Kamis, 14 November 2013

Renungan Hari Kamis Biasa XXXII - Thn I

Renungan Hari Kamis Biasa XXXII, Thn C/I
Bac I   : Keb 7: 22 – 8: 1; Injil      : Luk 17: 20 – 25

Dalam bacaan pertama hari ini Tuhan berbicara tentang kebijaksanaan. Dikatakan bahwa kebijaksanaan itu merupakan salah satu ciri Allah. Karena itu, “kejahatan tak sampai menggagahi kebijaksanaan.” (ay. 30). Ia dapat menilai mana baik dan benar, dan berusaha menuntun manusia kepada kebaikan dan kebenaran.

Sikap bijaksana inilah yang hendak ditawarkan Yesus kepada para pendengar-Nya. Dalam Injil, Yesus mengajak orang untuk bersikap bijaksana dalam menyikapi akhir zaman. Memang akhir zaman itu akan didahului dengan adanya tanda-tanda, namun tetap saja manusia diminta untuk menilainya dengan bijaksana. Jangan mudah tertipu dan terbuai. Dengan sikap bijaksana ini orang akan dapat melihat dan menemukan apa yang baik dan benar bagi dirinya.

Kebijaksanaan merupakan salah satu keutamaan moral manusia. Setiap manusia diminta untuk mengusahakan keutamaan ini dalam kehidupannya. Inilah yang menjadi pesan sabda Tuhan hari ini. Tuhan meminta kita untuk senantiasa berlaku bijaksana. Dengan kebijaksanaan, kita selalu terarah bukan saja kepada diri kita sendiri, melainkan yang terutama kepada orang lain. Kebijaksanaan membuat kita dapat menemukan dan mengusahakan kebaikan dan kebenaran bagi kehidupan ini.

by: adrian

Rabu, 13 November 2013

Kemampuan Sensorik Bayi

KEMAMPUAN SENSORIK BAYI

Penglihatan
Bayi neonatal tidak buta tetapi bidang penglihatannya hanya kira-kira setengah dari bidang penglihatan orang dewasa, karena batang mata belum berkembang kecuali di sekitar fovea. Penglihatan warna sama sekali tidak ada atau sangat minimal karena sel kerucut mata belum belum berkembang. Karena kelemahan oto, bayi tidak dapat memusatkan kedua mata pada obyek yang sama secara bersama-sama dan akibatnya semua terlihat kabur. Terdapat bukti bahwa setiap bayi bereaksi terhadap terangnya cahaya yang berbeda-beda, namun bukti ini tidak meyakinkan. Kemampuan untuk mengikuti obyek yang bergerak dan kemudian menggerakkan mata kembali – optic nystagmus – timbul pada minggu pertama untuk gerakan horisontal dan untuk gerakan vertikal pada saat kemudian.

Pendengaran
Ada anggapan bahwa pendengaran merupakan indera yang paling sedikit berkembang pada waktu kelahiran, sebagian disebabkan karena telinga tengah yang tersumbat oleh cairan amniotik selama beberapa hari setelah lahir tidak memungkinkan gelombang suara masuk ke telinga dalam, di mana terletak sel-sel pendengaran, dan sebagian disebabkan karena sel-sel ini hanya sebagian berkembang. Nada frekuensi rendah dapat lebih cepat didengar daripada frekuensi tinggi dan bayi lebih cepat bereaksi kepada suara manusia daripada suara-suara lain. Pendengaran secara normal berkembang dalam tiga atau empat hari pertama dengan keluarnya cairan amniotik dari telinga tengah, dengan demikian bayi dapat menentukan arah datangnya suara dan dapat membedakan tinggi suara dan identitas suara.

Penciuman
Sel-sel untuk penciuman yang terletak di bagian atas hidung telah berkembang pada waktu lahir. Bahwa bayi dapat membedakan bau terlihat dari usaha untuk menghindari rangsang yang kurang menyenangkan dengan cara menangis dan membalikkan tubuh dan kepala dan terhadap rengsang yang menyenangkan bayi memberikan reaksi mengisap-isap dan keadaan badan yang  tenang.

