Jumat, 27 Oktober 2023
DIALOG IMAGINATIF#7
Dialog imaginatif merupakan sebuah dialog yang direkayasa. Bisa dipastikan dialog ini tidak pernah ada dalam kehidupan nyata, karena sifatnya fiktif. Namun bukan lantas berarti dialog ini tak mempunyai nilai apa pun. Ada pesan yang hendak diutarakan dalam dialog itu, sehingga sangatlah disayangkan bila dilewatkan begitu saja.
Kamis, 26 Oktober 2023
TRIK MELATIH ANAK BEREMPATI
Setiap
anak perlu diajari mengenali emosi sejak dini. Psikolog Saskia Rosita Pangabean
mengatakan bahwa dengan mengenali emosi sendiri, anak pun bisa lebih berempati
pada orang lain. “Kalau anak tahu saat dia sedih itu karena begini, begitu,
rasanya begini, jadi dia mengerti emosi orang lain juga saat sedih. Jadi, bisa
berempati,” ujar Rosita.
Senang,
sedih, marah dan takut merupakan empat emosi dasar yang harus dikenali anak
sejak dini. Pengenalan macam-macam emosi bisa dimulai pada usia 2 – 3 tahun.
Ini menjadi tugas orangtua di rumah. Orangtua harus mengenalkan empat emosi
dasar tersebut kepada anak. Kemudian, seiring bertambahnya usia, ajari anak
mengidentifikasi emosi dan bagaimana cara mengatasinya atau mengungkapkannya
secara positip.
Ketika
marah, anak harus sadar bahwa ia sedang marah. Anak juga harus tahu alasan ia
marah dan bagaimana cara mengatasinya. Dengan begitu, anak bisa mengontrol
emosinya tanpa menyakiti perasaan orang lain. “Kalau anak enggak bisa ngenalin
emosinya, dia bisa tantrum atau marah-marah sama ibunya, teman-temannya,” jelas
Rosita.
Demikian
pula dengan emosi lainnya. Ketika anak pada emosi tersebut, orangtua harus
mengokumunikasikannya dengan anak, kenapa emosi itu muncul dan jelaskan juga
baik buruknya. Orangtua juga hendaknya dapat membuat pembedaan emosi pada
anaknya.
Sayangnya,
pengenalan emosi pada anak belum menjadi kebiasaan banyak orangtua. Padahal,
pengenalan emosi sangat penting. Menurut Rosita, setidaknya anak-anak sudah
menguasai empat emosi dasar sebelum masuk usia sekolah. Dengan mengenal emosi,
anak bisa bersosialisasi dengan baik kepada teman-temannya di sekolah.
Anak
akan memiliki kecerdasan emosional yang baik, bisa berempati, lebih peka dan
memiliki kepedulian. Jadi, anak jangan hanya diberikan kecerdasan intelektual
saja, tetapi juga kecerdasan emosional.
diambil dari tulisan 7 tahun lalu
Selasa, 24 Oktober 2023
INILAH MASALAH NIKAH BEDA AGAMA ISLAM DAN KATOLIK
Bumi
kita satu, tapi dihuni oleh manusia yang beraneka ragam, baik ras, suku, status
sosial-ekonomi maupun agama. Ini membuktikan bahwa manusia hidup di alam
pluralisme. Sebagai makhluk sosial pertemuan antar manusia dengan perbedaan ini
tak dapat dihindari. Dan pertemuan ini terkadang berakhir dengan pernikahan.
Pernikahan dua anak manusia dengan beda suku atau ras tidak terlalu menimbulkan
masalah.
Yang
sering menjadi persoalan adalah pernikahan beda agama. Banyak agama menolak umatnya
melakukan nikah beda agama. Islam dengan tegas menyatakan bahwa nikah beda
agama adalah haram. Dalam islam, pernikahan itu harus seagama atau seiman.
Maka, ketika umat islam menikah dengan yang non islam, menggunakan tata cara
islam (menikah secara islam), maka yang non islam harus masuk islam dulu. Dan
kebetulan, dalam ritusnya ada kewajiban mengucapkan kalimat syahadatin.
Dengan mengucapkan kalimat itu, seseorang telah menjadi islam.
Sementara
Gereja Katolik melihat nikah beda agama sebagai suatu halangan, namun halangan
ini dapat dihapus dengan izin atau dispensasi. Jadi, secara tak langsung Gereja
Katolik membolehkan menikah beda agama. Dan kebetulan dalam Gereja Katolik ada
ritus perkawinan campur. Dengan nikah beda agama di Gereja Katolik, yang non
katolik tetap dengan agama atau imannya.
Akan
tetapi, pernikahan beda agama bukannya tanpa masalah. Memang banyak orang
mengatakan bahwa nikah yang seagama juga tak luput dari masalah. Namun perlu
disadari bahwa yang seagama saja sudah rawan masalah, apalagi yang tidak.
Masalah apa saja yang biasa muncul pada pernikahan beda agama, khususnya antara
orang islam dan katolik?
Perbedaan
Konsep Keagamaan
Ada
banyak perbedaan mengenai konsep keagamaan. Karena iman akan keallahan Yesus
dan juga iman akan Tritunggal Mahakudus, orang Kristen pada umumnya dicap
sebagai orang kafir. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Al Quran surah
al-Maidah ayat 72 dan 73. Paham tentang keselamatan juga berbeda. Memang
perjalanan akhir adalah sama, yaitu masuk sorga. Namun untuk ke sananya
berbeda. Dengan mengislamkan orang kafir, seorang islam pasti masuk sorga. Ini
didasarkan pada sabda Nabi Muhammad dalam hadits al-Thabrani.
Sebagai
sebuah contoh pasangan Fery Mulyana (islam) dan Devi P Fery (katolik). Beberapa
bulan setelah hidup bersama, Fery mulai usil mengkritisi dan mempertanyakan
iman akan trinitas dan isi alkitab. Kebetulan Fery suka membaca buku tentang
islam dan tentang perbandingan agama karya Ahmad Deedat dan Irene Handono. Aksi
usil Fery ini membuat hubungan mereka diwarnai dengan cek-cok. Devi tidak
terima iman dan alkitabnya dihina dan dilecehkan. Tapi sayangnya, Devi tidak
memiliki modal kuat untuk “membalas” serangan suaminya. Maklum, umumnya umat
katolik hanya menerima saja konsep trinitas, keallahan Yesus atau alkitab tanpa
pernah berusaha memahaminya. Akhirnya, Devi “kalah” dan kemudian menjadi
seorang muslimah. (Kado Cinta bagi Pasangan Nikah Beda Agama, 2009, 233).
Dalam contoh di atas, dapatlah dikatakan kenapa Fery mulai mengusik iman istrinya. Dia ingin mengislamkan istrinya supaya bisa masuk sorga. Dan kebetulan pemahaman iman katolik Devi lemah, maka berhasillah Fery mengislamkan istrinya. Sementara Devi sama sekali tidak punya pikiran untuk mengkatolikkan sang suami, karena selain pemahaman agamanya lemah, dia juga tahu tak punya keharusan mengkatolikkan orang. Orang katolik hanya terpanggil untuk memperkenalkan Yesus dan karya keselamatan-Nya. Soal menjadi katolik atau tidak, itu urusan Roh Kudus.