Jumat, 01 Juni 2012

Orang Kudus 1 Juni: St. Yustinus


SANTO  YUSTINUS,  MARTIR
Yustinus lahir dari sebuah keluarga kafir di Nablus, Samaria, Asia Kecil pada permulaan abad kedua kira-kira pada kurun waktu meninggalnya santo Yohanes Rasul.

Yustinus mendapat pendidikan yang baik semenjak kecilnya. Kemudian ia tertarik pada pelajaran filsafat untuk memperoleh kepastian tentang makna hidup ini dan tentang Allah. Suatu ketika ia berjalan-jalan di tepi pantai sambil merenungkan berbagai soal. Ia bertemu dengan seorang orang tua. Kepada orang tua itu, Yustinus menanyakan berbagai soal yang sedang direnungkannya. Orang tua itu menerangkan kepadanya segala hal tentang para nabi serta tentang agama kristen. Ia dinasehati agar berdoa kepada Allah memohon terang surgawi.

Di samping filsafat, ia juga belajar Kitab Suci. Ia kemudian dipermandikan dan menjadi pembela iman kekristenan yang tersohor. Sesuai kebiasaan di zaman itu, Yustinus pun mengajar di tempat-tempat umum, seperti alun-alun kota, dengan mengenakan pakaian seorang filsuf. Ia juga menulis tentang berbagai masalah, terutama yang menyangkut pembelaan ajaran iman yang benar. Di sekolahnya di Roma, banyak kali diadakan perdebatan umum guna membuka hati banyak orang bagi kebenaran iman kristen.

Yustinus bangga bahwa ia menjadi seorang kristen yang saleh, dan ia bertekad meluhurkan kekristenannya dengan hidupnya. Dalam bukunya "Percakapan dengan Tryphon Yahudi", Yustinus menulis, "Meski kami orang kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, atau dibuang ke moncong-moncong binatang buas, atau disiksa dengan belenggu dan api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin hebat penyiksaaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi orang saleh."

DI Roma, Yustinus ditangkap dan bersama para martir lainnya dihadapkan ke depan penguasa Roma. Setelah banyak disesah, kepala mereka dipenggal. peristiwa itu terjadi tahun 165. Yustinus dikenal sebagai seorang pembela iman terbesar pada zaman Gereja Purba.

sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Jumat Biasa VIII - Thn II

Renungan Hari Jumat Biasa VIII B/II
Bac I       : 1Ptr 4: 7 – 13 ; Injil       : Mrk 11: 11 – 26

Bacaan Injil hari ini memuat 3 kisah. Kisah pertama dan ketiga berkaitan, yaitu kisah Yesus dan pohon ara. Kisah kedua adalah peristiwa pembersihan Bait Allah. Ada ahli, misalnya Karen A Barta, yang melihat penempatan kisah pembersihan Bait Allah yang diapiti kisah Yesus dan pohon ara memiliki kesamaan pesan. Karena itulah, mungkin, Gereja menjadikannya satu kesatuan bacaan liturgi.
Namun yang menarik untuk direnungkan adalah pernyataan bahwa "Yesus merasa lapar." (ay 12b). Lapar menunjukkan sifat dan aktivitas setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Setiap manusia pasti pernah merasa lapar. Jadi, lapar itu bisa dikatakan manusiawi. Manusia yang lapar akan didorong oleh nalurinya untuk segera menghilangkan rasa lapar itu.
Jadi, dengan mengatakan "Yesus merasa lapar", itu berarti Yesus mau menunjukkan aspek kemanusiaan-Nya. Pada bagian ini Yesus benar-benar tampil sebagai manusia 100%, berbeda dengan bagian lain di mana Dia memperlihatkan diri-Nya sebagai Tuhan. Nah, sebagaimana manusia lain yang lapar akan didorong untuk menghilangkan rasa laparnya, demikian juga dengan Yesus.
Di dunia ini, selain rasa lapar akan makanan, masih ada banyak rasa lapar melanda manusia, dan hanya terjadi pada manusia. Rasa lapar, baik yang positip maupun yang negatif ini melanda semua manusia tanpa pandang bulu; tanpa membedakan ras, jabatan, status sosial, jenis kelamin, dll.
Ada merasa lapar akan kekuasaan. Untuk menghilangkan rasa lapar ini orang terpaksa "sikut sana sikut sini", menjegal lawan agar tidak menghalangi atau merongrong kekuasaannya. Segala cara dihalalkan demi mendapatkan kepuasan kekuasaan, seperti yang diungkapkan oleh filsuf Prancis Niccolo Machiavelli dalam karyanya Il Principe.
Ada rasa lapar akan uang dan kekayaan. Untuk menghilangkan rasa lapar ini orang memakai juga prinsip Machiavelli, menghalalkan segala cara. Namun sayangnya, rasa lapar ini tidak akan bisa hilang selagi manusia diliputi nafsu serakah, tidak punya rasa syukur atas apa yang ada. Konon sifat serakah dan tak punya rasa syukur adalah penyakit bawaan manusia sejak diciptakan. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa juga karena hal ini.
Ada rasa lapar akan pengetahuan. Orang yang dilanda rasa lapar ini akan senantiasa belajar terus untuk meredakan rasa laparnya itu. Rasa lapar ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan gelar akademis. Sekalipun sudah mendapat gelar tertinggi, orang akan tetap merasa lapar dan terus menggali ilmu. Orang kudus yang hari ini diperingati, St. Yustinus Martir, adalah salah satu contohnya. Setelah belajar filsafat, ia belajar lagi Kitab Suci, lalu teologi.
Ada rasa lapar akan rohani. Hal-hal rohani ini tampak dalam doa, novena, ekaristi, devosi, sabda Tuhan yang ada di dalam Kitab Suci,dll.
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa dua rasa lapar yang pertama bersifat negatif, sedangkan dua rasa lapar berikutnya bersifat positip. Baik yang negatif maupun yang positip, sama-sama memiliki kecenderungan untuk tidak pernah merasa puas. Akan tetapi dampaknya berbeda.
Apa pesan Tuhan berkaitan dengan hal ini? Rasa lapar yang negatif tertuju hanya pada dirinya. Pemuasan rasa laparnya hanya diperuntukkan pada dirinya sendiri. Ini terjadi karena dalam dirinya ada nafsu serakah dan tak ada rasa syukur. Untuk itulah Tuhan senantiasa mengajak umat manusia untuk menghilangkan rasa lapar ini dengan cara menumbuhkan sikap syukur dan melenyapkan sikap serakah itu. Tuhan juga mengajak manusia agar berorientasi pada sesama. Inilah yang diutarakan oleh Petrus dalam suratnya yang pertama. Dalam bacaan pertama tadi Rasul Petrus menulis, "...kuasailah dirimu..." (ay 7), "... kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain," (ay 8), " Layanilah seorang akan yang lain," (ay 10), "... bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat.." (ay 13).