Pengecapan
Karena pengecapan sangat dipengaruhi oleh penciuman dan karena sel-sel untuk pengecapan yang terletak di permukaan lidah dan di daerah pipi telah berkembang maka pengecapan bayi sudah tajam. Pada umumnya bayi memberikan reaksi yang positif kepada rangsangan yang manis dengan tubuh yang tenang dan dengan mengisap-isap dan memberikan reaksi negatif kepada rengsangan yang asin, asam dan pahit dengan menangis dan menggeliat-geliat.

Kepekaan Organik
Kepekaan terhadap rasa lapar sudah sepenuhnya berkembang pada saat lahir dan kontraksi-kontraksi lapar terjadi pada hari pertama. Pada saat itu rasa haus juga sudah ada.

Kepekaan Kulit
Alat indera untuk perabaan tekanan dan suhu sudah berkembang pada saat lahir dan terletak dekat permukaan kulit. Kulit bibir sangat peka untuk diraba sedangkan kulit tubuh, paha dan lengan kurang peka. Kepekaan terhadap rasa dingin lebih berkembang daripada kepekaan terhadap panas. Kepekaan terhadap rasa sakit adalah lemah pada hari pertama atau kedua setelah lahir dan selanjutnya dengan cepat meningkat. Reaksi sakit brekembang lebih cepat pada bagian depan tubuh daripada bagian belakang.

sumber: Elizabeth B. Hurlock, PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5). Jakarta: Erlangga, 1980, hlm. 63

Selasa, 12 November 2013

Perjalanan Kaul Kemiskinan: Sebuah Permenungan

Kaul kemiskinan merupakan satu dari tiga kaul yang diucapkan oleh mereka yang ditahbiskan menjadi imam serta mereka yang mengikatkan dirinya pada suatu Lembaga Hidup Bakti. Istilah kaul lebih sering digunakan untuk biarawan dan biarawati, yang masuk dalam Lembaga Hidup Bakti, sedangkan istilah janji dipakai untuk imam non Lembaga Hidup Bakti atau imam diosesan. Dalam tulisan permenungan ini istilah yang dipakai cuma “kaul” saja. Dengan penyebutan atau penulisan kata “kaul” berarti termaksud juga istilah “janji”.

Di atas sudah dikatakan bahwa kaul kemiskinan ini merupakan salah satu dari tiga kaul. Ketiga kaul itu adalah kemiskinan, kemurnian (selibat) dan ketaatan. Ketiga kaul ini termasuk tiga nasehat Injil, dengan catatan dilakukan demi kerajaan Allah. Tiga nasehat Injil ini didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan dan dianjurkan oleh para Rasul, para Bapa-bapa Gereja. Maka nasehat-nasehat itu merupakan kurnia ilahi, yang oleh Gereja diterima dari Tuhan dan selalu dipelihara dengan bantuan rahmat-Nya demi tercapainya cinta kasih sempurna. (Lumen Gentium no 43, Perfectae Caritatis no 1).

Memang dewasa ini tiga nasehat Injil ini identik dengan kaum religius dan para imam (klerikus). Namun bukan berarti bahwa ketiga nasehat Injil ini hanya khusus untuk mereka. Umat beriman kristiani juga wajib menghayatinya (bdk. LG, no 44). Malah bisa dikatakan bahwa penghayatan nasehat-nasehat Injil sebagai wujud mengikuti Kristus muncul pertama kali dalam diri kaum awam (bdk. PC no 1). Namun, baik awam maupun bukan, Lumen Gentium menasehati agar “setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasehat-nasehat Injil sungguh-sungguh berusaha, supaya ia bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi makin suburnya kesudian Gereja, supaya makin dimuliakanlah Tritunggal yang satu tak terbagi, yang dalam Kristus dan dengan perantaraan Kristus menjadi sumber dan asal segala kesucian.” (no. 47).


Dalam permenungan ini kita hanya fokus melihat kaul kemiskinan. Di sini saya ingin membagikan sedikit permenungan tentang “perjalanan” kaul kemiskinan itu. Dikatakan “perjalanan” karena ada perubahan dalam penghayatan kaul tersebut dulu dan kini. Uraian ini murni sebuah permenungan, bukan ulasan sejarah. Bukanlah maksud saya untuk mencela atau menyalahkan penghayatan kaul kemiskinan dewasa ini. Dan bukan juga tujuan saya untuk mencari pembenaran atas penghayatan kaul kemiskinan ini. Benar salahnya penghayatan kaul ini berpulang pada masing-masing individu.

