Selasa, 29 Oktober 2013

Renungan Hari Selasa Biasa XXX-C

Renungan Hari Selasa Biasa XXX, Thn C/I
Bac I   : Rom 8: 18 – 25;  Injil      : Luk 13: 18 21

Dalam Injil hari ini Yesus memberikan pelajaran tentang kerajaan Allah. Yesus membandingkan kerajaan Allah itu dengan biji sesawi (ay. 19) dan ragi (ay. 21). Dalam dua perumpamaan itu terdapat satu kesamaan, yaitu dari sesuatu yang kecil akhirnya menjadi besar. Pohon yang besar, di mana burung-burung dapat bersarang dan orang bisa berteduh, berasal dari biji yang kecil. Adonan roti dapat mengembang menjadi besar pun karena diberi sedikit ragi.

Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, Paulus menegaskan akan arah perjalanan hidup umat manusia, yaitu “menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.” (ay. 19). Dan ini menumbuhkan pengharapan akan keselamatan (ay. 24). Karena itu, Paulus mengajak jemaat agar dalam pengharapan itu “kita menantikannya dengan tekun.” (ay. 25). Ketekunan itu berawal dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

Sabda Tuhan hari ini mengajari kita untuk tidak menganggap remeh hal-hal kecil dan sederhana, apalagi berkaitan dengan tujuan akhir hidup kita. Tuhan menghendaki supaya kita membangun kerajaan Allah di dunia ini dari hal-hal yang sederhana. Dalam ketekunan itulah kerajaan Allah dapat terwujud. Tak perlu menunggu sesuatu yang wah atau luar biasa.

by: adrian

Senin, 28 Oktober 2013

(Inspirasi Hidup) Kualitas Hidup

SETIAP  LANGKAH  ADALAH  ANUGERAH


Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Harry. Harry dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan koper. Ketika berjalan keluar, Harry sering menghilang. Banyak yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopernya jatuh. Kemudian mengangkat seorang anak kecil agar dapat melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

Darimana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu?” tanya sang profesor. 

Oh,” kata Harry, “Selama perang saya kira.” 

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau. Dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah, “ katanya. “Saya tidak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira semenjak saat itulah saya menjalani hidup seperti ini.


Yang paling penting bukanlah berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kualitas hidup kita.

Orang Kudus 28 Oktober: St. Simon & Yudas

SANTO SIMON & YUDAS, RASUL
Pesta kedua rasul ini dirayakan bersama hari ini, (mungkin) karena nama keduanya selalu disebutkan serentak berurutan dalam Injil-injil Sinoptik (Mat 13: 55; Mrk 3: 18 dan 14: 3; Luk 6: 16) dan karena keduanya sama-sama mengalami nasib sebagai martir di negeri Persia (sekarang: Iran).

Simon, selain dikenal sebagai saudara sepupu Yesus, juga dikenal sebagai saudara rasul Yakobus Muda dan Yudas (Lih. Mat 13: 55). Ia dijuluki ‘Si Zelot’, yang berarti ‘yang rajin’, ‘yang meluap semangatnya’ dalam mempelajari dan menaati Hukum Taurat Yahudi. Gelaran ini diberikan juga barangkali karena ia termasuk salah seorang penganut aliran Zelot (lih. Mrk 3: 18 dst), yang sangat fanatik berpegang teguh pada Taurat dan yang turut ambil bagian dalam pemberontakan melawan penjajah Romawi tahun 67 – 70. Ia orang Kanaan yang dipanggil Yesus menjadi Rasul-Nya. Kisah hidupnya dan karyanya sebagai rasul sama sekali tidak dicantumkan di dalam Injil-injil, kecuali pencantuman namanya. Kita mengetahui sedikit tentang dia dalam tradisi-tradisi kuno. Buku Monologi Santo Blasius menyebutkan bahwa Simon wafat dengan damai di Edessa, Irak. Dalam tradisi Barat yang tertera di dalam Liturgi Romawi disebutkan bahwa ia pernah mewartakan Injil di Mesir, kemudian bergabung dengan Yudas pergi ke Mesopotamia, dan dari sana mereka pergi sebagai misionaris ke negeri Persia, Iran, hingga menemui ajalnya sebagai martir bersama Yudas. Tradisi lain menyebutkan bahwa setelah saudaranya Yakobus, Uskup Yerusalem, dibunuh, rasul lain memilih dia menggantikan Yakobus. Ia memegang jabatan uskup pada tahun 62 hingga kematiannya sebagai martir ketika terjadi penganiayaan umat Kristen pada masa pemerintahan kaisar Tryanus pada tahun 107.

Yudas, yang disebut juga Tadeus yang berarti ‘yang berani’ adalah saudara rasul Yakobus Muda. Tidak diketahui bagaimana dan kapan Yesus memanggilnya menjadi rasul. Tradisi mengakui dia sebagai penulis Surat Yudas, yang berisi dorongan semangat dan peneguhan kepada umat Kristen yang berada dalam krisis akhlak pada masa itu. Namun hal ini masih dipersoalkan oleh banyak ahli modern, mengingat Yudas bukanlah seorang terdidik baik sehingga mampu menulis sebaik itu. Mungkin ia menyuruh orang lain menuliskannya.

Namanya dimunculkan dalam Injil Yohanes pada waktu Yesus mengadakan Perjamuan terakhir. Dialah yang bertanya kepada Yesus, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Jawab Yesus, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” (Yoh 14: 22, 23).

Setelah kenaikan Yesus, tak ada cerita Kitab Suci tentang karya Yudas. Menurut tradisi, Yudas mewartakan Injil di Mesopotamia sebelum bergabung bersama Simon di Persia, di mana keduanya bersama-sama menemui ajal sebagai martir Kristus. Sejarahwan Eusebius menyebutkan bahwa ia mempunyai dua orang cucu: Zoker dan Yakobus, yang dihadapkan kepada Raja Domisianus, karena ada laporan bahwa keduanya berasal dari Kerajaan Daud. Tetapi setelah diketahui bahwa keduanya orang-orang miskin dan sederhana, maka mereka dibebaskan kembali. Santo Yudas dihormati Gereja sebagai pelindung bagi orang-orang yang mengemban tugas-tugas yang sulit.


sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun