Kamis, 14 September 2023

MENIKAH: HAK ATAU KEWAJIBAN?

 

Sering terdengar komentar orang non katolik, “Kenapa pastor dan suster tidak menikah?” Banyak orang merasa aneh jika ada orang tidak menikah, alias hidup selibat. Orang protestan malah sering menuduh bahwa kaum selibat itu melanggar kehendak Allah (Kej 1: 28). Di balik keanehan dan pertanyaan itu terlihat bahwa mereka berpikir bahwa menikah adalah suatu kewajiban. Orang wajib menikah. Umat islam melihat menikah sebagai ibadah, sehingga orang harus menikah.

Berbeda dengan umat katolik. Gereja Katolik melihat menikah itu sebagai hak. Karena sebagai hak, setiap orang tidak punya kewajiban untuk menikah. Setiap orang punya kebebasan untuk menggunakan haknya untuk menikah atau juga tidak. Di sini terlihat bahwa menikah itu merupakan suatu pilihan hidup.

Perbedaan cara pandang pernikahan ini, antara hak dan kewajiban, bisa berpengaruh dalam menyikapi pernikahan itu sendiri. Orang yang melihat menikah sebagai kewajiban, akan menyikapi pernikahan sebagai tujuan hidupnya. Ketika dia sudah menikah, maka selesailah. Dia tinggal memenuhi atau menuntut haknya. Sasarannya adalah pasangannya. Jika haknya tidak terpenuhi, maka dengan mudah pernikahan itu dibubarkan.

Sementara yang melihat menikah sebagai hak, akan menyikapi pernikahan sebagai awal hidup baru. Karena hak itu selalu melekat dengan kewajiban, maka orang yang menggunakan haknya untuk menikah akan terikat juga dengan kewajiban yang terkait dengan pernikahan. Orang yang menikah dituntut untuk memenuhi kewajibannya, seperti saling menyayangi antar suami istri, merawat dan membesarkan serta memperhatikan pendidikan anaknya, dan kewajiban-kewajiban lainnya.

diambil dari tulisan 6 tahun lalu

Selasa, 12 September 2023

ANAK REMAJA WAJIB TAHU BAHAYA PORNOGRAFI

 

Menyikapi maraknya kejahatan seksual, dimana pelaku kejahatan itu sebagian adalah anak remaja, kelompok cendekiawan islam (ICMI) meminta pemerintah untuk menutup Google dan Youtube. Para pelaku kejahatan itu, dalam melakukan aksinya: memperkosa dan membunuh, dinilai telah terpengaruh oleh konten pornografi yang ada di Google dan Youtube. Dengan alasan inilah para cendekiawan ini menuntut supaya dua situs itu ditutup. (diskusi tentang ini dapat dibaca di sini).

Memang suatu keprihatinan melihat fenomena kejahatan seksual ini. Korban diperkosa, dan ada yang dibunuh. Kebanyakan pelakunya, yang berasal dari kalangan remaja, terpengaruh oleh adegan-adegan pornografi dan kekerasan yang mereka lihat di dunia maya. Pengaruh pornografi juga telah merasuk anak-anak remaja sehingga mereka berani melakukan hubungan suami isteri pada masa pacaran.

Mengapa semua ini bisa terjadi?

Dua ciri utama remaja adalah keinginan tahu dan mencoba-coba. Rasa ingin tahu akan sesuatu yang baru dan menarik pada diri remaja sangatlah besar. Dorongan yang besar untuk ingin tahu ini membuat remaja berusaha untuk mencoba-coba. Inilah yang terjadi dengan masalah pornografi, dan dalam kasus tertentu menyangkut juga masalah narkoba.

Terkait dengan masalah pornografi, persoalan dasarnya adalah masalah seksualitas. Pada masa ini terjadi perubahan fisik remaja, termasuk reproduksi seksualnya. Perubahan ini awalnya menciptakan kebingungan. Dan dalam mengatasi kebingungan ini, remaja bersentuhan dengan dunia maya, yang tak lepas dari penguruh teman sebaya. Dari sinilah akhirnya remaja jatuh ke dalam percobaan demi percobaan.

