Rabu, 01 April 2015

Orang Kudus 1 April: St. Hugo Grenoble

SANTO HUGO GRENOBLE, PENGAKU IMAN
Hugo lahir pada sekitar tahun 1053 di Chateauneuf, Dauphine, Perancis. Ia adalah putera dari Odilio, seorang tentara yang kemudian menjadi biarawan Sistersian. Ibunya dikenal karena tobat dan dermanya.
Hugo merupakan paman dari Hugo dari Bonnevaux. Ia menjadi seorang kanonis di Katedral Valence katika berusia duapuluh lima tahun. Pada tahun 1080 ia diangkat sebagai Uskup Grenoble dan ditahbiskan oleh Paus Gregorius VII. Usahanya untuk melakukan reformasi tidak berhasil, sehingga ia pensiun dari jabatannya dan menjadi seorang biarawan Benediktin di Chaise-Dieu di Auvergne, Perancis.
Satu tahun kemudian. Paus Gregorius VII memerintahkan dia untuk kembali ke Grenoble. Kali ini usahanya untuk memperbaiki kehidupan religious di Grenoble berhasil. Banyak orang hadir untuk mendengarkan kotbahnya, banyak orang miskin memperoleh pelayanannya.
Hugo juga bersahabat dengan Santo Bruno, dan ia pun memberikan tanah untuk mendirikan biara Grande Chartreuse dan juga membantu St. Bruno mendirikan Ordo Kartusian (O.Cart). Hugo memberikan Sakramen Pengurapan kepada kedua orang tuanya. Hugo meninggal pada 1 April 1132 di Grenoble, Perancis. Pada 22 April 1134 ia dikanonisasi oleh Paus Innocentius II.
Baca juga orang kudus hari ini:

Renungan Hari Rabu Pekan Suci, Thn B

Renungan Hari Rabu sesudah Minggu Palma, Thn B/I
Bac I    Yes 50: 4 – 9a; Injil               Mat 26: 14 – 25;

Kitab Nabi Yesaya masih menjadi bacaan pertama hari ini. Sama seperti dua hari sebelumnya, hari ini juga Nabi Yesaya kembali menyampaikan nubuat Allah tentang seorang hamba Allah yang setia dan taat. Dalam kitabnya, Nabi Yesaya mewartakan Hamba Allah, yang sekalipun tahu penderitaan akan menghampirinya, ia “tidak berontak, tidak berpaling ke belakang.” (ay. 5). Hamba Allah itu menerima semua penderitaan dengan tabah sebagai wujud ketaatannya kepada Allah. Ia hanya berserah diri kepada Allah agar kehendak Allah-lah yang terlaksana.

Injil hari ini menampilkan kisah Tuhan Yesus makan bersama dengan para murid-Nya. Dalam perjamuan itu Tuhan Yesus menyampaikan bahwa akan ada yang mengkhianati Diri-Nya. Tuhan Yesus tahu bahwa ia akan menghadapi penderitaan dan sengsara. Tuhan Yesus juga tahu akan ada pengkhianat dari antara murid-Nya. “Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” (ay. 21). Semua itu dihadapi Tuhan Yesus dengan tenang. Ia tidak lari. Ia tidak menghindar.

Dari sabda Tuhan hari ini kita melihat ada kemiripan antara hamba Allah yang disampaikan Nabi Yesaya dengan Tuhan Yesus. Keduanya menunjukkan ketaatan menghadapi penderitaan. Baik hamba Allah dalam Kitab Nabi Yesaya, maupun Tuhan Yesus, sama-sama tidak lari dari masalah yang akan datang. Di sini sabda Tuhan ingin mengajari kita bagaimana menghadapi masalah. Setiap manusia tentu tak lepas dari masalah. Sabda Tuhan menghendaki agar kita tidak lari atau menghindar dari masalah, melainkan menghadapinya. Dan dalam menghadapi masalah itu, kita diajak juga untuk berserah kepada Tuhan, atau melibatkan Tuhan dalam persoalan hidup kita.

by: adrian

Selasa, 31 Maret 2015

(Inspirasi Hidup) Baik Itu Bukan Karena Jabatannya

JANGAN LIHAT JABATANNYA
Selama ini kita tahu bahwa nabi itu adalah utusan Tuhan. Mereka selalu membawa pesan dari Tuhan. Hal ini membuat kita berpikir bahwa hidup mereka sangatlah dekat Tuhan, karena mereka mempunyai relasi istimewa dengan Tuhan. Dari gambaran ini tak salah jika kita berkesimpulan bahwa nabi itu adalah orang yang baik.

