Kamis, 22 September 2016

Orang Kudus 22 September: St. Hendrikus Saiz Aparicio

BEATO HENDRIKUS SAIZ APARICIO, MARTIR
Hendrikus Saiz Aparicio lahir pada 1 Desember 1889 di Ubierna, Burgos, Spanyol. Menjawab panggilan Tuhan, Hendrikus memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Salesian. Ia mengikrarkan kaul pertamanya pada tahun 1909 di Barcelona-Sarria. Hendrikus ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1918.
Setelah menjadi imam, Hendrikus ditunjuk sebagai direktur pertama kolese di Salamanca, kemudian menjadi rektor aspiran di Carabanchel, Alto, Madrid. Ketika terjadi perang saudara di Spanyol, Hendrikus berusaha untuk melindungi para aspiran. Pada 20 Juli 1936 biaranya diserang. Dengan berani Hendrikus menyerahkan diri dan meminta supaya para tentara melepaskan para aspirannya.
Hendrikus Saiz meninggal dunia pada 2 Oktober 1936 di Madrid, Spanyol. Pada 28 Oktober 2007 ia dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XVI, yang diwakili oleh Kardinal Jose Saraiva Martins.
Baca juga orang kudus hari ini:

Orang Kudus 22 September: St. Ignasius Santhia

SANTO IGNASIUS SANTHIA, PENGAKU IMAN
Orang kudus ini mempunyai nama asli Lorenzo Maurizio Belvisotti. Ignasius lahir pada 5 Juni 1686 di Santhia, Vercelli, Italia. Ia adalah putera dari sebuah keluarga kelas atas. Ignasius menerima pendidikan dari seorang imam yang baik, yang menginspirasinya dan membantunya dalam menjawab panggilan Tuhan. Hal ini diwujudkannya dengan masuk ke seminari.
Pada tahun 1710 Ignasius ditahbiskan sebagai imam diosesan di Vercelli. Setelah 6 tahun berkarya, Ignasius memutuskan untuk bergabung dengan Ordo Fransiskan Kapusin. Pada saat itu Ignasius dikritik oleh keluarga dan umat paroki yang tidak mengerti keputusannya. Dalam Ordo Kapusin ini Ignasius akhirnya mendapati kedamaian batin yang ia cari dalam hidup kesederhanaan. Pada 24 Mei 1717 ia mengikrarkan kaul religiusnya dan memperoleh nama Ignasius.
Ignasius memulai perjalanan rohaninya dengan dikirim dari satu biara ke biara lain di wilayah Savoy, Italia. Dia senang dipindahkan karena ketaatannya dan kehormatan untuk dapat melayani saudara-saudaranya. Pada awalnya Ignasius ditempatkan di biara di Saluzzo, dan bertugas sebagai sakristan. Ia kemudian dipindahkan ke novisiat di Chieri dan bertugas sebagai asisten pembimbing para novis.
Tahun 1727 Ignasius dikirim ke biara di Turin-Monte, dengan tugas sebagai sakristan dan pembimbing rohani. Sebagai pembimbing rohani banyak orang mencarinya, mulai dari kaum religius, imam, umat beriman dan orang-orang berdosa yang paling berdosa untuk mengaku dosa, dan untuk menerima bimbingan rohani. Pada tahun 1731 Ignasius dikirim ke biara Modovi, dimana ia menjadi pembimbing para novis dan vikaris biara.
Ignasius harus meninggalkan novisiat pada tahun 1744 dan pergi ke Turin karena ia menderita penyakit mata yang misterius, yang membawanya hampir pada kebutaan. Ignasius dapat sembuh dari penyakitnya sehingga ia dapat kembali pada aktivitas tugasnya.
Antara tahun 1743 – 1746 terjadi perang di Piedmont. Raja Sardina-Piedmonte, Charles Emmanuel III meminta kapusin untuk menyediakan tenaga medis dan spiritual untuk rumah-rumah sakit. Ignasius ditunjuk sebagai pastor kepala dan menawarkan bantuannya untuk dua tahun di rumah sakit Asti, Vinovo dan Alessandria, melayani dan menyembuhkan dalam semangat kasih injili yang sejati. Ketika Piedmonte dalam keadaan damai kembali, Ignasius kembali ke biara di Turin-Monte, dimana ia akan menghabiskan 24 tahun sebagai pembimbing rohani dan bapa pengakuan.
Ignasius Santhia meninggal dunia pada 21 September 1770 di Turin-Monte, Italia. Pada 17 April 1966 ia dibeatifikasi oleh Paus Paulus VI, dan pada 19 Mei 2002 ia dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II.
Baca juga orang kudus hari ini:

Rabu, 21 September 2016

Bahan Pelajaran Agama Katolik SMA/K XII, Bab 2 sub C

KERJASAMA ANTARUMAT BERAGAMA & BERKEPERCAYAAN
Seorang katolik pernah terlibat dalam suatu forum kerjasama antarumat beragama. Kegiatan forum ini mengadakan dialog antariman dan kegiatan sosial. Dari keterlibatan ini ia mendapatkan pencerahan:
     a.    Tuhan itu satu dan sama untuk semua orang
     b.    Di hadapan Tuhan semua manusia setara
     c.    Agama sebagai jalan menuju Tuhan
     d.    Agama itu tuntunan kepada kebaikan
   e.    Dalam menghayati dan mengamalkan agama, manusia perlu rendah hati dan toleransi
Lima poin di atas bisa menjadi titik temu umat beragama untuk menjalin dialog dan kerjasama.
1.    Berbagai Bentuk Kerjasama Antarumat Beragama
Untuk menemukan bentuk kerjasamanya, terlebih dahulu perlu dipahami sikap beragama. Ada 5 sikap beragama yang menjadi titik tolak pemikiran, yaitu:
(a) Eksklusivitas: merasa ajaran agama yang dipeluk adalah yang paling benar, sedangkan agama lain sesat dan wajib ditobatkan.
(b) Inklusivitas: bersikap bahwa di luar agamanya ada juga kebenaran, meski tidak sesempurna agamanya
(c) Pluralitas atau Paralelisitas: bersikap bahwa agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama
(d) Ekletivitas: sikap keberagaman yang berusaha memilih dan mempertemukan berbagai segi ajaran agama yang dipandang baik dan cocok untuk seseorang
(e) Universalitas: bersikap bahwa pada dasarnya semua agama adalah satu dan sama
Dari lima sikap di atas, yang pertama merupakan sikap yang akan menghambat kerjasama. Karena itu, sikap ini harus disingkirkan. Setelah itu, kita dapat melakukan kerjasama di segala bidang seperti olahraga, kesenian, bakti sosial, ekonomi, dll. Semua itu dapat terwujud jika semua pihak dibebaskan dari segala konflik kepentingan.
2.    Usaha Umat Beriman Mewujudkan Kerjasama Antarumat Beragama
Ada beberapa usaha yang bisa dilakukan, yaitu
(a) Membentuk Forum Persaudaraan Antarumat Beriman. Forum ini menjadi ajang komunikasi, dialog dan kerjasama.
(b) Meningkatkan inklusivitas.
(c) Mengadakan sarana dan prasarana sosial, yang memungkinkan perjumpaan umat beragama.
(d) Pemberdayaan ekonomi masyarakat.
(e) Menyediakan kurikulum pendidikan yang bersifat inklusif
(f)   Membangun budaya yang mampu menciptakan keharmonisan hidup
(g) Membangun sistem politik yang bebas dari segala bentuk konflik kepentingan antargolongan atau agama.
Jika dilihat beberapa usaha di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mewujudkan kerjasama antarumat beragama bukan semata-mata tugas masyarakat semata atau tokoh agama saja, melainkan semua elemen masyarakat termasuk elite pemerintah dan elite politik.
3.    Rancangan & Pelaksanaan Kegiatan Kerjasama Antarumat Beragama
Dialog dan kerjasama spontan dimungkinkan terjadi, tapi hasilnya kurang maksimal. Agar dialog dan kerjasama itu mendapatkan hasil yang baik, maka selain kita meningkatkan mutu keberimanan, kita juga perlu melanjutkan dengan rencana aksi yang konkret dan realistis. Dibutuhkan perencanaan yang matang dengan target-target yang jelas, seperti menyangkut waktu, materi atau bentuk kegiatan, tujuan yang mau dicapai, siapa saja yang dilibatkan, dll.
Hal ini dapat mulai dilakukan di sekolah. Akan tetapi, hendaknya acara ini tidak hanya melibatkan warga internal sekolah, melainkan juga mengundang sekolah-sekolah lain.
sumber: Pendidikan Agama Katolik: Menjadi Murid Yesus untuk SMA/K Kelas XII
Baca juga: