Selasa, 25 Juni 2013

Renungan Hari Selasa Biasa XII - Thn II

Renungan Hari Selasa Biasa XII Thn II
Bac I   : II Raj 19: 9 – 11, 14 – 21, 31 – 36; Injil : Mat 7: 6, 12– 14

Injil hari ini masih melanjutkan pengajaran Tuhan Yesus di bukit. Dalam pengajaran-Nya itu, Tuhan Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk menaruh rasa hormat kepada segala sesuatu yang kudus dan yang berharga. “Jangan kamu memberikan barang kudus kepada anjing, dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi...,” (ay. 6). Anjing dan babi biasanya diidentikkan dengan kekotoran dan kenajisan. Karena itu, Yesus Kristus menginginkan supaya para pendengar-Nya tidak mengotori atau menajiskan apa yang kudus dan bernilai. Harus ada sikap hormat kepadanya.
Sikap inilah yang kiranya ditunjukkan Raja Hizkia dalam kitab kedua Raja-Raja. Dalam bacaan pertama hari ini, Hizkia tidak mau Yerusalem, kota suci bangsa Israel, diserahkan ke bangsa Asyur yang tak mengenal Allah. Raja Hizkia menghormati kota Yerusalem, karena itu dia datang kepada Allah memohon pertolongan-Nya (ay. 14 – 19). Ada dua hal penting dalam doa Hizkia ini. Pertama, rasa hormat sebenarnya hanya kepada Allah, karena kehancuran kota Yerusalem sama artinya dengan aib bagi Allah. Akan tetapi, Allah juga yang berkuasa untuk memulihkan dengan bantuan umat-Nya. Karena itu, kedua,  dengan menjaga dan menaruh rasa hormat kepada kota suci Yerusalem, sebenarnya Hizkia mau menunjukkan “supaya segala kerajaan di bumi mengetahui bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya TUHAN.” (ay. 19).
Sabda Tuhan hari ini mau mengatakan kepada kita bahwa sesuatu yang kudus dan berharga itu dapat berguna bagi kehidupan kita, baik kini maupun nanti. Karena itu, melalui sabda-Nya Tuhan menghendaki kita untuk menaruh rasa dan sikap hormat terhadap sesuatu yang kudus dan berharga. Jangan sampai kita menyepelekannya, apalagi sampai merendahkannya. Dengan rasa dan sikap hormat kepada sesuatu yang kudus dan berharga itu, kita secara tak langsung telah memuliakan Allah lewat hidup kita.
by: adrian

Senin, 24 Juni 2013

(Inspirasi Hidup) Membuat Sejarah Hidup

MEMBUAT SEJARAH HIDUP BAGI SESAMA
Mati bukanlah akhir, melainkan awal kehidupan. Sedangkan hidup adalah pangkal kematian. Hidup dan mati merupakan peristiwa dalam hidup manusia yang sudah pasti. Setiap manusia hidup pasti akan mati. Hidup dan mati datang silih berganti, tidak ada yang kekal abadi. Itulah hukum alam yang hakiki. Oleh sebab itu, jangan takut mati tapi jangan pula mencari mati.

Selama hidup, lebih baik bersegeralah perbanyak kebaikan, syukuri diri dalam keadaan apapun, dan tahu diri di manapun. Bebas, lepas, tidak terikat dan melekat, cerah ceria, berpikir optimis dan positif setiap saat, insyaallah hidup senang, mati tenang.

Ada sebuah kisah nyata. Pagi itu seorang pria menjalani rutinitasnya seperti biasa. Pagi itu ia dengan sebuah koran harian. Sebagai seorang yang memiliki relasi luas dan sibuk, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca kolom pengumuman termasuk juga kolom berita kematian.

Tiba-tiba matanya membaca sebuah berita, berita yang sangat mengejutkan dan membuat bulu kuduknya merinding. Ia sedang membaca berita kematiannya sendiri. Dibacanya sekali lagi dan lagi.