Akan tetapi, Yeremia membuka mata kita bahwa tidak selamanya nabi itu baik. Dalam Yeremia 28: 1 – 17 dikisahkan ada nabi bernama Hananya bin Azur yang berasal dari Gibeon. Dengan mengatasnamakan Tuhan, ia menyampaikan kabar gembira kepada seluruh umat, “Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.” (ay. 2 – 3).

Ketika mendapat tantangan dari Nabi Yeremia, Nabi Hananya memberi semacam perumpamaan tentang pembebasan itu dengan mengambil gandar dari tengkuk Yeremia dan mematahkannya. Hananya berkata di hadapan umat, "Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!" (ay. 11).

Menghadapi perumpamaan Hananya ini, Yeremia menggantikan gandarnya sesuai perintah Tuhan. Kini gandarnya bukan lagi dari kayu melainkan berbahan besi. Tentulah Hananya akan mengalami kesulitan untuk mematahkan gadar itu. Yeremia berkata, “Kuk besi akan Kutaruh ke atas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel; sungguh, mereka akan takluk kepadanya! Malahan binatang-binatang di padang telah Kuserahkan kepadanya." (ay. 14). Di sini Yeremia mau mengatakan bahwa penderitaan umat masih akan berlangsung, malah semakin berat. Kuk penindasan akan semakin keras dan berat seperti besi.

Umat menghadapi dua orang nabi, yang sama-sama menyampaikan pesan atas nama Tuhan. Sekalipun sama-sama atas nama Tuhan, namun nada pesannya berbeda. Warta Nabi Hananya menyenangkan, sedangkan warta Nabi Yeremia bernada tidak menyenangkan. Pastilah umat akan lebih memilih Nabi Hananya, karena ia memenuhi keinginan hati umat. Sebaliknya, mereka tidak suka Nabi Yeremia. Warta Yeremia bukannya menyejukkan hati, tapi malah membuat hati umat galau.

Namun Tuhan berkenan pada Yeremia. Dari kisah dapat diketahui bahwa Nabi Hananya akhirnya mati. Di mata Yeremia, Hananya telah berdusta terhadap umat. Di dalam warta Hananya yang menyenangkan hati ternyata terdapat dusta. Hananya merupakan contoh nabi yang buruk, yang hanya mau menyenangkan hati umat supaya umat suka padanya. Hananya tidak mewartakan kebenaran, yang darinya dapat melahirkan pertobatan dalam diri umat.

Kisah di atas benar-benar membuka mata kita bahwa ternyata tidak semua nabi itu baik. Ada saja nabi yang buruk. Jadi, jabatan nabi tidak menjadi jaminan bahwa orang tersebut adalah baik, sekalipun ia menyenangkan umat. Tidak ada kaitan antara jabatan dengan kebaikan seseorang; juga tidak ada kaitan antara menyenangkan umat dengan kebenaran.

Gambaran nabi yang buruk dalam dunia Perjanjian Lama, kembali terungkap dalam zaman modern ini. Gambaran itu memang tidak terdapat dalam diri nabi, melainkan dalam diri imam. Awal Oktober lalu, dalam misa pembukaan sinode keluarga di Vatikan, Paus Fransiskus mengingatkan akan adanya gembala yang buruk. Indikasi keburukan itu terlihat dari keserakahan demi uang dan kekuasaan/jabatan.

Bapa Paus melihat bahwa demi uang dan jabatan kekuasaan, para gembala ini bukannya memikirkan umat melainkan hanya pada dirinya sendiri. Umat dijadikan sasaran untuk mendapatkan uang. Melayani umat bukan demi pelayanan, melainkan demi uang. Jabatan digunakan untuk mendapatkan uang. Dengan kata lain, bagi gembala buruk umat adalah ATM dan jabatan adalah mesin uang.