Berbeda dengan rasa lapar negatif, pada rasa lapar positip manusia memiliki kecenderungan cepat puas sehingga merasa tak perlu lagi mencari dan memenuhi rasa laparnya itu. Justru dalam kesempatan inilah Tuhan mau mengajak kita untuk senantiasa menumbuhkan rasa lapar akan hal-hal rohani. Dan pemuas rasa lapar rohani ini ada pada Yesus. Dialah santapan jiwa dan rohani manusia.
by: adrian










Kamis, 31 Mei 2012

Sosialisasi Struktur Paroki

30 Mei 2012, bertempat di aula Paroki St Yosep Tanjung Balai Karimun, diadakan pertemuan untuk mensosialisasikan struktur paroki yang terbaru setelah sinode kedua Keuskupan Pangkalpinang. Pertemuan yang berlangsung dari pukul 17.00 dan berakhir pukul 21.00 terjadi cukup seru. Untuk sosialisasi ini, paroki mengundang dari tim sekpas (sekretariat pastoral) Keuskupan Pangkalpinang. Hadir pada malam itu Rm. Ferdi Meo dan Rm Benny Balun. Sedangkan peserta yang hadir sangat jauh dari harapan. Padahal yang diundang sekitar 150 orang, namun yang hadir sekitar 50-an orang.

Awalnya Rm Ferdi, yang menghabiskan masa diakonatnya di paroki ini, menjelaskan tentang identitas Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Identitas itu ada pada visi, misi dan spiritualitas. Dan itu ada pada buku sinode II. Rm. Ferdi menerangkan bahwa buku tersebut menjadi pedoman kita bersama dalam menggapai cita-cita bersama, yaitu GEREJA  PARTISIPATIF.

Peserta terlihat begitu antusias mendengarkan penjelasan romo yang ahli Kitab Suci ini. Bukan hanya lantaran gaya dan bahasa yang digunakan, melainkan juga sarana untuk memaparkan identitas itu juga menarik. Sehingga waktu yang satu jam lebih yang dipakai, sama sekali tak terasa. Antusiasme peserta langsung terlihat dari beberapa peserta yang bertanya tentang buku sinode dan ada yang langsung membeli buku sinode.

Pada sesi berikutnya, Rm Benny tampil menjelaskan soal struktur gereja paroki yang baru. Struktur baru ini diterapkan untuk menjawab visi keuskupan. Karena dengan struktur ini, mau tidak mau, umat diajak untuk berpartisipasi; dengan struktur ini umat diberdayakan sehingga dapat terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

Ada banyak hal yang baru dari penjelasan itu.
1. Ada organ yang disebut Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Pastoral Harta Benda Gereja (DPHBG). Pemilihan anggota DPP tidak seperti biasanya, sedangkan DPHBG dipilih secara khusus mengingat tugas dan fungsi mereka. Ada 3 kriteria DPHBG, menurut romo yang menghabiskan masa diakonatnya di paroki ini, sama seperti Rm Ferdi, yaitu ahli (paham) soal ekonomi, tahu urusan pemerintahan dan punya dedikasi pada Gereja. DPP dan DPHBG berfungsi sebagai konsultan bagi pastor paroki.
2. Ada tim PIPA (Pastoral Integral Pangkalpinang Approach). Ini merupakan think tank-nya pastoral paroki. Mereka inilah yang akan memikirkan dan menjalankan pastoral di paroki. Mereka ini terdiri dari utusan seksi-seksi dari KBG, utusan tim pastoral sekolah dan juga utusan dari komunitas Lembaga Hidup Bhakti yang ada di paroki.
3. Kepengurusan dalam KBG dan organ-organ lainnya diharapkan tidak rangkap. Dengan kata lain, tidak ada jabatan rangkap. Ini demi pemberdayaan.

Setelah acara makan malam, pertemuan masih dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada begitu banyak pertanyaan dari peserta. Dan Rm Benny, yang juga ahli hukum gereja ini, dengan setia melayani pertanyaan peserta, meski dari beberapa orang peserta masih menyisahkan rautan bingung dan pesimis.

Pertemuan berakhir sekitar pukul 21.00. Rm Eman, selaku pastor paroki, memberi sedikit wejangan. Namun tidak ada dalam wejangan itu sebuah pernyataan bahwa Paroki St Yosep Tanjung Balai Karimun akan mulai menerapkan struktur baru itu. Mengingat masa kepengurusan DPP lama akan berakhir bulan Agustus ini.

by: adrian