Pria ini terhenyak, ia lalu bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia masih hidup? Apakah saat ini ia ada di dunia atau di alam baka? Sesaat kemudian ia menyadari bahwa ada sebuah kesalahan dalam berita ini. Mungkin karena memiliki nama yang sama. Pastilah redaksi koran ini telah melakukan kesalahan. Demikian ia menduga.

Namun karena rasa penasaran ia pun melanjutkan membaca berita tersebut. Ia ingin tahu apa tanggapan orang mengenai dirinya. Dalam artikel itu ia disebut dengan panggilan 'raja dinamit'. Pada bagian lain ia juga disebut sebagai 'partner dewa kematian'.

Ia terkejut bukan kepalang, apakah seperti ini dirinya akan dikenang oleh orang-orang? Kejadian ini membuka pikirannya, ia lalu memutuskan bahwa ia tidak ingin dikenang seperti itu. Ia bertekad mulai saat itu juga ia akan berjuang demi kedamaian dan kemanusiaan.

Begitulah akhirnya, pria yang bernama Alfred Nobel ini dengan tekadnya ia berusaha hingga pada akhirnya namanya diabadikan dalam hadiah perdamaian--yaitu Nobel Prizes.

Bagaimana dengan kita? Seperti apa kita ingin dikenang oleh orang-orang yang kita tinggalkan? Warisan apa yang akan kita sumbangsihkan demi kebaikan umat banyak? Apakah orang-orang akan mengingat kita dengan penuh cinta dan rasa hormat atau sebaliknya?

Mari kita bersegera lakukan sebanyak mungkin kebaikan, mulai hari ini, detik ini, saat ini juga.

by: adrian, dikembangkan dari email Anne Ahira
Baca juga refleksi lainnya:

Renungan HR Kelahiran St Yohanes Pembaptis, Thn C/I

Renungan HR Kelahiran St Yohanes Pembaptis, Thn C/I
Bac I   : Yes 49: 1 – 6; Bac II       : Kis 13: 22– 26;
Injil     : Luk 1: 57 – 66, 80

Hari ini merupakan Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis. Sabda Tuhan hari ini semuanya mau mengisahkan tentang dirinya, meski tak bisa juga dilepaskan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Nabi Yesaya, sang nabi menubuatkan tentang kelahiran seseorang yang merintis jalan bagi terang bangsa-bangsa. Dialah Yohanes Pembaptis. Yesaya berkata bahwa melalui Yohanes ini, Allah akan “menyatakan keagungan-Ku.” (ay. 3). Tentulah kita ingat akan kisah Yesus dibaptis oleh Yohanes.

Bacaan kedua, yang diambil dari Kitab Kisah Para Rasul, juga menggambarkan sosok Yohanes oleh Paulus. Di sini Paulus mau menekankan bahwa kehadiran Yohanes Pembaptis bertujuan menyiapkan jalan bagi Yesus. Memang sebenarnya warta utama Paulus adalah Yesus sang Juru Selamat. Kehadiran Yohanes sebagai penguat janji Allah bahwa “kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.” (ay. 26).

Sedangkan Injil hari ini mengisahkan peristiwa kelahiran Yohanes. Salah satu hal yang mau ditekankan di sini adalah keterlibatan Allah. Dalam peristiwa kehamilan dan kelahiran, Allah memiliki peran. Keterlibatan Allah ini membuat orang-orang bertanya, “Menjadi apakah anak ini nanti?” (ay. 66). Pertanyaan ini merupakan kebingungan manusiawi atas penyelenggaraan ilahi, sama halnya juga dengan kehamilan Elisabet.

Apa pesan Tuhan hari ini buat kita? Lewat sabda-Nya di hari raya St. Yohanes Pembaptis ini kita disadarkan akan karya Allah bagi umat manusia. Seperti yang dikatakan Paulus, kita diingatkan bahwa warta keselamatan sudah tiba di hadapan kita. Karena itu berbahagiaalah. Namun tetaplah kita membutuhkan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita.

by: adrian