Selasa, 28 Mei 2013

(Sharing Iman) Bunda Maria Teladan Iman


BUNDA MARIA, AKU MENGASIHIMU…
Saya menjadi Katolik karena menikah dengan suami saya. Jadi sangat susah untuk saya kalau disuruh berdoa Rosario atau pun Salam Maria. Karena saya tidak mengimaninya. Buat saya Maria adalah ibu Tuhan Yesus. Dia bukan apa-apa, tak ada artinya dalam kehidupan saya.

Saya menikah di usia y
ang sangat muda, jadi sering terjadi konflik dengan suami. Tapi puji Tuhan saya punya anak pertama, wanita, yang sangat lembut hatinya. Dia bagaikan malaikat pelindung saya. Dia selalu menjadi penengah di antara kami. Saya dan anak saya sangat erat hubungannya, bahkan kami bersahabat. Dia adalah anak saya dan sahabat saya. Di buku hariannya dia menulis bahwa ibuku adalah idolaku. Saya memberikan perhatian dan kasih sayang kepada dia secara istimewa tapi dia tak manja.

K
arena saya seorang wanita karir maka pada waktu masuk SMA saya masukkan dia ke Asrama Putri Gembala Baik di Bogor. Maksud saya supaya dia aman dari pergaulan yang jahat di Jakarta.

Pada 12 Januari 1995 siang, saya ditelepon anak saya dari Asrama b
ahwa dia sakit. Lalu segera saya jemput dan saya masukkan ke RS. Karena tidak ada kamar VIP saya masukkan di kamar bangsal. Saya berjanji besok pagi akan saya pindahkan ke kamar VIP, jadi saya bisa menunggu. Dia tersenyum dan berkata: "Nggak apa-apa, mama pulang aja, kan mama capek kerja, nggak usah ditunggu". Dan keadaannya bagus, dokter juga berkata tidak ada yang dikuatirkan. Tapi ternyata, jam 22:00 saya dapat telepon dari RS anak saya koma, dan ANAK SAYA MENINGGAL DUNIA subuh jam 4, di usianya yang ke-16 tahun 5 bulan. HATI SAYA HANCUR!! SAYA KEHILANGAN KEHIDUPAN SAYA!!!

Saya membenci semua or
ang, termasuk Tuhan! Saya tidak terima keadaan ini. DAN SAYA MENJADI GILA. Secara fisik saya tidak terlihat gila, tapi kalau lagi kumat, saya mengamuk, mencoba bunuh diri, memaki-maki dan menangis. Keadaan itu saya alami selama 2 tahun. Saya kehilangan pekerjaan saya, anak saya nomor 2 tidak mau tinggal dengan saya karena malu. Untung, suami saya tabah.

Mula-mula d
engan sabar dia mengajak saya ke gereja. Kalau mendengar lagu-lagu gereja saya ingat anak saya. Maka saya mengamuk dan menangis dengan teriak-teriak. Akhirnya suami malu juga. Dia menjual rumah dan mobil kemudian mengajak pindah rumah. Setelah pindah rumah keadaan tidak membaik, saya tetap GILA!

Suatu ketika, Paskah 1997, suami saya tergerak u
ntuk mengajak saya ke gereja mengikuti ibadat Jumat Agung. Suami sudah pasrah dan siap menerima keadaan jika saya kumat. Tapi tiba-tiba pada waktu jalan salib berlangsung dan Yesus jatuh ketiga kalinya, badan saya terasa hangat dan saya merasa Tuhan Yesus berkata: "Inilah ibumu." Dan waktu itu, seolah secara rohani, saya disadarkan bahwa ibu Maria pun sudah terlebih dahulu mengalami hal yang sama dengan saya, yaitu kehilangan Anak yang dikasihinya. Tapi ibu Maria menerimanya dengan tabah karena kehendak Bapa.

Saya jatuh terduduk dan menangis. Suami sudah siap-siap mengangkat saya keluar gereja, takut saya mengamuk. Akan tetapi saya berkata, "T
idak usah. Biarkan saya sendiri." Saya menangis sampai selesai jalan salib bahkan sampai pulang ke rumah dan tidak mengamuk.

Pada saat itu juga, depresi saya hilang dan saya sadar dari gila saya. Saya memperoleh kehidupan saya kembali, saya kuat menerima kenyataan. Saya mau berkata seperti Bunda Maria: "Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu". Sejak saat itu devosi saya k
epada Bunda Maria sangat kuat. Saya berdoa Rosario setiap pagi. Saya mengasihi dia. Bunda Maria adalah figur yang bisa mengembalikan kehidupan saya. Kini saya adalah seorang ibu yang berbahagia, karena Tuhan mengaruniai saya 2 anak. Puji Tuhan! Dan saya berbahagia karena saya memiliki seorang ibu yang selalu mendoakan saya agar saya selalu dekat dengan Sang Terang Yesus Kristus, putranya. Sungguh saya mau berkata: "Bunda Maria, aku mengasihimu."

Sumber: ekaristi.org
Dikirim Tgl 10May2004 oleh - O -
Baca juga sharing lainnya:

Orang Kudus 28 Mei: St. Margaretha Pole

Beata Margaretha Pole, Martir
Margaretha lahir di sebuah desa dekat kota Bath, Inggris Selatan, pada 14 Agustus 1473. Ia dikenal sebagai seorang wanita bangsawan, pengiring Ratu Katarina, permaisuri pertama Raj Henry VIII.

Sepeninggal suaminya, Margaretha menjadi guru pribadi putrid Raja Henry VIII, Maria. Dalam kedudukannya sebagai guru pribadi itu, Raja Henry mengangkat Margaretha sebagai Pangeran Wanita Salisbury. Walaupun Henry mengenal baik kesucian hidup Margaretha, ia tidak segan memecat Margaretha ketika Margaretha menentang perceraiannya dengan Katarina dan niatnya menikahi Anne Boleyn.

Karena Reginaldus, putera Margaretha, yang kemudian menjadi seorang cardinal mencela Henry karena tuntutannya untuk mengawasi Gereja, Henry memutuskan untuk melenyapkan keluarga Margaretha. Akhirnya Margaretha dipenggal kepalanya pada tahun 1541 karena dituduh mengkhianati raja. Margaretha dinyatakan sebagai ‘Beata’ pada tahun 1886

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Jumat, 03 Mei 2013

(Inspirasi Hidup) Kendalikan Marah dgn Ikhlas & Maaf

KENDALIKAN MARAH DGN IKHLAS & MAAF
"Terus memendam amarah sama seperti menggenggam bara panas untuk dilontarkan kepada seseorang, Andalah yang akan terbakar"-  Sidharta Gautama

Dalam hidup memang wajar kalau ada peristiwa-peristiwa yang membuat kita marah dan kecewa. Tapi cepat kendalikan emosi Anda kembali. Jangan biarkan rasa amarah, dendam, iri, kesal atau kecewa kepada pasangan, teman, rekan kerja atau atasan di kantor  bercokol lama di hati kita.  

Kekesalan, amarah dan kekecewaan hanya akan mengaktifkan hukum tarik menarik, membuat Anda menerima apa yang Anda berikan. Bila kesal pada pasangan atau ada kawan yang mengingkari janji, lalu Anda menyalahkan mereka atas kekacauan semua itu, maka Anda akan mendapatkan kembali keadaan yang dipersalahkan itu.

Kembalinya keadaan itu tidak harus selalu dari orang yang Anda salahkan, tetapi sejatinya Anda akan mendapatkan kembali keadaan yang Anda salahkan itu.

Ikhlaskanlah, maafkanlah. Hati akan terasa lebih lega dan ringan dalam menjalani hidup, lebih fokus terhadap tujuan hidup tanpa terbebani penyakit-penyakit hati yang hanya akan menghabiskan energi positif.

"Jika saya mengikhlaskan diri saya, saya menjadi yang saya inginkan. Jika saya mengikhlaskan yang saya punya, saya akan menerima apa yang saya butuhkan."  Demikianlah kata-kata bijak Tao Te Ching.

Semoga Tuhan mengaruniai sabar yang tak terbatas dan ikhlas yang tak bertepi untuk kita semua, sehingga apapun rintangan dan cobaan yang dilalui akan terasa lebih ringan.

by: adrian, diolah dari email Anne Ahira
Baca juga refleksi lainnya: