Kamis, 04 Oktober 2012

Renungan Hari Kamis Biasa XXVI - Thn II

  Renungan Hari Kamis Pekan Biasa XXVI B/II
Bac I  Ayb 19: 21 – 27; Injil       Luk 10: 1 – 12

Injil hari ini mengisahkan pengutusan para murid oleh Yesus. Harus dibedakan murid dalam kisah ini dengan keduabelas rasul. Murid dalam kisah ini berjumlah 72 orang. Mereka diutus berdua-dua untuk mendahului Yesus ke kota-kota yang akan dikunjungi Yesus nantinya. Artinya, mereka ini bertugas untuk menyiapkan kedatangan Yesus.

Dalam sabda-Nya kepada para murid yang akan diutus itu, Yesus menyampaikan nasehat kepada mereka. Ada banyak nasehat yang disampaikan, namun dapat dirangkum menjadi dua saja.

Pertama, Yesus mau menyadarkan para murid bahwa tugas perutusan ini bukanlah gampang. Di sini Yesus menghendaki agar nantinya ketika mereka menghadapi kesulitan mereka tidak kaget dan langsung menyerah. Memberitahukan situasi di depan bertujuan agar mereka siap menghadapinya. Tidak mudah menyerah dan putus asa dapat dibentuk sejak awal.

Kedua, Yesus mau mengajak para murid yang diutus untuk fokus pada tugas perutusan itu. Mereka tak perlu memikirkan soal upah, kenyamanan, keamanan, bahkan komunikasi dengan orang lain. Tetaplah berkonsentrasi dengan tugas mewartakan kerajaan Allah sudah dekat. Inilah harapan Yesus. Jangan memikirkan yang lainnya.

Sabda Tuhan ini dapat kita terapkan dalam kehidupan kita. Kehadiran kita di dunia kita saat ini ibarat domba di tengah serigala. Ada banyak tantangan, godaan dan cobaan. Hidup terasa sulit. Untuk itulah pertama-tama kita mesti menyadarinya. Dengan kesadaran itu maka kita siap menghadapinya. "Siap" di sini bukan berarti bahwa kita akan selalu berhasil, melainkan bahwa kita mau berusaha dan berjuang. Soal berhasil atau gagal bukan adalah masalah lain. Kesiapan itu membuat kita dapat menerima keberhasilan dan kegagalan.

Tuhan juga menghendaki agar kita dapat fokus pada tugas-tugas kita. Namun lebih dari pada itu, hendaklah kita menyadari bahwa kita juga diutus untuk menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan kita.

by: adrian

Orang Kudus 4 Oktober: St. Fransiskus Asisi

SANTO FRANSISKUS ASISI, PENGAKU IMAN
Giovanni Francesco Bernardone lahir di Asisi, daerah pegunungan Umbria, Italia Tengah pada tahun 1182. Ayahnya, Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya; sedangkan ibunya, Yohana Dona Pica, seorang putri bangsawan picardia, Perancis. Ia dipermandikan dengan nama ‘Giovanni Francesco Bernardone’ tetapi kemudian lebih dikenal dengan nama ‘Francesco’ karena kemahirannya berbahasa Perancis yang diajarkan ibunya.

Ia sangat dimanja ayahnya sehingga berkembang menjadi seorang pemuda yang suka berfoya-foya dan pemboros. Pada umur 20 tahun ia bersama teman-temannya terlibat sebagai prajurit dalam perang saudara antara Asisi dan Perugia. Dalam pertempuran itu ia ditangkap dan dipenjarakan selama 1 tahun sehingga jatuh sakit setelah dibebaskan. Pengalaman pahit ini menandai awal hidupnya yang baru. Ia tidak tertarik lagi dengan usaha dagang ayahnya dan corak hidup mewahnya dahulu. Sebaliknya ia lebih tertarik pada corak hidup sederhana dan miskin sambil lebih banyak meluangkan waktunya untuk berdoa di gereja, mengunjungi orang-orang di penjara dan melayani orang-orang miskin dan sakit. Sungguh suatu keputusan pribadi yang datang di luar bayangan orang sedaerahnya dan orang tuanya.