Kaul Kemiskinan: Dulu dan Kini
Dulu, ketika pertama kali diterapkan, orang yang mengucapkan atau menghayati kaul kemiskinan benar-benar miskin. Kita bisa lihat dalam sosok Petrus Valdus, Fransiskus Asisi yang diikuti kelompok Fraticelli, salah satu cabang Ordo Fransiskan (lih. Eddy Kristiyanto, OFM, Selilit Sang Nabi, 2007: 12, 109). Mereka menggantungkan hidupnya pada belas kasih Allah, baik langsung maupun dalam diri sesamanya. Karena itu, mereka yang berkaul kemiskinan umumnya tidak memiliki apa-apa.

Dalam perkembangan berikutnya, kaul kemiskinan ini berubah makna menjadi kaul kesederhanaan. Kaul yang diucapkan atau diikrarkan adalah kemiskinan, namun penghayatannya adalah kesederhanaan. Orang yang mengikrarkan kaul kemiskinan ini masih diperkenankan memiliki barang atau harta kekayaan asal jangan sampai menyamai atau melebihi umat awam yang dilayaninya.  Misalnya, kalau umat di wilayah paroki banyak yang mempunyai mobil, maka imam atau biarawan dan biarawati yang ada di wilayah paroki itu cukuplah dengan memiliki motor dengan nilai yang tidak mengalahkan nilai nominal mobil umat. Kalau umat umumnya punya parabola, maka kaum klerikus dan biarawan/wati cukup dengan antena biasa saja. Di situlah letak penghayatan kaul kemiskinannnya.


Dalam perjalanan sejarah kemudian kaul kemiskinan (kesederhanaan) ini mengalami pergeseran nilai. Orang yang mengucapkan kaul kemiskinan ini tidak lagi menekankan “miskin” atau “sederhana”-nya, melainkan pada “ketidakbergantungan”. Artinya, orang boleh saja punya mobil, HP super canggih dan barang-barang elektronik lainnya yang super canggih dan super mahal, yang penting hatinya tidak bergantung pada benda/materi itu. Tak peduli apakah umat sudah memilikinya atau belum. Jadi, pada titik ini seorang imam, bruder dan suster sah-sah saja memiliki Blackberry canggih dan mahal meski umatnya masih pakai HP biasa; wajar-wajar saja kalau melihat seorang imam memegang sebuah tablet meski umatnya masih memakai komputer PC. Kalau ditanya kenapa punya barang-barang itu padahal mengikrarkan kaul kemiskinan, dengan santai pasti dijawab, “Yang penting tidak bergantung dan tergantung pada barang tersebut.” Dan inilah yang terjadi dewasa kini.

Penutup
Dalam dokumen resmi Gereja dikatakan bahwa sejak awal mula Gereja mengamalkan nasehat-nasehat Injil dengan maksud mengikuti Kristus secara lebih bebas, dan meneladan-Nya dengan lebih setia. Dengan cara mereka masing-masing mereka menghayati hidup yang dibaktikan kepada Allah. Di antara mereka banyaklah yang atas dorongan Roh Kudus hidup menyendiri atau mendirikan biara (bdk PC no 1). Artinya, tiga nasehat Injil itu merupakan bagian dari hidup Yesus yang memesona orang sehingga mereka pun menerapkannya dalam hidupnya.

Dalam perjalanan sejarah manusia muncullah manusia-manusia dengan tingkat peniruan yang nyaris sempurna. Mereka benar-benar menghayati nasehat Injil itu. Dan waktu itu giliran mereka yang menjadi contoh. Pada mereka orang menemukan teladan Kristus. Karena itu banyak orang menjadi tertarik dengan gaya hidup mereka. Kita kenal Santo Norbertus, yang diperingati tiap 6 Juni. Hidupnya yang miskin, saleh dan bersemangat rasul itu menarik banyak murid kepadanya (Mgr. Nicolaas M Schneiders, CICM, Orang Kudus Sepanjang Tahun, 2008: 282).


Bagaimana dengan masa kini? Apakah anak-anak muda merasa tertarik menjadi imam, suster dan bruder karena “kemiskinan”-nya atau “gaya” hidup miskinnya?

Tanjung Balai Karimun, Peringatan St Norbertus, 6 Juni 2012

by: adrian