Selasa, 08 Januari 2013

Renungan Hari Selasa Sesudah Epifani

Renungan Hari Selasa sesudah Epifani, Thn C/I
Bac I : 1 Yoh 4: 7 – 10; Injil       : Mrk 6: 34 – 44

Dalam Injil hari ini sebenarnya mau ditunjukkan keallahan Yesus dengan tindakan kasih. Karena seperti yang dikatakan Yohanes dalam suratnya yang pertama, "Allah adalah kasih." (ay. 8), demikianlah Yesus menunjukkan kasih-Nya kepada orang banyak yang datang kepada-Nya "seperti domba yang tidak mempunyai gembala." (ay. 34). Karena kasih juga Yesus tidak mau menuruti saran para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak itu pulang mencari makan sendiri. Yesus tidak tega.

Sabda Tuhan hari ini memuat perintah kepada para murid untuk ambil bagian dalam keilahian Allah dengan berbuat kasih. Yohanes, dalam bacaan pertama, menuliskan ajakannya, "marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah." (ay. 7). Yesus pun, yang tidak tega memaksa orang banyak untuk pergi ke kampung-kampung mencari makan, menyuruh para murid-Nya untuk berbuat kasih. "Kamu harus memberi mereka makan!" (ay. 37).

Pesan sabda Tuhan hari ini kepada kita adalah agar kita senantiasa mewartakan kasih itu dengan perkataan dan perbuatan. Kasih yang memancar dari diri kita menunjukkan bahwa kita ini berasal dari Allah dan mengenal Allah. Dan dengan kasih ini kita turut ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus di dunia

by: adrian

Senin, 07 Januari 2013

(Pencerahan) Sadarlah, Kau Menemukan Dirimu!

Elang emas
Seseorang menemukan sebutir telur elang
dan meletakkannya di eraman induk ayam.
Anak elang itu menetas bersama anak-anak ayam
dan menjadi besar bersama-sama mereka pula.

Selama hidupnya elang itu berbuat sama seperti seekor ayam.
Ia mengira bahwa dirinya juga seekor ayam saja.
Ia mengais-ngais tanahuntuk mencari cacing dan serangga.
Ia berkotek-kotek.
Dan ia juga mengebaskan sayapnya
dan terbang tak seberapa jauh seperti ayam.
Sebab, begitulah lazimnya seekor ayam terbang, bukan?

Tahun-tahun berlalu,
dan elang itu pun menjadi tua.
Pada suatu hari ia melihat seekor burung perkasa
terbang tinggi di angkasa biru.
Burung itu melayang-layang dengan indah dan lincah
melawan tiupan angin,
hampir-hampir tanpa mengepakkan sayapnya
yang kuat dan berwarna keemas-emasan.

Elang tua itu melihat ke atas
dengan rasa kagum.

“Apakah itu?” tanyanya kepada temannya.

“Itulah elang, raja segala burung,” kata temannya.
“Tetapi jangan terlalu memikirkan hal itu.
Engkau dan aku berbeda dengan dia.”

Maka elang tua itu pun
tak pernah memikirkan hal itu lagi.
Akhirnya ia mati,
Dengan masih tetap mengira dirinya
hanyalah seekor ayam saja.

by: Anthony de Mello, Burung Berkicau
Baca juga refleksi lainnya:

Natal Di Pulau Burung, KM 9

Bahagia natal