Tak lama kemudian ketika sedang berdoa di gereja San Damian di luar kota Asisi, ia mendengar suatu suara keluar dari Salib Yesus, “Fransiskus, perbaikilah rumahku yang hampir roboh ini!” Fransiskus tertegun sebenatar lalu dengan yakin mengatakan bahwa suara itu adalah suara Yesus sendiri. Segera ia lari ke rumah. Tanpa banyak pikir dia mengambil setumpuk kain mahal dari gedung ayahnya lalu menjual kain-kain itu. Uang hasil penjualan kain itu diberikan kepada pastor paroki San Damian untuk membiayai perbaikan gereja itu. Tetapi pastor menolak pemberiannya itu.

Ayahnya marah besar lalu memukul dan menguncinya di dalam sebuah kamar. Ibunya jatuh kasihan lalu membebaskan dia dari kurungan itu. Setelah dibebaskan ibunya, ia kembali ke gereja San Damian. Ayahnya mengikuti dia ke sana, memukulnya sambil memaksanya mengembalikan uang hasil penjualan kain itu. Dengan tenang ia mengatakan bahwa uang itu sudah diberikannya kepada orang-orang miskin. Ia juga tidak mau kembali lagi ke rumah meskipun ayahnya menyeret pulang. Ayahnya tidak berdaya lalu meminta bantuan Uskup Asisi untuk membujuk Fransiskus agar mengembalikan uang itu. Fransiskus patuh pada uskup. Di hadapan Uskup Asisi, ia melucuti pakaian yang dikenakannya sambil mengatakan bahwa pakaian-pakaian itu pun milik ayahnya. Dan semenjak saat itu hanya Tuhan-lah yang menjadi ayahnya. Sang uskup memberikan kepadanya sehelai mantel dan sebuah ikat pinggang. Inilah pakaian para gembala domba dari Umbria, yang kemudian menjadi pakaian para biarawan Fransiskan.

Fransiskus tidak kecut apalagi sedih hati dengan semua yang terjadi atas dirinya. Ia bahkan dengan bangga berkata, “Nah, sekarang barulah aku dapat berdoa sungguh-sungguh Bapa kami yang ada di surga.” Dan semenjak itu sabda Yesus, “Barangsiapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menjual segala harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin” menjadi dasar hidupnya yang baru. Sehari-harian ia mengemis sambil berkotbah kepada orang-orang yang ada di sekitar gereja San Damian. Ia menolong orang-orang miskin dan penderita lepra dengan uang yang diperoleh setiap hari. Ia sendiri hidup miskin. Kalau ia berbicara tentang nasehat-nasehat Injil, ia menggunakan bahasa lagu-lagu cinta yang populer dan bahasa-bahasa puitis. Ia sendiri rajin menyusun puisi-puisi dan selalu membacakannya keras-keras kalau ia berjalan-jalan.

Ia disebut orang sekitar dengan nama ‘Poverello’ (lelaki miskin). Cara hidupnya yang miskin tetapi selalu gembira dan penuh cinta pada orang-orang miskin dan sakit, menarik minat banyak pemuda. Pada 1209, ada tiga orang bergabung bersamanya: Bernardus Guantevale, seorang pedagang kaya; Petrus Katana, seorang pegawai; dan Gilles, seorang sederhana dan bijak. Harta benda mereka dipakai untuk melayani kaum miskin dan orang-orang sakit. Bersama dengan ketiga orang itu, Fransiskus membentuk sebuah komunitas persaudaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ordo, yaitu ‘ Ordo Fransiskan’ atau ‘Ordo Saudara-saudara Dina.” Tak ketinggalan wanita-wanita. Klara, seorang gadis Asisi meninggalkan rumahnya dan bergabung bersamanya. Bagi Klara dan kawan-kawannya, Fransiskus mendirikan sebuah perkumpulan khusus. Itulh awal dari Kongregasi Suster-suster Fransiskan atau Ordo Kedua Fransiskan.

Fransiskus ditahbiskan menjadi diakon dan mau tetap menjadi seorang diakon sampai mati. Ia tidak mau ditahbiskan menjadi imam. Lebih dari orang-orang lain, Fransiskus berusaha hidup menyerupai Yesus Kristus. Ia menekankan kemiskinan absolut bagi para pengikutnya waktu itu. Sebagai tambahan pada kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, ia menekankan juga penghayatan semangat cinta persaudaraan dan kesederhaan hidup. Ordo Benediktin yang sudah lama berdiri memberi mereka sebidang tanah.

Demi sahnya komunitas yang dibentuknya dan aturan hidup yang disusunnya, ia berangkat ke Roma pada tahun 1210 untuk meminta restu dari Sri Paus Innosensius III (1198 – 1216). Mulanya Sri Paus menolak. Tetapi pada suatu malam dalam mimpinya, paus melihat tembok-tembok Basilika Santo Yohanes Lateran berguncang dan Fransiskus sendiri menopangnya dengan bahunya. Pada waktu pagi, paus langsung memberikan restu kepada Fransiskus tanpa banyak bicara.

Lagi-lagi Ordo Benediktin menunjukkan perhatiannya kepada Fransiskus dan kawan-kawannya. Kapela Maria Ratu para Malaikat di Portiuncula, milik para rahib Benediktin, kira-kira dua mil jauhnya dari kota Asisi, diserahkan kepada Fransiskus oleh Abbas Ordo Benediktin. Fransiskus gembira sekali. Ia mulai mendirikan pondok-pondok kecil dari kayu di sekitar kapela itu sebagai tempat tinggal mereka yang pertama. Kemudian Chiusi, seorang tuan tanah di daerah itu, memberikan kepadanya sebidang tanah di atas bukit La Verna, di bilangan bukit-bukit Tuccan. La Verna kemudian dijadikan sebagai tempat berdoa dan bermeditasi.

Semangat kerasulannya mulai membara dari hari ke hari. Dalam hatinya mulai tumbuh keinginan besar untuk mempertobatkan orang-orang muslim di belahan dunia Timur. Ia mulai menyusun rencana perjalanan ke Timur. Pada musim gugur tahun 1212, ia bersama seorang kawannya berangkat ke Syria. Tetapi nasib sial menghadang mereka di pertengahan jalan. Kapal yang mereka tumpangi karam dan mereka terpaksa kembali lagi ke Italia. Tetapi ia tidak putus asa. Ia mencoba lagi dan kali ini ia mau pergi ke Maroko melalui Spanyol. Tetapi sekali lagi niatnya tidak bisa terlaksana karena ia jatuh sakit. Pada bulan Juni 1219 ia sekali lagi berangkat ke belahan dunia Timur bersama 12 orang temannya. Mereka mendarat di Damaitea, delta sungai Nil, Mesir. Di sana mereka menggabungkan diri dengan pasukan Perang Salib yang berkemah di sana. Nasib sial menimpa dirinya. Ia ditahan oleh Sultan Mesir. Saat itu menjadi suatu peluang baik baginya untuk berbicara dengan sultan islam itu. Sebagai tawanan ia minta izin untuk berbicara dengan Sultan Mesir itu. Ia berharap dengan pertemuan dan pembicaraan dengan sultan, ia dapat mempertobatkannya. Sultan menerima dia dengan baik sesuai dengan adat sopan santun ketimuran. Namun pertemuan itu sia-sia saja. Sultan tidak bertobat dan menyuruhnya pulang kepada teman-temannya di perkemahan setelah mendengarkan kotbahnya.

Setelah beberapa lama berada di Tanah Suci, Fransiskus dipanggil pulang oleh komunitasnya. Selama beberapa tahun ia berusaha menyempurnakan aturan hidup komunitasnya. Selain itu ia mendirikan lagi Ordo Ketiga Fransiskan. Ordo ini dikhususkan bagi umat awam yang ingin mengikuti cara hidup dan ajarannya sambil tetap mengemban tugas sebagai bapak-ibu keluarga atau tugas-tugas lain di dalam masyarakat. Para anggotanya diwajibkan juga mengikrarkan kaul kemiskinan dan kesucian hidup. Kelompok ini lazim disebut kelompok ‘Tertier’. Tugas pokok mereka ialah melakukan perbuatan-perbuatan baik di dalam keluarga dan masyarakat dan mengikuti cara hidup Fransiskus tanpa menarik diri dari dunia.

Ordo Fransiskan ini berkembang dengan pesat dan menakjubkan. Dalam waktu relatif singkat komunitas Fransiskan bertambah banyak jumlahnya di Italia, Spanyol, Jerman dan Hungaria. Pada 1219 anggotanya sudah 5000 orang. Melihat perkembangan yang menggembirakan ini maka pada 1222, Paus Honorius III (1216 – 1227) secara resmi mengakui komunitas religius Fransiskan beserta aturan hidupnya.

Pada tahun 1223, Fransiskus merayakan Natal di daerah Greccio. Upacara malam natal diselenggarakan di luar gereja. Dia menghidupkan kembali gua Betlehem dengan gambar-gambar sebesar bdan. Penghormatan kepada kanak-kanak Yesus yang sudah menjadi suatu kebiasaan  Gereja dipopulerkan oleh Fransiskus bersama para pengikutnya.

Pada umur 43 tahun, ketika sedang berdoa di bukit La Verna, sekonyong-konyong terasa sakit badannya dan muncul di kaki dan tangan serta lambungnya luka-luka sayang sama seperti luka-luka Yesus. Itulah ‘stigmata’ Fransiskus. Luka-luka itu tidak pernah hilang sehingga menjadi sumber rasa sakit dan kelemahan tubuhnya. Semenjak peristiwa ajaib itu, Fransiskus mulai mengenakan sepatu dan mulai menyembunyikan tangan-tangannya di balik jubahnya.

Fransiskus dikagumi orang-orang sezamannya bahkan hingga kini karena berbagai karunia luar biasa yang dimilikinya. Ia dijuluki ‘sahabat alam semesta’ karena cintanya yang besar dan dalam terhadap alam ciptaan Tuhan. Semua ciptaan menggerakkan jiwanya untuk bersyukur kepada Tuhan dan memuliakan keagungan-Nya. Seluruh alam raya beserta isinya benar-benar berdamai dengan Fransiskus. Ia berbincang-bincang dengan semua ciptaan seperti layaknya dengan manusia. Semua disapanya sebagai ‘saudara’: saudara matahari, saudari bulan, saudara burung-burung, dll. Ia benar-benar menjadi sahabat alam dan binatang.

Lama kelamaan kesehatannya semakin menurun dan pandangan matanya mulai kabur. Dalam kondisi itu ia menyusun karyanya yang besar ‘Gita Sang Surya’. Salah satu kidung di dalamnya, yang melukiskan tentang keindahan saling mengampuni, dipakainya untuk mendamaikan uskup dengan penguasa Asisi yang sedang bertikai. Ia diminta untuk mendamaikan keduanya. Untuk itu ia menganjurkan agar perdamaian itu dilakukan di halaman istana uskup bersama beberapa imam dan pegawai kota. Ia sendiri tidak ikut serta dalam pertemuan perdamaian itu. Namun ia mengutus dua orang rekannya ke sana dengan instruksi untuk menyanyikan lagu ‘Gita Sang Surya’, yang telah ia tambahi dengan satu bagian tentang keindahan saling mengampuni. Ketika mendengar nyanyian yang dibawakan dengan begitu indah oleh dua orang biarawan Fransiskan itu, uskup dan penguasa Asisi itu langsung berdamai tanpa banyak bicara.

Menjelang tahun-tahun terakhir hidupnya ia mengundurkan diri. Sebab, di antara saudara-saudara seordo terjadi selisih paham mengenai penghayatan hidup miskin seperti yang dicintai dan dihayatinya sendiri. Pada tanggal 3 Oktober 1226 dalam umur 44 tahun Fransiskus meninggal dunia di kapela Potiuncula. Dua tahun berikutnya ia langsung dinyatakan ‘kudus’ oleh Gereja.

Fransiskus adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat hingga kini. Kebesarannya terletak pada dua hal berikut: kegembiraannya dalam hidup sederhana, menderita lapar dan sakit dan pada cintanya yang merangkul seluruh ciptaan. Ketika Gereja menjadi lemah san sakit karena lebih tergiur dengan kekayaan dan kekuasaan duniawi, Fransiskus menunjukkan kembali kekayaan iman kristen dengan menghayati sungguh-sungguh nasehat-nasehat dan cita-cita Injil yang asli: kerendahan hati, kemiskinan dan cinta

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Rabu, 03 Oktober 2012

Tentang Global Warming

GLOBAL CLIMATE CHANGE
oleh : Annisa Fitriana
Perubahan Iklim atau Climate change dapat diartikan sebagai variasi dan perubahan yang terjadi pada iklim dunia secara global sepanjang kurun waktu tertentu. Hal tersebut menunjukkan perubahan dalam rata-rata variasi atmosfer dalam skala waktu satu dekade hingga jutaan tahun. Perubahan ini dapat disebabkan oleh proses internal Bumi dan kekuatan external seperti Variasi Matahari. Perubahan Iklim global yang terjadi tidak terlepas dari perilaku manusia dalam memanfaatkan alam dan lingkungan.

