Jumat, 15 Januari 2016

Orang Kudus 15 Januari: St. Makarius

SANTO MAKARIUS, PETAPA
Informasi mengenai orang kudus ini sangat terbatas. Yang jelas ia adalah seorang petapa. Makarius meninggalkan kampong halaman dan keledainya lalu pergi ke suatu tempat pertapaan. Maksudnya adalah untuk lebih memusatkan perhatiannya pada doa, guna memperoleh kekuatan rahmat Allah, supaya tidak terus menerus jatuh ke dalam dosa. Ia sering berdoa dan berjaga sepanjang malam.
Sekali peristiwa ia memikul sekeranjang pasir di bawah terik matahari. Kawan-kawannya heran melihat tingkah lakunya yang aneh ini. namun kepada mereka Makarius berkata, “Tubuhku terlalu banyak menggoda aku. Ada baiknya juga kalau sekali-kali tubuhku diberi beban berat sehingga tidak tergoda untuk pergi melancong ke kota.”
Usahanya untuk tidak menyentuh barang-barang yang dapat mengenakkan tubuhnya sungguh luar biasa. Suatu ketika ia dikirim buah-buah anggur yang masih segar. Ia menolak kiriman itu, menyentuhnya pun ia tidak mau. Ia menyuruh pembawa anggur mengirimkan anggur itu kepada rekannya yang lain. Rekan-rekannya pun bersikap seperti dia. Karena tidak seorang pun yang mau menerima kiriman itu, maka si pembawa anggur membawa kembali anggur-anggur itu kepada Makarius. Melihat hal itu, Makarius menjadi heran, dan ia pun bersyukur kepada Allah, karena atas rahmat-Nya rekan-rekannya bertahan dalam pantang yang berat.
Kondisi tubuh Makarius menunjukkan betapa berat dan sungguh-sungguh ia menjalankan tapa. Pada umurnya yang sudah tua, ia mencoba berdoa tanpa henti selama lima hari. Tetapi pada hari ketiga pondoknya terbakar. Makarius lari meninggalkan pondoknya dan tidak dapat melanjutkan doanya. Tentang peristiwa itu ia berkata, “Itu adalah kehendak Allah, agar aku tidak sombong.” Pada hari-hari terakhir hidupnya, Makarius diusir dari tempat pertapaannya oleh orang-orang Arian yang memusuhi Gereja. Ia meninggal dengan tenang pada tahun 394.
sumber: Iman Katolik
Baca juga orang kudus hari ini:

Orang Kudus 15 Januari: St. Aloysius Variara

BEATO ALOYSIUS VARIARA, PENGAKU IMAN
Aloysius Variara lahir pada 15 Januari 1875 di Viarigi, Italia. Ia adalah putera dari Pietro Variara dan Livia Bussa. Ketika berusia 12 tahun Aloysius bergabung dengan Oratori Salesian di Turin, dan ia sempat bertemu dengan Santo Yohanes Bosko. Aloysius akhirnya memutuskan untuk mengikuti panggilan hidupnya dengan menjadi seorang Salesian.
Tahun 1891 Aloysius memasuki masa novisiat. Ia kemudian mempelajari filsafat di Valsalice. Aloysius sempat bertemu dengan Pastor Michael Unia, seorang misionaris Salesian, yang berkarya di Kolombia. Karena itu, pada tahun 1894 Aloysius pergi bersama Unia menuju Agua de Dios, Kolombia, dan mulai berkarya di tengah para penderita kusta.
Aloysius ditahbiskan sebagai imam sekitar tahun 1901 di Kolombia. Ia membangun tempat bagi para penderita kusta, mengikuti jejak Unia. Pada 7 Mei 1905 ia mendirikan Kongregasi Puteri Hati Kudus Yesus dan Maria. Karya-karyanya banyak tidak dimengerti oleh rekan-rekannya, tetapi ia mendapat dukungan dari Santo Michael Rua, sebagai pemimpin tertinggi Kongregasi Salesian. Aloysius juga menunjukkan ketaatannya kepada para pemimpinnya ketika ia harus pergi meninggalkan Agua de Dios pada tahun 1921 menuju Tariba.
Aloysius Variara meninggal dunia pada 1 Februari 1923 di Cucuta, Kolombia. Pada 14 April 2004 ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.
Baca juga orang kudus hari ini:

Kamis, 14 Januari 2016

Orang Kudus 14 Januari: St. Petrus Donders

BEATO PETRUS DONDERS, PENGAKU IMAN
Petrus Donders lahir pada 27 Oktober 1809 di Tilburg, Belanda. Ia adalah putera dari Arnold Denis Donders dan Petronella van den Brekel. Petrus hidup dalam kemiskinan dan tidak dapat bersekolah. Ia bekerja di rumahnya, dan juga di sebuh pabrik bersama saudaranya, Martin.
Sejak kecil Petrus sering bermimpi bahwa ia dapat menjadi imam. Karena itu, pada usia 22 tahun, dengan bantuan Pastor Paroki, ia masuk seminari menengah St. Michael-Gestel. Petrus menjadi seorang seminaris dan pekerja paruh waktu agar dapat membiayai sekolahnya.
Dikisahkan bahwa pada umur 26 tahun, Petrus sempat mendaftarkan diri ke Fransiskan, Yesuit dan Redemptoris, tetapi ia ditolak. Pada 5 Juni 1841 ia ditahbiskan sebagai seorang imam. Ia kemudian pergi ke Suriname, dimana pada saat itu masih menjadi tempat koloni Belanda. Ia tiba di Paramaribo pada 16 September 1842. Ia menyebarkan Injil serta membaptis sekitar 1200 orang pada tahun-tahun awal karyanya. Ia juga membantu orang-orang sakit ketika terjadi epidemic pada tahun 1851.
Petrus kemudian dipindahkan ke Batavia, Suriname, ke tempat para penderita lepra. Kemudian Kongregasi Redemptoris tiba di Suriname pada tahun 1866. Petrus dan seorang imam lainnya mendaftarkan diri untuk bergabung dengan kongregasi tersebut. Keduanya memasuki masa novisiat di bawah Vikaris Apostolik, Johannes Baptis Swinkels. Keduanya mengucapkan kaul kekalnya pada 24 Juni 1867. Mereka kembali ke Batavia dan menolong orang-orang penderita lepra.
Petrus juga menjelajah ke wilayah Indian dan menyebarkan Injil di sana. Ia mempelajari bahasa setempat dan memulai karyanya dengan baik, tetapi kesehatannya mulai menurun. Superiornya mengirimnya untuk tugas-tugas yang lebih mudah, tetapu Petrus lebih memilih kembali ke Batavia untuk menolong penderita kusta sampai akhir hidupnya.
Petrus Donders meninggal dunia pada 14 Januari 1887 di Batavia, Suriname. Pada 23 Mei 1982 ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II
Baca juga orang kudus hari ini: