Kamis, 14 Maret 2013

Paus Baru yang Ke-266

Paus baru ke-266
Tak perlu menungu terlalu lama setelah asap putih keluar dari cerobong Kapel Sistine, jam 7.12 waktu setempat, Kardinal Protodiakon Jean Luis Pierre Tauran muncul di Balkon Basilika St. Petrus untuk mengumumkan nama Paus Baru.
 
Sidang konklaf yang diikuti oleh para Kardinal dari berbagai penjuru dunia telah memilih Paus Baru dari Argentina, yaitu Kardinal Jorge Mario Bergoglio, 76 tahun yang adalah Uskup Agung Buenos Aires. Pilihan ini mengejutkan karena ini adalah untuk kali pertamanya Paus berasal dari benua Amerika. Kardinal Bergoglio memilih nama Paus Franciskus I untuk menandai kedudukan barunya sebagai Uskup Roma, pemegang tahta suci Vatikan yang ke 266.

Uskup Agung Buenos Aires ini dikenal sebagai intelektual Yesuit yang sederhana karena gemar bepergian dengan menggunakan bus dan mempunyai pendekatan praktis untuk mengentaskan kemiskinan. Saat diangkat menjadi kardinal, Bergoglio melarang ratusan orang Argentina yang hendak pergi ke Roma untuk merayakan pengangkatannya sebagai Kardinal dan menghimbau kepada mereka yang akan pergi untuk mendonasikan uang tiketnya bagi orang miskin. Dia adalah penentang keputusan kebijakan pemerintah Argentina yang melegalisasi perkawinan sejenis pada tahun 2010, memperjuangkan hak tumbuh dan pendidikan anak dalam bimbingan orang tua. Gergoglio diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Yohannes Paulus ke II pada 21 Februari 2001.

Paus Fransiskus 1 lahir di Buenos Aires tanggal 17 Desember 1936, lima bersaudara anak dari pekerja kereta api keturunan Italia. Menempuh pendidikan tinggi hingga beroleh gelar master dalam bidang kimia di Universitas Buenos Aires dan kemudian masuk ke seminari untuk menempuh pendidikan immamat. Bergabung dengan Serikat Yesus pada tanggal 11 Maret 1958 dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 13 Desember 1969 oleh Uskup Agung Ramon Jose Castellano. Paus Fransiskus 1 juga mendalami bidang filsafat dan teologi juga sastra serta psikologi.

Karena kepemimpinannya yang kuat oleh Serikat Yesus, Paus Fransikus 1 dipromosikan sebagai provinsial Yesuit di Argentina pada tahun 1973 s/d 1979. Tahun 1980 menjadi rektor di Seminari San Miguel, lalu melanjutkan studi doktoral di Jerman dan kembali ke Argentina untuk melayani sebagai Direktur pengakuan dan spiritual di Cordoba. Kemudian diangkat menjadi Uskup Agung Buenos Aires pada tahun 1998 dan di tahun 2001 merangkap menjadi Uskup untuk Gereja Katolik Ritus Timur di Argentina yang tidak mempunyai uskup.

Kemudian pada masa kepemimpinan Paus Yohannes Paulus ke II, ditunjuk sebagai Kardinal untuk posisi administrasi di Kuria Romana. Paus Fransiskus 1 menjabat pada Kongregrasi Klerus, Kongregrasi Ibadah Ilahi dan Sakramen, Kongregrasi Lembaga Hidup Bakti dan Kongregrasi Serikat Hidup Kerasulan. Selain itu juga menjadi anggota Komisi Amerika Latin dan Komisi Kelaurga.

Sosoknya dikenal dengan kerendahan hatinya, konservative doktrinal dan mempunyai komitmen untuk keadilan. Gaya hidupnya yang sederhana semakin meningkatkan reputasi kerendahan hatinya. Tinggal di sebuah apartemen kecil meski bisa diam di rumah uskup yang megah. Bahkan konon dikabarkan sering memasak sendiri makanannya.

Ketika Paus Yohannes Paulus ke II mangkat, Paus Fransiskus 1 dianggap sebagai salah satu papabile, Karindal yang berpotensi menjadi Paus.Namun konklaf 1005 memilih Kardinal Ratzinger yang memakai nama Paus Benediktus ke XVI yang kini digantikan olehnya.

Dalam sebuah catatan yang tidak diakui keabsahannya, konon Paus Fransiskus 1 yang saat itu masih berkedudukan sebagai Kardinal ditulis sebagai penantang utama Kardinal Ratzinger dalam pemilihan di konklaf 2005. Dalam catatan anonim itu Bergoglio diklaim menerima suara 40 pada 40 pada pemunggutan suara ke tiga, dan kemudian menurun pada pemunggutan suara berikutnya yang menentukan kemenangan Kardinal Ratzinger.

