Selasa, 25 Agustus 2015

Renungan Hari Selasa Biasa XXI - Thn I

Renungan Hari Selasa Biasa XXI, Thn B/I
Bac I  1Tes 2: 1 – 8; Injil           Mat 23: 23 – 26;

Dalam bacaan pertama hari ini, yang diambil dari Surat Paulus yang pertama kepada Jemaat di Tesalonika, Paulus mengungkapkan sharing pengalamannya dalam mewartakan Injil Kristus. Dikatakan bahwa dalam mewartakan Injil dirinya “telah dianiaya dan dihina.” (ay. 2). Akan tetapi, lebih lanjut Paulus menegaskan bahwa tugas pewartaan ini dilakukannya dengan tulus hati (ay. 3), demi “menyukakan Allah,” (ay. 4), tidak dengan “bermulut manis” (ay. 5), serta tidak “mempunyai maksud loba yang tersembunyi.” (ay. 5). Di sini mau dikatakan bahwa Paulus melaksanakan tugas perutusannya dengan ikhlas, demi kemuliaan Allah, bukan untuk dirinya sendiri, sekalipun mendapat tantangan dan aniaya.
Bertentangan dengan Paulus, Injil mewartakan kecaman Tuhan Yesus terhadap para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka memiliki sikap yang berbeda dari Paulus. Mereka melaksanakan tugasnya dengan tidak tulus hati, hanya bermulut manis supaya dipuji orang, serta memiliki maksud loba yang tersembunyi. Bagi Yesus, sumber kebobrokan mereka ada dalam hati. Karena itulah Yesus menghendaki supaya mereka terlebih dahulu membersihkan bagian dalam dirinya (ay. 26).
Hari ini Tuhan mau membongkar kedok kebobrokan manusia jaman kini yang sudah dirasuki oleh budaya hedonis dan konsumtivistik. Dua budaya tersebut membuat banyak manusia tidak murni lagi dalam melakukan karya kasih; selalu ada maksud tersembunyi, yang semuanya demi kepentingan pribadi daripada melayani Tuhan dalam diri sesama. Budaya hedonis dan konsumtivistik membuat manusia berani menjual Kristus demi kekayaan. Karena itu, sabda Tuhan hari ini mau mengajak kita kembali ke semangat kristiani: “menjual kekayaan, demi Kristus!”***
by: adrian

Senin, 24 Agustus 2015

Refleksi Singkat tentang Handphone

HP: SELAMAT TINGGAL YANG DEKAT
Handphone merupakan salah satu alat telekomunikasi, seperti telepon. Telekomunikasi diambil dari kata tele yang berarti jauh, dan komunikasi yang berarti berbicara atau pembicaraan. Jadi, telekomunikasi berarti pembicaraan jarak jauh. Ani yang berada di Sabang dapat berbicara atau ngobrol dengan Anu di Merauke dengan menggunakan handphone. Mereka melakukan telekomunikasi.
Kemajuan teknologi telekomunikasi ini membuat manusia hidup tak berjarak lagi. Orang, kapan dan dimana saja, dapat berkomunikasi dengan siapa saja nun jauh di sana. Jarak tidak lagi menjadi penghalang. Kalau mau ngobrol tinggal tekan nomor yang dituju.
Handphone memang membuat yang jauh itu menjadi dekat. Tapi tanpa disadari bahwa handphone juga membuat yang dekat menjadi jauh. Tayangan film di atas melukiskan hal itu.

Renungan Pesta St. Bartolomeus

Renungan Pesta St. Bartolomeus
Bac I  Why 21: 9 – 14; Injil                 Yoh 1: 45 – 51;

Hari ini Gereja Universal mengajak kita merayakan pesta Santo Bartolomeus, atau yang dikenal juga dengan nama Natanael. Bartolomeus merupakan salah satu dari kedua belas rasul Tuhan Yesus. Bacaan pertama hari ini, yang diambil dari Kitab Wahyu, sama sekali tidak ada kaitan langsung dengan orang kudus ini. Ia mengisahkan penglihatan Yohanes tentang kota yang kudus. Kota kudus itu mengacu kepada Gereja Kristus. Dalam penglihatan Yohanes itu, dapatlah diartikan bahwa Gereja Kristus didasarkan pada kedua belas rasul Anak Domba, yang adalah Yesus Kristus. Karena Bartolomeus adalah rasul, maka dia termasuk salah satu dasar Gereja Kristus itu.
Injil hari ini secara khusus mengisahkan tentang panggilan Natanael, yang adalah Bartolomeus. Tampak jelas bahwa Bartolomeus adalah seorang terpelajar. Keterpelajarannya membuat ia tampil kritis. Hal ini dapat dilihat dari keraguan Natanael akan Tuhan Yesus, yang oleh Filipus disebut sebagai orang “yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi” (ay. 45). Namun akhirnya ia percaya dan siap memberikan dirinya untuk Kristus. Karena itulah, Tuhan Yesus “meramalkan” apa yang akan terjadi pada dirinya.
Hari ini Tuhan melalui sabda-Nya, kembali mengingatkan kita bahwa para rasul adalah dasar dari Gereja Kristus. Mereka bukan cuma sebagai penjaga iman, melainkan penjamin kebenaran iman. Dengan merayakan pesta Santo Bartolomeus ini, kita diajak untuk menghormati dia dan rasul lainnya dengan semakin mencintai Gereja-Nya, dan bersedia memberi diri untuk perkembangan Gereja Kristus. Menjadi persoalan kita adalah apakah kita bersedia?***
by: adrian