Jumat, 07 Agustus 2015

Renungan Hari Jumat Biasa XVIII - Thn I

Renungan Hari Jumat Biasa XVIII, Thn B/I
Bac I  Ul 4: 32 – 40; Injil   Mat 16: 24 – 28;

Hari ini bacaan pertama diambil dari Kitab Ulangan. Di sini diceritakan tentang dialog Allah dengan Nabi Musa. Secara tidak langsung mau dikatakan bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Perkenalan itu menggali kembali masa lalu. Yang mau ditegaskan di sini adalah bahwa Allah itu mahakuasa. Allah menghendaki pengakuan dari diri Musa dan bangsa Israel, bahwa tidak ada allah lain di muka bumi selain Allah. Namun, bukan cuma pengakuan saja yang dibutuhkan. Allah menghendaki supaya umat Israel setia pada-Nya dan berpegang teguh pada perintah-Nya sehingga mereka bisa selamat. Dengan kata lain, umat Israel diminta untuk tetap setia mengikuti Allah agar keselamatan menyertai mereka.
Permintaan untuk setia mengikuti juga diminta oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, "Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku." (ay. 24). Dengan demikian, ia akan mendapatkan keselamatan. Sama seperti dalam bacaan pertama, di sini orang harus menanggalkan kepentingan dirinya sendiri dan mengutamakan kehendak Allah.
Menjadi pengikut berarti meniru apa yang dilakukan oleh yang diikuti. Seorang pengikut akan berusaha sedemikian rupa supaya mirip dengan yang diikutinya. Di sini ia harus mengorbankan dirinya, menanggalkan ego dan keinginan dirinya. Hal yang sama kala kita hendak mengikuti Tuhan Yesus. Orang Kristen adalah pengikut Kristus. Namun sejauh mana kita sudah benar-benar mengikuti Dia? Tak jarang kita menjadi pengikuti Kristus dengan cita rasa diri kita sendiri. Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita kembali akan status kita sebagai pengikut Kristus. Dengan mengikuti Kristus, kita diminta untuk berani menyangkal diri, menanggalkan ego dan berkorban memikul salib.***
by: adrian

Kamis, 06 Agustus 2015

Pelatihan sebagai Media Perubahan

Beberapa peserta pelatihan yang dikirim untuk belajar sering menyatakan bahwa mereka gembira mendapat jatah pelatihan. Namun ketika ditanya alasan kegembiraannya, sering kali jawabannya berkisar antara hiburan, relaksasi, refreshing, bahkan shopping. Tentunya untuk perusahaan yang serius ingin mengembangkan sumber daya manusianya, hal ini bisa mengecewakan karena individu yang diharapkan berubah ternyata bahkan tidak merasa memiliki kebutuhan untuk itu.
Kita memang perlu membagi fokus pelatihan bila mau menelaah kinerja pelatihan. Bila berbicara mengenai hard skills seperti ketrampilan mengaudit, misalnya, kita mudah mengharapkan dan menyaksikan perubahan ketrampilan dari tidak bisa menjadi bisa. Namun kalau kita menginginkan sikap yang lebih profesional dalam melakukan proses audit, yang hal ini terkait dengan ketrampilan soft skills, metode pelatihan yang menunjang keberhasilan akan menjadi lebih kompleks.
Banyak permasalahan ada pada peserta pelatihannya sendiri. Bisa saja komitmen untuk mengubah soft skills-nya dipandang tidak perlu. Beberapa perusahaan, bahkan kesulitan dalam mengumpulkan peserta pelatihan soft skills dan terpaksa harus menjadwal ulang beberapa kali dikarenakan jumlah peserta yang mendaftar tidak memenuhi kuota. Para calon peserta beralasan bahwa pekerjaan sehari-harinya akan terlantar bila menghadiri pelatihan yang ia sendiri tidak melihat kegunaannya. Ada juga yang merasa bahwa soft skills-nya sudah bagus, tidak ada masalah dalam cara ia menangani anak buah, hubungan antar-rekan kerja atau bahkan merasa tak bisa berubah karena “dari sononya sudah begitu.”
Tidak lama setelah memiliki bawahan, kita mungkin merasakan kebutuhan untuk mengubah tingkah lakunya. Kalau kita beruntung, mungkin hanya tingkah laku yang bersifat ketrampilan kecil seperti cara greeting di telepon. Namun terkadang ada ketrampilan yang lebih besar, berbasis kepribadian yang sudah berakar. Hal ini pastinya memberikan tantangan yang lebih besar bagi atasan untuk mengubahnya, terutama bila motivasi untuk berubah pada bawahan memang kurang. Para atasan sering merasa frustasi setelah beragam cara ditetapkan, tetapi perubahan yang diinginkan tidak juga membuahkan hasil.
Waspadai Kekebalan untuk Berubah
Banyak orang juga mengeluhkan bosan bila menghadapi pekerjaan yang itu-itu saja dan mengharapkan adanya perubahan sehingga sepertinya banyak orang ingin berubah, khususnya berubah menjadi lebih baik. Namun, kita tidak bisa menganggap bahwa perubahan itu otomatis, kecuali bila diiringi motivasi internal yang kuat. Motivasi eksternal yang diberikan oleh para motivator terkenal biasanya tertinggal di hotel tempat seminar diselenggarakan seiring dengan meredupnya musik dan yel-yel yang tadinya begitu gegap gempita diteriakkan.

Renungan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya - B

Renungan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan
Bac I  Dan 7: 9 – 10, 13 – 14; Injil                Mrk 9: 2 – 10;

Hari ini Gereja Universal mengajak kita untuk merayakan pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Injil hari ini mengisahkan peristiwa tersebut. Yang beruntung dapat melihat langsung kejadian itu adalah Petrus, Yohanes dan Yakobus. Dikatakan "beruntung" karena apa yang mereka saksikan merupakan peristiwa langka. Apa yang mereka lihat mirip seperti penglihatan Daniel dalam bacaan pertama (ay 9).
Kelangkaan itu menimbulkan berbagai perasaan: kagum terpesona, senang dan juga takut. Perasaan takut ini bukan dalam pengertian takut seperti ketakutan akan hantu atau semacam fobia. Perasaan takut di sini lebih dalam arti sikap gentar. Istilahnya tremendum. Sikap ini merupakan sikap religius yang pernah diungkapkan Rudolf Otto, dengan konsepnya "Numinosum tremendum et fascinosum".
Semua perasaan tersebut membuat Petrus, mewakili rekannya yang lain, mengungkapkan niatnya untuk mendirikan tenda. Mendirikan tenda berarti niat untuk tetap tinggal agar bisa menikmati terus kebahagiaan itu lebih lama lagi dan hanya mereka saja yang menikmatinya. Dengan kata lain, ada niat Petrus dan kawan-kawan untuk memonopoli kebahagiaan itu. Ada semangat egoisme.
Jelas sekali niat tersebut bertentangan dengan misi TuhanYesus, karena niat tersebut menolak jalan yang harus ditempuh Tuhan Yesus, yaitu jalan salib. Karena itulah, Tuhan Yesus mengajak mereka untuk turun gunung sambil mengatakan rencana Allah, yakni "Anak Manusia bangkit dari antara orang mati." (ay 9). Tentulah rencana Allah ini tidak sesuai dengan keinginan ketiga rasul itu.
Sabda Tuhan hari ini mau mengajak kita untuk siap menerima rencana Tuhan dalam kehidupan kita, sekalipun rencana itu bertentangan dengan keinginan dan harapan kita. Yang perlu diingat dan disadari adalah bahwa Tuhan selalu punya rencana yang baik buat umatnya. Rencana Tuhan indah. Tuhan tidak ingin umatnya menderita. Oleh karena itulah, Sabda Tuhan mau menyadarkan kita akan rencana Tuhan itu pada hidup kita. Tuhan meminta agar kita mau mendahulukan rencana-Nya dalam hidup kita daripada rencana kita sendiri. Pertanyaannya, beranikah kita? ***
by: adrian