Pemanasan Global merupakan suatu proses menghangatnya permukaan Bumi selama beberapa kurun waktu. Ini adalah gejala alam yang normal sebenarnya. Kalau tidak mendapat pemanasan maka suhu di Bumi bisa menjadi dingin membeku. Pemanasan global dapat mengakibatkan perubahan iklim. Hal ini disebabkan adanya gas efek rumah kaca yang berlebihan (lebih dari kondisi normal) di atmosfer bumi, sebagai akibat terganggunya komposisi gas-gas rumah kaca utama seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4 (Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) di atmosfer.

Bagaimana keterkaitan antara efek rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim? Secara sederhana dijelaskan sebagai berikut sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya (komposisinya berlebihan). Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas ke angkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global.

Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global. Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.

Hutan memberikan pengaruh pada sumber daya alam lain melalui tiga faktor yang berhubungan, yakni iklim, tanah dan pengadaan air di berbagai wilayah. Apapun bentuk yang dimiliki hutan, pada hakekatnya hutan selalu merupakan perpaduan lima unsur pokok pembentuknya, yaitu bumi (tanah), air, alam hayati, udara dan sinar matahari. Tanpa adanya salah satu dari unsur-unsur tersebut, secara mutlak mengakibatkan tidak adanya hutan. Sebaliknya, apabila hutan ditebang, pengaruh hutan dan belukar terhadap iklim mikro amat terasa. Hutan juga berpengaruh terhadap struktur tanah, erosi dan pengadaan air di lereng-lereng.


Oleh karena berbagai hubungan timbal balik antara hutan dan kehidupan di bumi, maka kelestarian hutan harus dipertahankan sedemikian rupa sehingga bukan hanya hutan yang lestari, tetapi juga kehidupan bumi. Hutan mempunyai fungsi ekologi yang penting. Fungsi Hidrologi hutan bersifat lokal dan regional, dan fungsi pengaturan iklim, khususnya pemanasan global dan sebagai sumberdaya hayati, bersifat global. Kerusakan hutan tidak saja merugikan secara fisik dan ekonomis, tetapi yang paling penting adalah terhadap keseimbangan ekonomi dan ekologi. Lingkungan hutan merupakan suatu ekosistem tertentu dengan fungsi tertentu pula, di mana di dalam ekosistem tersebut memiliki peran masing-masing. Apabila terjadi kerusakan, maka akan menggangu keseimbangan ekosistem di dalam hutan tersebut. Terganggunya keseimbangan ekosistem tersebut akan menyebabkan dampak ikutan terhadap seluruh sistem yang ada di dalam hutan tersebut. Kerusakan hutan dalam hubungannya dengan ekologi dapat dijelaskan misalnya terjadinya pemanasan global, efek rumah kaca serta pergeseran musim, khususnya di daerah tropik. Pemanasan global terjadi akibat dari menurunnya jumlah hutan. Hutan memegang peranan yang sangat besar dalam proses pembersihan udara serta mengurangi pemanasan global bumi. Apabila pengelolaan hutan dilakukan secara bijaksana dengan tetap menjaga kelestariannya, maka kita telah ikut serta memperbaiki keseimbangan lingkungan hidup dan iklim di bumi.

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. Fenomena variasi matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

DAFTAR PUSTAKA:
Stott, Peter A., et al. (03-12-2003). "Do Models Underestimate the Solar Contribution to Recent Climate Change?". Journal of Climate 16 (24): 4079–4093.
Stocker, Thomas F.; et al. 7.5.2 Sea Ice. Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change.
Otto Soemarwoto, Peranan Hutan Tropika Dalam Hidro-orologi, Pemanasan Global dan Keanekaragaman Hayati. Dalam Melestarikan Hutan Tropika, Permasalahan, Manfaat Dan Kebijakannya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1992.