Jumat, 30 Oktober 2015

Orang Kudus 30 Oktober: St. Dominikus Collins

BEATO DOMINIKUS COLLINS, PENGAKU IMAN
Dominikus Collins lahir pada tahun 1566 di Youghal, County Cork, Irlandia. Ia adalah putra dari Yohanes dan Felisitas Collins, yang merupakan bangsawan Irlandia. Diskriminasi terhadap umat katolik pada masa kekuasaan Ratu Elisabeth membuat Dominikus pergi meninggalkan Irlandia menuju Perancis. Dominikus bergabung dengan Liga Katolik sampai ia berpangkat kapten.
Setelah 9 tahun di Perancis, Dominikus pindah ke Spanyol untuk melayani Raja Philips II. Dominikus kemudian menyadari bahwa menjadi tentara bukanlah panggilan hidupnya. Ia kemudian bertemu dengan Thomas White, seorang Yesuit yang berasal dari Irlandia. Dominikus mulai berkenalan dengan Serikat Yesus. Dari sini muncul keinginan untuk bergabung dengan Serikat Yesus. Dominikus diterima dalam Serikat Yesus pada 8 Desember 1590.
Masa novisiatnya dijalankan dengan menolong korban wabah penyakit di Santiago de Campostela. Dominikus kemudian ditugaskan untuk menemani seorang Imam Yesuit, James Archer, dalam misi ke Irlandia. Mereka berangkat pada September 1601 dan tiba di Irlandia pada bulan Desember. Mereka kemudian menuju Kastil Dunboy untuk melakukan pelayanan.
Ketika James Archer kembali ke Spanyol Kastil Dunboy dikepung tentara Inggris, yang kemudian berhasil merebut kastil ini. Dominikus ditangkap dan dibawa ke Cork untuk kemudian diinterogasi. Ia ditawarkan berbagai hal seperti kebebasan dan jabatan jika Dominikus mau menyangkal imannya. Akan tetapi, Dominikus menolak dan tetap berpegang teguh pada imannya sehingga ia dihukum mati dengan digantung.
Dominikus Collins meninggal dunia pada 31 Oktober 1602 di Youghal, Cork, Irlandia. Pada 27 September 1992 ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Jumat Biasa XXX - Thn I

Renungan Hari Jumat Biasa XXX, Thn B/I
Bac I  Rom 9: 1 – 5; Injil           Luk 14: 1 – 6;

Injil hari ini kembali berkisah tentang penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus pada hari sabat. Kali ini yang disembuhkan adalah orang yang sakit busung air. Uniknya, peristiwa itu terjadi di rumah salah seorang pemimpin kaum Farisi. Hadir juga di sana orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Sebelum menyembuhkan orang sakit itu, Tuhan Yesus bertanya minta pendapat mereka. Namun, dikatakan, tak satupun dari mereka memberikan tanggapan. Lewat peristiwa mukjizat ini Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa demi kemanusiaan, aturan dapat kompromi. Di samping itu, kejadian ini mau menunjukkan bahwa Tuhan Yesus melampaui hari sabat.
Bacaan pertama hari ini masih diambil dari Surat Paulus kepada Jemaat di Roma. Di sini Paulus ingin menyampaikan refleksinya atas Yesus Kristus. Paulus menegaskan bahwa refleksinya ini merupakan sebuah kebenaran iman. Kebenaran iman yang hendak disampaikan Paulus adalah bahwa Yesus Kristus “adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.” (ay. 5). Tampak jelas di sini bahwa Paulus mengakui keallahan Yesus Kristus. Karena Dia adalah Allah, maka Dia melampaui peraturan hari sabat, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit.
Sabda Tuhan hari ini, pertama-tama mau menyadarkan kita bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Ini merupakan kebenaran iman yang harus diimani. Selain mengakui kebenaran iman ini, sabda Tuhan mengajak kita untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus dalam menyikapi peraturan. Tak bisa dipungkiri kita hidup berdampingan dengan begitu banyak peraturan. Tuhan menghendaki supaya kita tidak terlalu kaku terhadap peraturan sampai mengorbankan kemanusiaan orang lain. Kita diajak untuk mengabdi pada aturan demi memanusiakan manusia.***
by: adrian

Kamis, 29 Oktober 2015

Doa Rosario Menyadarkan Suami

KEKUATAN DOA ROSARIO
Setahun yang lalu, aku bertemu seorang ibu muda yang mengisahkan liku-liku perjalanan imannya. Beberapa kali air matanya menetes dan suara isak tangisnya terdengar saat dia menceritakan kisah ziarah hidupnya yang tidak mudah itu.
Ibu ini berasal dari keluarga katolik, dan bertumbuh sebagai wanita katolik. Namun kehendak Tuhan memang mungkin berbeda-beda jalan-Nya untuk setiap orang, termasuk dirinya. Dalam usia yang muda, ia menjadi yatim piatu. Karena kesulitan hidup, perjalanan imannya menjadi susah.
Kesulitan ekonomi membuatnya hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga SMA, lalu ia bekerja seadanya. Kemudian dia bertemu dengan seorang laki-laki yang berbeda agama dengannya. Cinta memang sering tak bisa dipahami dengan akal. Karena laki-laki itu bekerja baik, dan awalnya kelihatan sebagai seorang yang berhati lembut dan penyayang, maka dia pun memutuskan untuk mengikuti suaminya; dan meninggalkan imannya.
Namun ternyata semuanya berubah setelah ia menikah dan meninggalkan imannya. Pelan-pelan sifat suaminya berubah dan yang aslinya muncul. Ternyata dia seorang yang keras dan fanatik dengan agamanya. Lalu, pekerjaan suaminya juga mulai mengalami kegagalan karena berbagai hal. Ketika dia mulai memiliki anak, kebutuhan keluarga bertambah namun penghasilan keluarga berkurang, sementara dia hanya menjadi ibu rumah tangga sejak menikah. Dengan semua kesusahan hidupnya, ibu muda ini pun hanya bisa pasrah.
Namun rencana Tuhan memang lain. Dalam ketidakpastian hidup dan masa depan keluarga, tiba-tiba dia rindu kembali ke Gereja, mengikuti misa dan menerima komuni. Dia hanya mengurung niat itu dalam hatinya, karena takut suaminya marah. Sampai suatu waktu, dia menyampaikan niatnya itu kepada suami, dan tenyata benar suaminya marah dan menolak. Mendengar itu, dia semakin sedih dan takut. Namun hatinya tetap mengatakan untuk tidak menyerah. Lalu ia mulai berdoa Rosario sendirian. Malam hari saat suaminya tidur atau waktu lain ketika dia sendirian di rumah.