Di sini ada satu peran yang hilang, yaitu orangtua. Ketika remaja dalam kebingungan menghadapi masalah seksualitas dirinya, orangtua seakan absen sehingga anak mencari dan menemukan jawabannya sendiri. Absennya orangtua di sini bisa disebabkan oleh dua faktor, (1) orangtua menunggu anak datang kepadanya dan bertanya soal seksualitas, dan (2) orangtua menilai seks itu tabu, sehingga orangtua berusaha menghindar pertanyaan anak seputar seksualitas.

Pandangan Gereja Soal Pornografi

Senin, 11 September 2023

14 KEISTIMEWAAN ALQURAN YANG TAK TERBANTAHKAN SEPANJANG MASA: INI NARSIS, PEMBOHONGAN ATAU PEMBODOHAN?

 


Sangat menarik membaca judul tulisan di media Republika online. Judulnya sungguh sensasional: “14 Keistimewaan Alquran yang Tak Terbantahkan Sepanjang Masa”. Judul besar ini diikuti dengan tulisan kecil “Alquran adalah kitab suci Allah swt yang sangat istimewa”. Tulisan ini mencoba menanggapi isi tulisan tersebut, dengan memberi anak judul “Ini Narsis, Pembohongan atau Pembodohan?” Secara sederhana tulisan ini mau mengajak pembaca untuk bersikap waras dengan menggunakan nalar akal sehat dalam menanggapi tulisan republika tersebut.

1.    Gaya bahasa yang selaras dengan situasi saat itu

Semua kitab suci, setidaknya kitab suci Yahudi dan Kristen, umumnya mengandung unsur ini. Wahyu Allah turun untuk menjawab situasi saat itu, akan tetapi peruntukkannya berlaku sepanjang masa. Hal inilah yang membuat kitab suci itu menjadi relevan di masa mana pun. Lalu kenapa dikatakan alquran istimewa? Dimana letak keistimewaannya? Bagi kami sama sekali tidak ada. Malah relevansi beberapa wahyu Allah sama sekali tidak bisa diterapkan pada masa kini.

2.    Diturunkan secara terpisah, tapi tersusun menjadi satu kesatuan

Dikatakan bahwa alquran diturunkan secara terpecah-pecah selama lebih dari 20 tahun sesuai dengan beragam faktor yang melatar-belakanginya. Namun pada akhirnya seluruh ayat alquran menjadi lengkap dan tersusun menjadi satu kesatuan. Ada keselarasan dan saling terkait satu sama lain. “Seberapapun telitinya Anda dalam mencari, tidak akan bisa menemukan perbedaan di antara surat-surat dalam alquran.”

Sungguhkah demikian? Banyak umat islam menerima begitu saja apa yang dikatakan ulamanya terkait alquran dan nabinya, apalagi yang dikatakan itu enak didengar. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi mereka yang selalu memakai nalar akal sehat. Ada banyak ayat-ayat alquran yang tidak tersusun menjadi satu kesatuan. Gagasan yang ada loncat-loncat. Perbedaan di antara surat dalam alquran jamak ditemukan. Contoh sederhana saja kisah tentang Adam dan Hawa. Jika dikatakan lengkap, bagaimana proses terciptanya istri Adam? Siapa nama istri Adam? Dan masih banyak pertanyaan lain, yang semuanya tidak tertulis di dalam alquran. Kita tidak tahu apakah Allah swt lupa menyebutnya atau sama sekali tidak tahu. Soal asal dari Adam pun terjadi perbedaan dari surat yang satu dengan surat yang lain.

3.    Menghilangkan perselisihan dari aspek bahasa

Poin ketiga ini kami tidak mau berbicara banyak, karena kami tidak begitu paham soal dialek yang dimaksud, dan apa kaitannya dengan keistimewaan alquran itu. Tapi, kami mau mengkritisi kalimat terakhir dari penjelasan alasan ketiga ini, yaitu soal penggunaan dialek Quraisy, Tamim dan Hudzail “Sehingga mampu mengungkap makna secara akurat dan indah.” Jika memang benar dialek yang dipakai mampu mengungkap makna secara akurat, tentulah ayat-ayat alquran sungguh jelas, alias terang benderang. Faktanya, ada banyak ayat alquran yang tidak jelas dan membingungkan.