Jumat, 24 Oktober 2014

Orang Kudus 24 Oktober: St. Aloisius Guanella

SANTO ALOISIUS GUANELLA, PENGAKU IMAN
Alosius Guanella lahir pada 9 Desember 1842 di Francisio, Italia. Anak kesembilan dari tiga belas bersaudara ini lahir dari keluarga pasangan Lawrence dan Maria Guanella. Ia berasal dari keluarga miskin namun saleh. Alosius masuk seminari pada usia dua belas dan ditahbiskan pada tanggal 26 Mei 1866. 

Alosius adalah sosok manusia yang tak lupa akan asal-usulnya. Ia bak kacang tak lupa pada kulitnya. Setelah menjadi imam, Alosius menunjukkan perhatiannya kepada orang-orang miskin. Dia bekerja di Yayasan St. Yohanes Bosco (1875-1878) untuk merawat anak-anak tunawisma. Alosius pernah bertugas di paroki di Traona, Italia. Di sana ia membuka sekolah bagi masyarakat miskin. Pada tahun 1881, kelompok anti Gereja Katolik (Mason) berusaha untuk menutup sekolah itu.

Renungan Hari Jumat Biasa XXIX - Thn II

Renungan Hari Jumat Biasa XXIX, Thn A/II
Bac I    Ef 4: 1 – 6; Injil                      Luk 12: 54 – 59;

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengecam sikap orang yang begitu mahir membaca tanda-tanda alam, namun lemah menemukan kebenaran ilahi. Orang-orang seperti ini disebut Tuhan Yesus sebagai orang munafik. Ada kesan bahwa kemampuan mereka mengetahui tanda-tanda alam hanya demi kepuasan diri dan popularitas semata. Mereka ingin mendapat pujian atau agar orang bergantung padanya. Namun mereka tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Mungkin karena di sana mereka tidak mendapatkan sesuatu demi pemuasan ego pribadinya.

Belajar dari kecaman Yesus dalam Injil di atas Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, mengajak jemaat untuk tidak mengikuti atau berbuat seperti orang munafik. Dalam bacaan pertama Paulus menasehati mereka untuk hidup sesuai dengan panggilan Tuhan. Hal ini diperjelasnya dengan kata-kata seperti: rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu dalam kasih, serta memelihara kesatuan dalam Roh. Di sini Paulus menghendaki supaya jemaat tidak jatuh dalam kesombongan karena kemampuan yang mereka miliki.

Dewasa ini banyak orang merasa dirinya hebat dengan prestasi yang didapatnya, sekalipun prestasi itu hanya sebagian dari urusan duniawi. Tak sedikit pula yang mendambakan pujian. Melalui sabda-Nya hari ini, Tuhan menghendaki supaya kita membangun sikap rendah hati sekalipun banyak prestasi menyertai kita. Tuhan menghendaki agar kemampuan yang ada pada kita dipergunakan untuk kebaikan dan kesejahteraan sesama.

by: adrian

Kamis, 23 Oktober 2014

Tinjauan Buku THE MYSTERY OF HISTORICAL JESUS #3

MEMBONGKAR KESALAHAN BERPIKIR FATOOHI DLM BUKU “THE HISTORICAL OF JESUS”
13.     Fatoohi mengatakan bahwa kaum muslim diperintahkan untuk menghormati dan memuliakan seluruh nabi. Tidak mempercayai salah seorang nabi berarti tidak mempercayai seluruh nabi dan gagal menjadi muslim (hlm 444). Mari kita lihat: ketika ada gambar atau film yang melecehkan Yesus, tak ada reaksi umat islam, tapi bila itu terjadi pada Muhammad, muncullah anarki di mana-mana. Padahal Yesus itu adalah nabi bagi umat islam.
14.     Fatoohi, dengan cara pikir Quraninya, menyatakan bahwa Yesus memerintahkan orang Kristen untuk menerima Muhammad yang melanjutkan ajaran yang telah disampaikan Yesus (hlm 454). Fatoohi seharusnya menunjukkan bahwa memang benar Muhammad melanjutkan ajaran Yesus. Sebab kalau diperhatikan justru kehidupan dan ajaran Muhammad bertentangan dengan apa yang diajarkan dan dihidupi oleh Yesus. Hal ini pernah diungkapkan oleh seorang mantan Guru Besar Sejarah Islam di Universitas Al Azhar.
15.     Menarik mencermati uraian Fatoohi tentang keesaan Allah berdasarkan Al-Quran (hlm 456). Dua kitab yang menarik adalah QS Al-Maidah: 17, “Allah berkuasa untuk melakukan segala sesuatu.” dan  QS Al-Baqarah: 253, “Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” Saya tidak tahu apakah umat islam paham dengan kedua ayat ini atau tidak. Jika umat islam benar-benar paham dan menerima ayat ini, maka mereka juga harus menerima fakta Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, dan bahwa Yesus, yang adalah Tuhan, mau mati di kayu salib. Bukankah Allah berkuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya?