Rabu, 30 Oktober 2019

MEMBACA BUKU “KEHIDUPAN RAHASIA NABI MUHAMMAD”


Setiap tokoh terkenal tentulah mempunyai kisah hidupnya. Kisah hidup tersebut kadang hanya diceritakan secara lisan, tapi ada juga yang dibukukan. Cerita tentang tokoh terkenal ini pasti tak luput dari subyektifitas orang yang menulisnya. Bagi penulis yang mengidolakan tokohnya, sudah dapat dipastikan kisah yang ditampilkan terkait tokoh tersebut sangatlah sempurna. Gaya bahasa hiperbola kerap ditemui dalam buku-buku tentang sosok tokoh yang ditulis oleh pengagumnya. Sangat berbeda jika yang menulis adalah orang yang tak suka atau yang sudah punya stereotip buruk terhadap tokoh. Tapi, bagaimana dengan penulis yang netral?
Buku “Kehidupan Rahasia Nabi Muhammad” atau dalam edisi bahasa Inggrisnya: The Hidden Life of the Prophet Muhammad, merupakan buku yang kesembilan yang ditulis oleh DR. A.A. Ahmed, seorang peneliti islam kelahiran Sudan. Buku ini menguraikan tentang sejarah nabi Muhammad – kehidupan, peperangan dan ajaran-ajarannya. Penulis mengklaim sumber tulisannya ini sahih, karena langsung diambil dari literatur-literatur islam yang terpercaya.
DR Ahmed yakin bahwa apa yang dituliskannya itu merupakan informasi tentang nabi Muhammad, yang selalu ini tidak diketahui publik. Entah apa alas an sehingga informasi tersebut tidak diketahui, bahkan oleh umat islam sendiri. Padahal semakin mengenal, maka orang akan semakin sayang. Tak kenal, maka tak sayang. Karena itulah, melalui bukunya itu, DR. Ahmed ingin mengajak pembaca manapun, khususnya umat islam, untuk semakin mengenal nabi Muhammad.
Buku DR. Ahmed ini dikemas dalam 13 bab. Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai terjemahan masih terlihat kurang bagus, namun pembaca masih dapat memahaminya. Selain itu, tata letak dan urutannya juga kurang menarik. Untuk dapat membaca (atau juga men-download) buku ini, silahkan klik di sini. Selamat membaca!
by: adrian

Senin, 28 Oktober 2019

BAHAN PERSIAPAN BAPTIS BAYI

Dari dalam Kitab Hukum Kanonik kita dapat mengetahui bahwa sakramen baptis dibutuhkan untuk keselamatan, karena dengannya setiap manusia dibebaskan dari dosa (bdk. Kan. 849). Dengan kata lain, dapatlah dikatakan bahwa sakramen baptis merupakan tawaran keselamatan dari Allah kepada manusia; dan tawaran itu bersifat gratis.
Mengingat manfaatnya itu, maka Gereja mengajak para orangtua untuk membaptis anaknya tak lama sesudah kelahiran. Hukum Gereja menyebutkan pada minggu-minggu pertama (Kan. 867, §1). Sifat segera ini bukan lantas berarti tidak perlunya persiapan dengan atau dalam bentuk pembinaan. Dalam Kanon dikatakan agar orangtua dari kanak-kanak yang hendak dibaptis, termasuk juga para wali baptis, perlu dipersiapkan (Kan. 851, 2).
Sering menjadi persoalan pastoral di paroki-paroki adalah keterbatasan bahan persiapan. Umumnya paroki hanya mempunyai 1 bahan saja, dan bahan tersebut dipakai untuk mempersiapkan orangtua yang bayinya akan menerima sakramen baptis. Menjadi persoalan adalah ketika berhadapan dengan orangtua yang memiliki lebih dari 2 anak. Mereka akan berhadapan dengan materi persiapan yang “itu-itu” saja.

SEJARAH KITAB SUCI KATOLIK


Sejarah Terbentuknya Kitab Suci Perjanjian Lama
Kitab Suci Gereja Katolik terdiri dari dua bagian, yaitu Perjanjian Lama (PL: 46 kitab) dan Perjanjian Baru (PB: 27 kitab). Jadi, keseluruhannya ada 73 kitab. Kitab PL dapat dibagi dalam 3 bagian: Kitab Taurat, Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah. Lima buku pertama (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan) adalah intisari dan cikal bakal seluruh kitab PL. Kelima kitab ini dikenal dengan sebutan Kitab Taurat atau Pentateuch.
Selama lebih dari 2000 tahun, Nabi Musa dianggap sebagai penulis Kitab Taurat ini. Karena itu, kitab ini disebut juga Kitab Nabi Musa. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan siapa yang menulis Kitab Taurat ini.
Lama kemudian Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah ditambahkan kepada Kitab Taurat dan membentuk Kitab PL. Kapan tepatnya isi dari kitab-kitab PL ditentukan dan dianggap sudah lengkap, tidaklah diketahui dengan pasti. Yang jelas, setidaknya sejak lebih dari 100 tahun sebelum kelahiran Kristus, Kitab PL sudah ada seperti yang sekarang ini.
Bahasa awal Kitab PL adalah Bahasa Ibrani. Namun ketika orang Yahudi terusir dari Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani. Waktu itu, Bahasa Yunani merupakan bahasa internasional. Dari sinilah mulai dirasakan perlunya Kitab Suci berbahasa Yunani.