Selasa, 29 Desember 2015

Orang Kudus 29 Desember: Kaspar del Bufalo

SANTO KASPAR DEL BUFALO, PENGAKU IMAN
Kaspar del Bufalo, yang dikenal sebagai pendiri Kongregasi Misionaris Darah Mulia, lahir pada tahun 1786 di Roma, Italia. Pada tahun 1808 ia ditahbiskan menjadi imam di Roma. Pada waktu tentara-tentara Napoleon I menduduki kota Roma, Kaspar ditangkap dan dipenjarakan, tetapi ia kemudian berhasil meloloskan diri dari penjara dan melarikan diri dari Roma.
Dengan dukungan kuat dari Kardinal Cristaldi dan Paus Pius VII (1800 – 1823), Kaspar mendirikan Kongregasi Misionaris Darah Mulia pada tahun 1815 di Giano. Sambil mendirikan pusat biara di Albano Laziale, dekat Roma, dan di seluruh Kerajaan Napoli, Italia Selatan, kongregasi itu berjuang membangun kembali Italia yang diporak-porandakan oleh perang dan berbagai pertikaian. Kaspar dikenal sebagai seorang pengkotbah yang berhasil terutama di daerah-daerah pedesaan.
Selain aktif dalam karya pewartaan dan karya karitatif untuk menolong orang-orang miskin, Kaspar mendirikan perkumpulan-perkumpulan doa untuk adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus. Ia meninggal dunia di Roma pada tanggal 28 Desember karena terserang penyakit kolera yang menyerang kota Roma. Pada tahun 1954, Kaspar digelari ‘kudus’ oleh Paus Pius XII.

sumber: Iman Katolik

Minggu, 27 Desember 2015

Renungan Hari Minggu Oktaf Natal III - C

Renungan Pesta Keluarga Kudus, Thn C
Injil    Luk 2: 41 – 52;
Hari ini Gereja Semesta mengajak kita untuk merayakan Pesta Keluarga Kudus, Yusuf, Maria dan Yesus. Bacaan-bacaan liturgi hari ini mengambil tema tentang keluarga dengan penekanan yang berbeda-beda. Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Samuel yang pertama, berbicara mengenai keluarga Elkana, Hana dan Samuel. Bagi Hana Samuel merupakan anugerah dari Tuhan. Sebagai ungkapan syukurnya, Hana mempersembahkan putranya itu kepada Tuhan. Di sini penekanannya adalah anak sebagai anugerah Tuhan, sehingga umat diajak untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan.
Injil mengangkat keluarga kudus, yaitu Yusuf, Maria dan Yesus. Ada dua penekanan dalam bacaan Injil ini. Pertama, Yusuf dan Maria mau menunjukkan rasa tanggung jawab sebagai orangtua terhadap anak. Wujud tanggung jawab itu terlihat dari kecemasan dan perjuangan mencari anak mereka. Di sini tekanannya pada keluarga inti-duniawi. Kedua, Tuhan Yesus menunjukkan status-Nya sebagai Anak Allah, sehingga harus berada di rumah Bapa (ay. 49). Di sini Tuhan Yesus mengangkat nilai keluarga inti-duniawi ke keluarga Allah.
Penekanan Tuhan Yesus mengenai keluarga Allah, kembali ditegaskan oleh Yohanes dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama Yohanes menyatakan bahwa oleh kasih karunia Allah kita menjadi satu keluarga. Kita adalah anak-anak Allah. Jadi, oleh kasih kita tidak lagi hanya hidup dalam keluarga inti-duniawi, melainkan juga keluarga Allah. Yohanes menegaskan bahwa satu wujud konkret sebagai keluarga Allah adalah kasih. Sebagai anak-anak Allah, kita hendaknya “saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” (ay. 23).
Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita bahwa kita tidak hanya hidup dalam keluarga inti-duniawi (suami, isteri dan anak), melainkan juga sebagai keluarga Allah. Keluarga-keluarga inti-duniawi membentuk keluarga Allah oleh karena kasih. Tuhan menghendaki supaya kita menghidupi kasih itu dalam keluarga inti kita dan kita terapkan kepada keluarga-keluarga lainnya. Akan tetapi, Yohanes pernah mengatakan bahwa Allah itu adalah kasih (1Yoh 4: 8). Jadi, jika dalam keluarga semua anggota keluarga hidup dalam kasih, maka keluarga itu dapat disebut sebagai keluarga Allah.***
by: adrian

Sabtu, 26 Desember 2015

Cara Kuno Matikan Lampu

Suatu hari pace dan mace pergi ke kota mengunjungi anak mereka. Setiba di rumah, pace dan mace ini disambut hangat oleh keluarga anak mereka. Setelah ditunjukkan kamar tempat mereka menginap, mereka bergabung dengan anggota rumah di ruang keluarga.
Saat mau tidur, mace minta ke pace untuk mematikan lampu, karena mereka tak biasa tidur dalam situasi terang. Maklum, di kampong belum ada listrik. Hanya pakai lampu pelita.
Pace berdiri di bawah lampu lalu meniupnya. Namun lampu tak padam. Sudah berkali-kali ia coba, lampu tetap terang benderang. Kemudian pace ambil kursi dan berdiri di atas kursi sehingga lebih dekat lagi dengan lampu. Dia tiup, tapi lampu tidak mau padam.
Pace           : Mace, lampu tak mau padam. Saya sudah coba berkali-kali, tetap dia masih terang. Kau urus dulu dia.
Mace emosi. Dia bangun lalu ambil gagang sapu. Kemudian mace jolok lampu itu hingga pecah. Dan kamar menjadi gelap
edited by: adrian, dari cerita Polly Pape
Baca juga humor lainnya: