Selasa, 22 Agustus 2023

KAUM MUDA WAJIB HINDARI NIKAH MUDA

 

Hukum Gereja membolehkan pria yang sudah genap 16 tahun atau wanita yang sudah genap 14 tahun untuk menikah (bdk. Kan. 1083). Namun perlu disadari bahwa penentuan usia ini semata-mata dari sudut biologis-seksual saja. Kematangan psikologis jauh lebih penting dan esensial daripada kematangan fisik-biologis. Karena ini, pada kanon 1072 para pastor diminta untuk menjauhkan kaum muda dari pernikahan dini. Dengan kata lain, Gereja menghendaki agar kaum remaja dan kaum muda katolik tidak terjebak dalam pernikahan usia muda.

Ada banyak alasan kenapa pernikahan dini harus dihindari. Pertama-tama mental dan kepribadian pasangan muda belum siap untuk menjalani hidup rumah tangga. Umumnya pasangan muda ini terbuai dengan indahnya romantisme pacaran sehingga berpikir seperti itulah kehidupan rumah tangga kelak.

Karena ketidak-siapan mental dan kepribadian itu, maka pernikahan dini sangat rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Cepat atau lambat indahnya romantisme masa pacaran akan sirna dan berubah menjadi pahitnya prahara. Biasanya korbannya selalu kaum wanita (istri) dan anak.

Pernikahan dini berdampak pada kesehatan, khususnya kaum wanita. Sebuah studi mengungkapkan bahwa wanita yang menikah pada usia 10 – 14 tahun memiliki kemungkinan meninggal 5 kali lebih besar selama kehamilan atau melahirkan dibandingkan dengan yang menikah di usia 20 – 25 tahun. Sementara itu, yang menikah pada usia 15 – 19 tahun memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar. Penelitian lain, wanita yang menikah di usia muda rentan terhadap kanker serviks.

Alasan lain adalah terputusanya akses pendidikan. Pernikahan dini mengakibatkan anak tidak mampu mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini bisa berdampak juga pada kehidupan rumah tangga dan pola asuh anak.

Karena itu, hindarilah niat menikah di usia muda. Siapkanlah diri matang-matang sebelum memasuki hidup rumah tangga.

diambil dari tulisan 6 tahun lalu

Jumat, 18 Agustus 2023

MEMBACA QS 6: 104 DENGAN NALAR AKAL SEHAT


QS 6: 104 berbunyi sbb: "Sungguh, telah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Siapa yang melihat (bukti-bukti itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri dan siapa yang buta (tidak melihat bukti-bukti itu), maka (akibat buruknya) bagi dirinya sendiri, sedangkan aku (Nabi Muhammad) bukanlah pengawas(-mu)." 

Kutipan ini dipercaya sebagai kata-kata allah swt, kecuali yang ada dalam tanda kurung. Dapat dipastikan kata-kata itu berasal dari tangan-tangan manusia. Allah tak pernah mengucapkannya. 

Jika kata-kata dalam tanda kurung itu dihilangkan, apakah kalimat allah ini jelas dan mudah dipahami? 

Kamis, 17 Agustus 2023

TIPS MENGASAH MINAT DAN BAKAT ANAK SEJAK DINI

 

Ada alasan kenapa pakar psikologi dan pendidikan anak selalu menekankan pentingnya pemberian stimulus pada anak-anak sejak usia dini. Bahkan ada pula yang mengatakan stimulus tersebut bisa diberikan sejak anak masih berada dalam rahim ibu. Semuanya ini dikarenakan pemberian stimulus berpengaruh terhadap masa depan anak.

Jovita Maria Ferlina, MPsi, psikolog dari Little Shine Daycare, mengatakan anak wajib mendapatkan berbagai macam stimulus sejak dini untuk mengasah bakat dan minatnya. Jika bakat dan minat tidak diasah, anak bisa kehilangan arah hidup hingga tak memiliki tujuan.

“Kalau anak tidak tahu bakatnya apa, dia akan kesulitan menentukan goals dan kebingungan saat beranjak dewasa. Makanya, kita lihat ada anak sudah lulus SMA tetapi bingung menentukan jurusan dan pilihan kuliah.” Ungkap Jovita, dalam sebuah acara di Jakarta Selatan.

Hal inilah yang membuat Jovita mengambil tema creativpreneur saat menjalankan daycare di kantor produsen pocari sweat ini. Creativpreneur mengenalkan anak kepada bermacam-macam jenis kecerdasan, yang diharapkan mampu membuat anak bersaing di masa depan. Dengan creativpreneur, anak akan mampu menemukan dan mengungkapkan ide dan gagasan yang dimilikinya. Ide dan gagasan tersebut muncul sesuai dengan bakat dan minat serta jenis kecerdasan yang menonjol pada diri anak.

Satu nasehat bagi orangtua adalah agar orangtua menerapkan sistem demokrasi dalam mendidik anaknya. Pemberian stimulus kepada anak bisa sejalan dengan gaya demokrasi dalam pola asuh anak. Orangtua jangan terlalu mengekang atau menentukan bahwa anak harus ini atau itu.

diambil dari tulisan 6 tahun lalu