Dan pada tanggal 13 Maret 2013 dalam sidang konklaf hari kedua, Kardinal Bergoglio akhirnya terpilih menjadi Paus dengan nama Paus Fransiskus 1. Paus Fransiskus 1 menjadi imam yesuit pertama yang menjadi Paus, juga menjadi Paus pertama dari benua Amerika, Paus non Eropa setelah lebih dari 1.200 tahun masa kepausan. Paus terakhir non Eropa adalah St. Gregorius III yang lahir di Suriah dan menduduki tahta suci dari tahun 731 – 741.

Bagi kebanyakan pengamat, sosok Paus Fransiskus 1 digambarkan sebagai pribadi yang terbuka maka tepat kiranya kalau ada harapan bahwa Paus yang baru terpilih ini akan membawa arah baru dalam kepemimpinan di Tahta Suci selaku pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia.

Proficiat untuk Paus Fransiskus 1, doa dan harapan kami agar kiranya Bapa Suci bisa memimpin umat katolik sedunia untuk menjadi garam serta terang bagi dunia baru yang lebih baik untuk semua.

Kiriman email dari Rm. Benny Balun

Orang Kudus 14 Maret: St. Matilda

SANTA MATILDA, PENGAKU IMAN
Matilda lahir kira-kira pada tahun 895. Ia kemudian menikah dengan Henry I, putera Adipati Saxon, yang menjadi Raja Jerman pada tahun 919. Tuhan menganugerahkan kepada mereka anak-anak yang cerdas: Otto, yang kemudian menjadi Otto I, Kaisar Jerman dan Kaisar Romawi Suci; Henry, yang menjadi Adipati Bavaria; Bruno, yang menjadi Uskup Agung Cologne dan kemudian dihormati Gereja sebagai Orang Kudus; dan Gerberga, yang menikah dengan Raja Louis IV dari Perancis.

Ketika suaminya meninggal dunia pada tahun 938, Matilda membaktikan dirinya pada karya-karya cinta kasih. Ia lebih banyak memperhatikan kehidupan rohaninya. Ia mendirikan biara-biara di Nordhausen, Quidlinburg dan di engern. Anak-anaknya, Otto dan Henry sering memarahi ibunya karena sangat banyak memboroskan harta kekayaan keluarga untuk membantu orang-orang fakir miskin. Meskipun demikian, mereka tetap menghormati Matilda, ibu mereka. Hal ini terlihat dengan tindakan Otto terhadap ibunya. Ketika Otto pergi ke Roma untuk dimahkotai sebagai Kaisar Roma, ia menyerahkan kekuasaan Kerajaan Jerman kepada ibunya. Matilda memimpin Kerajaan Jerman hingga kematiannya pada tanggal 14 Maret 968 di sebuah biara yang didirkannya di Quedlinburg.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Kamis Prapaskah IV-C

Renungan Hari Kamis Prapaskah IV, Thn C/I
Bac I : Yes 32: 7 – 14Injil       : Yoh 5: 31 – 47

Injil hari ini melanjutkan kisah Injil kemarin, di mana Yesus menegaskan akan keallahan-Nya karena kesatuan-Nya dengan Bapa. Hari ini Yesus sekali lagi menegaskan akan hal itu. Yesus berharap bahwa ketika umat melihat pekerjaan-Nya, umat dapat melihat karya Allah. Karya Yesus itulah yang memberi kesaksian tentang siapa Dia dan siapa yang mengutus-Nya. (ay. 36).

Selain menegaskan keallahan-Nya,Yesus mengecam sikap orang Yahudi yang tidak menerima kesaksian-Nya. Sekalipun Dia sudah menjelaskan akan keberadaan-Nya, orang Yahudi tetap menolak. "Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia." (ay. 43). Dapatlah dipastikan bahwa penolakan orang Yahudi akan Yesus bukan berdasarkan apa yang dikerjakan Yesus, melainkan lebih pada penampilan dan latar belakang-Nya. Mungkin pelampilan dan latar belakang Yesus tidak mendukung karya besar yang dilakukan-Nya.

Sikap orang Yahudi seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Tak jarang kita menolak orang lain yang berbuat atau berkata baik hanya karena penampilannya tidak menarik bagi kita. Sering orang menerima pernyataan dari orang karena status atau gelarnya atau juga penampilannya.

Sabda Tuhan dalam Injil mengajak kita untuk menyingkirkan sikap seperti itu. Sejauh itu baik dan benar, kita hendaknya menerimanya tanpa melihat siapa dan bagaimana penampilannya.

by: adrian