina Agama Lain


Bangsa Indonesia seakan menutup tahun 2016 ini dengan topik hangat soal penistaan agama. Setelah Basuki Tjahaya Purnama, atau biasa disapa Ahok, dilaporkan dan kini sedang menjalani proses persidangan, tiga hari lalu giliran Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Shihab, dilaporkan oleh Persatuan Mahasiswa Katolik Indonesia dan kelompok mahasiswa lintas agama. Titik persoalannya adalah pernyataan Habib Rizieq yang dinilai telah menista agama Kristen (protestan dan katolik).
Sempat pula beredar isu penggalangan massa untuk membela Yesus, sesuatu hal yang aneh bagi telinga umat kristiani. Karena agama Kristen, baik itu Protestan maupun Katolik, tidak pernah mengajarkan untuk membela Tuhannya atau agamanya dari penghinaan. Mengenai sikap orang kristiani dalam menghadapi penistaan agama, dapat dibaca di sini.
Memang Habib Rizieq membela dan menyatakan bahwa laporan dua kelompok mahasiswa itu salah alamat. Dengan kata lain, Habib Rizieq tidak melakukan penistaan agama. Habib Rizieq hanya menyampaikan ajaran agamanya. Karena itu, bisa dikatakan bahwa yang melakukan penistaan agama Kristen adalah ajaran islam, bukan Habib Rizieq. Inilah yang mau diangkat dalam tulisan di atas “Ketika Agama Menghalalkan Menghina Agama Lain”. Lebih lanjut mengenai ulasannya, silahkan baca di sini: Budak Bangka: Ketika Agama Menghalalkan Menghina Agama Lain
Masalah penistaan agama memang sedikit agak membingungkan. Karena itu, Tempo online pernah membuat polling dengan pertanyaan “Setujukah anda kalau pasal penistaan agama dihapus saja?” Karena, jika soal penistaan agama ini dilihat secara total (jangan hanya dari sudut islam saja), ada banyak penistaan agama yang terjadi. Dan itu bersumber dari ajaran agama. Bingung kan?

Jumat, 30 Desember 2016

EFEK BURUK ALKOHOL PADA OTAK REMAJA


Anak remaja yang telah mengenal minuman alkohol cenderung untuk menjadi pengguna narkoba di kemudian hari, kata sebuah penelitian baru. Sebuah studi 10 tahun yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Eastern Finland melibatkan sekelompok anak muda berusia 13 – 18 tahun. Pada remaja dibedakan dalam kategori peminum berat atau peminum ringan. Mereka juga telah melakukan scan otak pada tahun 2005, 2010 dan 2015.
Kategori peminum berat diberikan untuk remaja yang mengonsumsi hingga tiga gelas bir atau enam gelas angur seminggu sekali. Sedangkan peminum ringan hanya satu gelas bir serta kurang dari 3 gelas wine per minggu. Walaupun demikian, tak satu pun dari remaja didiagnosis dengan gangguan penyalahgunaan alkohol selama penelitian, sehingga remaja dinilai dalam kondisi sehat.
Sayangnya, meski remaja tampak sehat, penelitian mengungkapkan perbedaan yang signifikan dalam perkembangan otak mereka. Para remaja peminum berat memiliki neuron – sel syaraf yang mengirimkan informasi – yang lebih sedikit di bagian otak yang mengontrol impuls. Hal yang sama juga berlaku untuk jumlah sel syaraf yang mengendalikan empati dan intuisi.
Para peneliti mengatakan, kondisi ini dapat membuat kemampuan menyerap informasi baru menjadi menurun, begitu pula dengan kemampuan kreativitas serta kemampuan memahami perasaan orang lain. Dengan demikian, remaja menjadi lebih rentan untuk terlibat dalam penyalahgunaan zat di kemudian hari, baik alkohol atau obat-obatan lainnya.
Noora Heikkinen, peneliti dari University of Eastern Finland, mengatakan, “Otak masih belum tumbuh sempurna pada masa remaja. Temuan kami sangat menunjukkan bahwa penggunaan alkohol berat dapat menganggu proses perkembangan otak remaja.
sumber: Kompas Health