Jumat, 14 September 2018

MENGENAL KARAKTER ORANG ISLAM DALAM ALKITAB


Islam, Yahudi dan Kristen dikenal sebagai agama Samawi. Dari etimologinya, kata samawi (kata adjektif) memiliki arti “berhubungan dengan langit”. Jika ditambahkan dengan kata agama, menjadi agama samawi, maka dapat dimengerti sebagai agama dari langit. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa ketiga agama itu dibangun berdasarkan wahyu Allah melalui para malaikat (dari langit) dan diteruskan oleh para nabi.
Agama samawi dikenal juga dengan sebutan agama Abrahamik. Hal ini didasarkan pada peran Abraham (Islam: Ibrahim), sebagai bapak kaum beriman. Sebagaimana diketahui, Abraham dikenal sebagai orang yang memulai kepercayaan monoteistik. Dari dialah lahir keturunan anak-anak bangsa, yang kemudian dikenal sebagai penganut agama Islam, Yahudi dan Kristen.
Dari Kitab Kejadian, kita dapat mengetahui bahwa Abraham mempunyai dua orang putera dari dua wanita yang ada padanya. Dari Sarah, isterinya yang sah, Abraham mendapat Ishak, dan dari Hagar, budaknya, ia mendapat Ismail. Diketahui, Hagar berasal dari Mesir (Kej 16: 3).
Salah satu perdebatan yang tak pernah selesai antara orang Kristen dan Islam adalah siapa yang dipersembahkan Abraham di Bukit Moria. Dan ini menjadi sebuah lelucon anak cucu Abraham. Orang Islam mengatakan bahwa Ismail yang dipersembahkan, meski dasarnya sangat lemah. Sementara orang Kristen mengatakan Ishak-lah yang dipersembahkan, karena dia merupakan anak sah. Hanya orang Yahudi tidak mau masuk ke dalam perdebatan ini, karena mereka tahu bahwa yang dipersembahkan Abraham adalah seekor kambing.

Rabu, 12 September 2018

SIKAP TERHADAP TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Sering umat mengeluh terkait “aturan” liturgi yang berbeda-beda antar imam yang satu dengan yang lainnya. “Romo ini bilang begini, Romo lain bilang begitu,” demikian keluh umat. Menghadapi hal ini, tak jarang umat bingung: mana yang harus diikuti. Umat jadi serba salah, ibarat dimakan mati ibu, tak dimakan mati ayah. Kebingungan ini disebabkan karena umat menerima saja apa yang disampaikan oleh imam sebagai suatu kebenaran. Maka, ketika mendengar pernyataan imam lain, yang berbeda dari sebelumnya, umat seakan berada pada dua kebenaran.
Kebingungan ini sebenarnya bisa dihindari jikalau umat mau berpegang pada kebenaran umum, bukan kebenaran imamnya (meski sering terjadi, ketika menyampaikan itu, imamnya selalu mengatas-namakan kebenaran umum). Kebenaran umum itu ada pada pedoman yang dikeluarkan oleh otoritas Gerejawi. Terkait dengan liturgi, khususnya soal Ekaristi, ada Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR). Semua orang, imam atau awam, tunduk pada pedoman ini. Semua imam, pastor paroki atau pembantu, harus taat pada pedoman ini. Sangat menarik bahwa dalam pedoman ini ada himbauan agar “imam hendaknya mengutamakan kepentingan rohani umat. Janganlah memaksakan kesukaannya sendiri.” (no. 355).
Salah satu kebingungan yang dihadapi umat adalah soal sikap tubuh ketika, setelah kata-kata konsekrasi atas hosti, imam mengangkat hosti (Tubuh Kristus); demikian pula terhadap piala (Darah Kristus). Ada umat menundukkan kepala sambil kedua tangan terkatup diangkat ke atas lebih tinggi dari kepala. Ini merupakan sikap menyembah. Akan tetapi, ada imam menyalahkan sikap tersebut. Imam ini mengatakan bahwa ketika Tubuh Kristus dalam hosti diangkat, demikian juga piala (Darah Kristus), umat harus melihat atau memandang-Nya. Nah, atas dua sikap ini, mana yang benar?

Senin, 10 September 2018

MEMUPUK KASIH SAYANG DALAM KELUARGA

Ungkapan kasih sayang orangtua amat penting bagi perkembangan psikologis anak. Ini bisa menjadi bekal saat anak beranjak dewasa; dia akan memiliki kekuatan, harga diri dan kebahagiaan. Ada lima acuan dasar dalam mengungkapkan dan memahami kasih sayang antara anak dengan orangtua, yaitu sentuhan fisik, kata-kata menenangkan, waktu berkualitas, hadiah dan tindakan melayani.
Sentuhan fisik dapat diwujudkan dengan memeluk atau merangkul, membelai anak penuh kasih sayang atau menepuk pundaknya untuk memberi dukungan. Sentuhan fisik membuat relasi anak dan orangtua seakan dekat. Sementara kata-kata menenangkan terwujud dalam pujian atau permintaan maaf bila salah. Hendaknya orangtua tidak mengeluarkan kata-kata kasar dan keras kepada anak.
Waktu berkualitas berarti meluang waktu bersama keluarga dalam kebersamaan. Hal ini membuat anak merasa diperhatikan. Saat ini dapat dipakai untuk lebih saling mengenal, mendengarkan dan berbagi cerita. Orangtua jadi lebih memahami kondisi yang sedang dialami anaknya. Hadiah diberikan kepada anak atas prestasinya. Prestasi tidak sebatas prestasi bangku sekolah, tetapi perilaku, sikap dan kehidupan positif yang diperlihatkan anak. Hadiah tidak harus berwujud barang. Ucapan terima kasih, pujian dan memenuhi keinginan anak, sejauh masih dalam batas wajar, dapat menjadi bentuk hadiah.
Penanaman nilai kasih sayang dan perhatian satu sama lain merupakan wujud dari tindakan melayani. Penting juga bila tindakan melayani ini diwujudkan dengan semangat saling mendoakan. Ketika si kakak menganggu adik sehingga adik merasa kesal, tak salah jika orangtua mengajak adik untuk mendoakan si kakak. Demikian pula sebaliknya. Tindakan ini bertujuan menanamkan benih kasih, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Hal ini sejalan dengan nasehat Yesus agar orang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (Mat 5: 39, bdk 1Ptr 3: 9).
by: adrian