Senin, 18 Juli 2016

Ketika Agama Menghalalkan Menghina Agama Lain

Pada tahun 2012 dunia dihebohkan dengan film Innocence of Muslims dan kartun tentang Nabi Muhammad. Oleh umat muslim, dua hal ini dinilai sebagai bentuk penghinaan terhadap agama islam. Spontan umat islam di seluruh dunia bangkit protes, marah dan ujung-ujungnya rusuh yang menelan beberapa korban. Karena itu, Pendeta John Terry, yang dulu pernah berencana membakar Al-Quran, menanggapi aksi rusuh umat islam ini sebagai cermin islam yang sebenarnya.
Peristiwa ini bukanlah baru pertama kali terjadi. Kita tentu masih ingat dengan ayat-ayat setannya Shalman Rusdhie, kartun Muhammad dengan bom di atas kepalanya atau film Fitnah, yang diproduksi anggota dewan di Belanda. Semua itu dianggap sebagai bentuk penghinaan agama islam. Karenanya, umat islam seluruh dunia bereaksi. Akan tetapi, tak sedikit orang menilai bahwa reaksi umat islam itu terkesan berlebihan.
Tentu tidak semua umat beragama senang jika salah satu atribut agamanya dihina atau dilecehkan. Dan tak bisa dipungkiri juga, hampir semua agama mengalami penghinaan terhadap agamanya. Orang Kristen, Buddha atau Hindu juga pernah mengalami agamanya dihina. Namun reaksi umatnya tidak seperti umat islam.
Terkait dengan penghinaan agama ini, sangat menarik membaca tulisan Raymond Ibrahim. Saya tidak kenal siapa dia. Saya hanya tertarik dengan refleksinya. Sungguh dibutuhkan jiwa besar untuk membaca tulisannya. Sejatinya tulisan Raymon dalam bahasa Inggris, namun saya berusaha mengolahnya ke dalam bahasa Indonesia tanpa menghilangkan maksud dan pesannya. Bukan maksud saya untuk memancing-mancing situasi, melainkan mau mengajak bagaimana menyikapi segala bentuk penghinaan terhadap instrumen agama. Penghinaan agama ini bukan cuma dialami oleh umat islam, tetapi juga semua agama di dunia. Namun cara menyikapinya yang berbeda.
Refleksi Raymond Ibrahim berangkat dari seruan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menyikapi penghinaan terhadap agama islam yang lagi marak. OKI, yang beranggotakan 57 negara, mendorong penegakan hukum "penodaan agama" di arena-teoritis internasional. Maksud OKI adalah untuk melindungi semua agama dari penghinaan. Akan tetapi dalam kenyataannya semua itu dibuat untuk islam -- satu ironi besar. Jjika undang-undang tersebut melarang menghina islam, maka konsekuensi logisnya, mereka juga harus melarang agama islam sendiri untuk tidak menghina agama lain.
Raymond mengatakan bahwa untuk memahami masalah ini, perlu dipertimbangkan apa arti "pencemaran nama baik" itu. Dalam kamus terdapat beberapa arti seperti "menghitamkan reputasi orang lain" dan "fitnah atau pencemaran nama baik." Dalam pemahaman islam, pencemaran nama baik hanya berarti sesuatu yang menghina atau menyinggung perasaan islam.

Sabtu, 16 Juli 2016

Maksud Hati Menyerang Kekristenan, Justru Jadi Bumerang

Buku The Historical of Jesus ini ditulis oleh L. Fatoohi, seorang imigran di Inggris. Lewat karyanya ini Fatoohi mau mengajak pembaca untuk berkesimpulan bahwa Yesus adalah manusia biasa, bukan Tuhan sebagaimana terbaca dalam Injil dan diimani oleh orang Kristen. Jadi, secara tidak langsung, Fatoohi hanya mau membenarkan apa yang dikatakan Al Quran. Di balik semuanya ini tersirat kalau Fatoohi mau melecehkan atau menghina agama Kristen. Namun sayang, niatnya itu menjadi bumerang.
Tulisan berikut ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang mengkritisi karya Fatoohi. Ada beberapa catatan kritis tersisa dan penilaian umumnya. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya selain mengkritisi karya Fatoohi ini, tulisan ini sekaligus mengkritisi sumber-sumber yang dipakai Fatoohi untuk melihat gambaran Yesus.
Satu hal yang menarik adalah pernyataan Fatoohi bahwa Muhammad melanjutkan apa yang diajarkan oleh Yesus. Jika diperhatikan baik-baik justru kehidupan dan ajaran Muhammad bertentangan dengan apa yang diajarkan dan dihidupi Yesus. Salah satu contohnya soal isteri Muhammad yang lebih dari 12 orang. Kalau mengkritisi ajaran dan hidup Muhammad, orang akan dapat berkesimpulan bahwa Muhammad justru membawa umat kembali kepada tradisi Yahudi yang sebelumnya sudah diperbaharui Yesus. Hal ini dapat dibaca dalam “Dari Musa, Yesus dan Muhammad”.
Setelah menampilkan tinjauan kritis terhadap karya Fatoohi, yang sekaligus juga mengkritisi sumber-sumber yang dipakai Fatoohi untuk melihat gambaran Yesus, kita akan melihat dan mengetahui cara berpikir Fatoohi. Secara umum kita melihat cara berpikir Fatoohi tidak sesuai dengan kapasitas dia sebagai seorang sarjana. Dia lebih dikuasai sentimen dan kebencian daripada analisa ilmiah. Di samping itu, dua poin penting cara berpikir Fatoohi adalah anakronis dan tidak konsisten.
Tulisan ini ditutup dengan catatan akhir berupa refleksi. Dua poin penting refleksi itu adalah, pertama, justru setelah membaca buku Fatoohi ini, kebenaran iman kristiani semakin diperkuat (padahal salah satu tujuan Fatoohi untuk melemahkannya). Kedua, seperti yang sudah dikatakan di atas, karya Fatoohi ini justru menjadi bumerang bagi islam. Maksud hati ingin melecehkan agama Kristen, Fatoohi justru melecehkan agama islam.
Lebih lanjut silahkan baca di Budak Bangka: Tinjauan Buku THE MYSTERY OF HISTORICAL JESUS #3

Jumat, 15 Juli 2016

Membuka Kekonyolan Cara Pikir DR. Louay Fatoohi

Buku The Historical of Jesus ini ditulis oleh L. Fatoohi, seorang mualaf, yang tinggal di Inggris. Dia adalah ahli ilmu-ilmu eksakta, suatu poin penting untuk menilai cara berpikirnya. Dalam karyanya ini Fatoohi mengklaim mau memberikan gambaran Yesus secara historis. Dari gambaran itu, Fatoohi berharap orang akan berkesimpulan bahwa Yesus adalah manusia biasa, bukan Tuhan (Allah) sebagaimana yang diklaim Injil dan diakui oleh orang Kristen. Jadi, secara tidak langsung, Fatoohi hanya mau membenarkan apa yang dikatakan Al Quran.
Di sini tampak satu kesalahan besar Fatoohi, yaitu menggunakan Al Quran sebagai batu ujinya, sementara Fatoohi tidak mengkritisi Al Quran. Memang sulit dan tak mungkin mengkritisi Al Quran, karena umat islam sudah diindoktrinisasi bahwa Al Quran adalah kitab yang sempurna, sehingga tak perlu lagi dikritisi. Pengkritisan terhadap Al Quran dapat menyebabkan hilangnya kesempurnaan itu.
Tulisan berikut ini akan menampilkan tinjauan kritis terhadap karya Fatoohi. Selain mengkritisi karya Fatoohi ini, kita juga sekaligus mengkritisi sumber-sumber yang dipakai Fatoohi untuk melihat gambaran Yesus. Dari sini pembaca dapat menyimpulkan sendiri bagaimana cara berpikir Fatoohi yang adalah seorang DOKTOR.
Mau tahu kekonyolan cara berpikir DR Fatoohi? Silahkan klik di Budak Bangka: Tinjauan Buku THE MYSTERY OF HISTORICAL JESUS #2