Jumat, 03 Februari 2023

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-MAIDAH AYAT 51

 


Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS 5: 51)

Selain sebagai kitab suci, umat islam melihat juga Al-Qur’an sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup. Hal inilah yang membuat Al-Qur’an dilihat sebagai pusat spiritualitas hidup umat islam. Di sana mereka tidak hanya mengenal Allah yang diimani dan disembah, tetapi juga mendapatkan pedoman dan tuntunan hidup yang akan menghantar mereka ke surga. Al-Qur’an biasa dijadikan rujukan umat islam untuk bersikap dan bertindak dalam hidup keseharian. Berhubung Al-Qur’an itu berasal dari Allah, maka tuntunan dan pedoman yang diberikan Allah ini wajib ditaati.

Berangkat dari premis ini, maka dapatlah dikatakan kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan perkataan Allah yang berisi nasehat untuk dijadikan pedoman bagi umat islam bersikap dan bertindak. Umat islam percaya bahwa hanya Muhammad saja yang menerima wahyu Allah. Karena itu, kutipan kalimat Allah di atas diterima Muhammad dari Allah. Melihat kalimat pertama wahyu Allah ini haruslah dikatakan bahwa wahyu Allah ini lebih ditujukan kepada para pengikut Muhammad. Frasa “umat yang beriman” selalu dimaknai sebagai umat islam, karena yang beriman itu hanya islam. Allah telah membuat islam sebagai patokan seseorang itu beriman (bandingkan ayat 41). Yang bukan islam dilabeli sebagai kafir. Allah menyampaikan itu melalui Muhammad. Artinya, Muhammad diminta Allah untuk menyampaikan pesan-Nya itu.

Rumusan wahyu Allah ini sedikit aneh. Jika memang tujuan utama wahyu Allah ini adalah umat islam sebagai pengikut Muhammad, seharusnya Allah mengawali perkataannya dengan, “Katakanlah ….” Rumusan seperti ini jamak dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Menjadi pertanyaan, kenapa di sini Allah tidak menyertakan frasa “Katakanlah …”? Apakah Allah lupa?

Kalimat berikutnya berisi nasehat yang harus diterapkan dalam kehidupan kaum muslim. Allah SWT memerintahkan umat islam untuk tidak menjadikan orang Yahudi dan Kristen sebagai teman setia. Memang di dalam wahyu Allah ini disebutkan alasannya, yaitu karena orang Yahudi dan Kristen saling melindungi untuk mencelakakan umat islam. Salah satu bentuk celaka yang dikhawatirkan Allah adalah pemurtadan. Alasan ini kurang lebih senada dengan wahyu Allah dalam QS Ali Imran: 149, yaitu bahwa orang kafir akan memurtadkan kaum muslim.

Sabtu, 28 Januari 2023

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA IV/A

 Bac I  Zef 2: 3; 3: 12 – 13;         Bac II 1Kor 1: 26 – 31;

Injil    Mat 5: 1 – 12a;

Ada banyak tema dan pesan yang hendak disampaikan Tuhan lewat sabda-Nya dalam tiga bacaan liturgi hari ini. Salah satu tema yang menarik untuk direnungkan adalah kerendahan hati. Hal ini sangat tegas disuarakan oleh Zefanya, dalam bacaan pertama, dan juga Paulus, dalam bacaan kedua. Dalam bacaan pertama, Zafanya meminta kita untuk membangun sikap rendah hati agar terhindar dari murka Allah. Dapat dikatakan bahwa sikap rendah hati merupakan pangkal dari keadilan. Dan orang yang rendah hati akan taat pada hukum Allah.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus meminta kita untuk mempunyai sikap rendah hati. Paulus melarang supaya kita tidak sombong di hadapan Tuhan. Ada banyak teks kitab suci yang menyatakan kalau Allah benci pada orang sombong. Allah justru menggunakan orang yang rendah hati untuk “menghancurkan” orang-orang sombong. Orang yang rendah hati tentulah akan selalu setia pada kehendak Allah.

Injil hari ini menampilkan kotbah Yesus di bukit, secara khusus sabda bahagia. Salah satu kebahagiaan yang disinggung oleh Yesus adalah orang yang suci hatinya. Frasa “suci hati” atau juga “bersih hati” dapat dipadankan dengan rendah hati, karena tinggi hati selalu dikaitkan dengan hati yang kotor. Orang yang rendah hati akan selalu dekat dengan Tuhan, dan karena itu ia akan melihat Tuhan.

Dewasa ini marak ditemui kejahatan. Ada kasus pembunuhan. Ada korupsi dan juga penipuan. Ada kasus perselingkuhan. Dan masih banyak jenis kejahatan lainnya. Semua itu dapat dikatakan terjadi karena manusia sombong. Kesombongan membuat manusia meninggalkan dan lupa pada Tuhan. Mereka tidak lagi takut akan Tuhan. Mereka merasa dirinya mampu mengatasi hidup ini tanpa campur tangan Tuhan.

Karena itulah, sabda Tuhan hari ini menjadi sangat relevan. Tuhan meminta kita untuk membuang kesombongan diri, dan mulai membangun sikap rendah hati. Dengan sikap rendah hati, maka hati dan pikiran kita akan selalu terarah kepada Tuhan, dan ini akan menentukan perbuatan kita. Jika hati dan pikiran kita sudah selalu terarah kepada Tuhan, maka tidak akan ada ruang bagi perbuatan-perbuatan jahat dalam hidup.

Mari kita membangun sikap rendah hati!

Jumat, 27 Januari 2023

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-MAIDAH AYAT 41

 


Wahai rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman,” padahal hati mereka belum beriman; dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong dan sangat suka mendengar (perkataan-perkataan) orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari makna yang sebenarnya. […] (QS 5: 41)

Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam. Ia dijadikan salah satu sumber iman dan peri kehidupan umat islam, selain hadis. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an diyakini berasal dari Allah secara langsung. Artinya, Allah langsung berbicara kepada Muhammad, yang kemudian meminta pengikutnya untuk menuliskannya. Karena itu, umat islam yakin dan percaya apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah, sehingga Al-Qur’an dikenal juga sebagai wahyu Allah. Berhubung Allah itu diyakini sebagai maha suci, maka Al-Qur’an pun adalah suci. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama saja dengan pelecehan kepada Allah atau penyerangan terhadap keluhuran Allah. Allah sudah meminta kepada umat islam untuk memberi hukuman berat bagi mereka yang melakukan hal itu dengan cara dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang (QS al-Maidah: 33).

Umat islam percaya Al-Qur’an dikenal sebagai kitab kebenaran, karena sumbernya adalah Allah yang diyakini sebagai mahabenar. Allah sendiri sudah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51). Hal inilah yang kerap membuat umat islam menilai sesuatu di luar islam dengan menggunakan tolok ukur Al-Qur’an. Selain sebagai kitab kebenaran, Al-Qur’an juga dikenal sebagai kitab yang jelas, karena bersumber dari Allah yang maha mengetahui dan maha sempurna. Jika ditanya kepada umat islam kenapa Al-Qur’an merupakan kitab yang jelas, pastilah mereka menjawab karena itulah yang dikatakan Al-Qur’an.

Berangkat dari premis-premis ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan berasal dari Allah dan merupakan satu kebenaran. Apa yang tertulis pada kutipan di atas (kecuali yang ada di dalam tanda kurung), semuanya diyakini merupakan kata-kata Allah, yang kemudian ditulis oleh manusia. Seperti itulah kata-kata Allah saat berbicara kepada Muhammad. Karena surah ini masuk dalam kelompok surah Madaniyyah, maka bisa dipastikan bahwa Allah menyampaikan wahyu ini saat Muhammad ada di Madinah.